Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Manage Your Manager Part 10


Tittle                  : Manage Your Manager Part 10
Author               : DinDong
IG                       : @indeenski
Blog                   : dindongdeng.blogspot.com
Cast :
-EXO
-Shin Miran (OC)
Genre    : Brothership, Drama,  Romance
Part 9: disini
**
Saat ini Miran sedang terduduk di ruangan atasannya, Direktur Song. Entah alasan apa yang membuat Direktur paruh baya itu meminta Miran untuk menemuinya padahal saat ini gadis itu sedang sibuk dengan jadwal artis yang ia asuh, dan semua orang tahu bahwa Direktur Song merupakan orang yang sangat menjunjung tinggi profesionalitas hingga Miran sangat yakin bahwa hal yang akan mereka bahas adalah hal yang sangat penting.

“Shin Miran shii” panggil Direktur Song yang membuat Miran mengangkat kepalanya untuk menatap atasannya.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu saat ini?” tanya Direktur Song untuk membuka pembicaraan sambil menatap gadis bersurai coklat itu.

“Ohh, untuk saat ini semua berjalan dengan lancar dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan” Miran terseyum di sela-sela perkataannya, ia bersukur semua berjalan dengan baik dan member EXO juga dalam keadaan yang baik.

Baguslah jika memang begitu, aku khawatir kau mengalami masa-masa yang sulit saat mengurus anak-anak itu mengingat kau yang memiliki latar belakang sebagai mantan trainee SM, awalnya aku takut hal tersebut akan membuatmu merasa terbebani” ucap Direktur Song dengan penuh wibawa.

Trainee? Kenapa masalah ini selalu diungkit-ungkit? Tidak bisakah Miran menjalani harinya tanpa harus terbebani masalah dalam masa lalunya? Jujur saja gadis itu sudah merasa jengah dengan kalimat-kalimat yang menyangkut dengan masa lalunya terlebih lagi masalah trainee, lagi pula sebelumnya direktur Song tak pernah mempermasalahkan hal itu.


Sebenarnya apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, Direktur Song?” Miran memberanikan diri untuk bertanya karena ia tahu direktur yang sudah bekerja puLuhan tahun itu tak suka berbasa-basi seperti saat ini.

Pria paruh baya yang menggunakan setelan jas hitam itu membuang nafas pelan mendengar pertanyaan Miran, sejujurnya ia merasa resah dengan apa yang akan ia bicarakan dengan gadis muda itu.

“Miran, kau tahukan bahwa kau sudahku anggap seperti anakku sendiri?” tanya Direktur Song.

Iya, saya tahu” jawab  Miran cepat sebab gadis itu tahu bahwa Direktur Song memperlakukannya dengan sangat baik seperti anaknya sendiri karna pria paruh baya itu menganggap Miran adalah anak gadisnya yang sudah meninggal saat berusia 9 tahun. Ditambah lagi dengan persahabatan yang terjalin erat antara Ayahnya dan Direktur Song, Miran bahkan sangat mengenal keluarga dari salah satu jajaran direktur SM itu. Ketika masih kecil orang tua Miran sering mengajaknya untuk berkunjung kerumah direktur yang memiliki nama lengkap Song Jung Il tersebut sehingga tak heran jika Direktur Song menganggap Miran seperti anaknya sendiri.

“Aku ikut menyaksikan bagaimana kau tumbuh besar hingga menjadi gadis tangguh seperti saat ini, jujur saja aku sangat senang dapat melihat kau bangun dari keterpurukan dalam waktu yang singkat” direktur paruh baya itu mengangguk-anggukan kepalanya ketika mengingat kejadian yang sudah lalu.

Miran mendengarkan perkataan Direktur Song dalam diam, ia tak tahu harus memberikan respon seperti apa disaat situasi seperti ini.

Sekarang aku tanya padamu, apakah kau masih memendam keinginanmu untuk menjadi seorang idol?” Direktur Song menatap gadis dihadapannya itu dengan tatapan tulus seorang Ayah.

Menjadi idol?” Miran terhenyak untuk beberapa saat, pertanyaan yang bahkan tak pernah ia bayangkan akan terlontar dari atasannya tersebut.

“Direktur Song, apa maksud dari semua ini? kenapa kau bertanya padaku apakah aku masih ingin menjadi idol?” Miran menatap Direktur Song dengan pandangan bingung, ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang dikatakan atasannya itu.

Direktur Song tak menjawab pertanyaan Miran, ia justru menyodorkan sebuah tablet berwarna abu-abu pada gadis berambut bob itu. Miran menerima benda itu walaupun ia tak mengerti.

Coba kau putar video yang ada di sana” perintah atasannya itu pendek dan tanpa pikir panjang Miran melakukan perintah Direktur Song.

‘Annyeonghaseo’, mata Miran langsung membulat begitu mengetahui video apa yang sedang diputar olehnya.

Aku Shin Miran. Hari ini adalah hari ulang tahun temanku Yorin dan aku akan menghadiahkan sebuah lagu untuknya.’ Suara Miran remaja yang sedang bernyanyi menelusup di telinga gadis muda itu. Bagaimana mungkin Direktur Song bisa mendapatkan video ini? seingatnya kejadian itu di rekam 8 tahun silam di saat pesta ulang tahun sahabat sekolahnya.

Miran tak mampu berkata-kata, ia hanya mentap Direktur Song dengan tatapan tak percaya.

Video ini bagaimana Ajushii bisa...” Miran tak dapat melanjutkan kata-katanya, bahkan sepertinya gadis itu lupa jika ia masih berada di kantor sebab Miran berani memanggil atasannya dengan sebutan Ajushii padahal sebelumnya ia tak pernah melakukannya.

Video itu sedang mendapat banyak perhatian di internet” ucap Direktur Song menjawab keterkejutan Miran.

Di internet?” Miran merasa kepalanya berdenyut-denyut karna situasi yang begitu sulit di mengerti, bagaimana video remajanya bisa muncul di internet dan menjadi heboh seperti ini? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam otaknya.

Bacalah keterangan yang ada di bawah video itu” sekali lagi Miran mengikuti kata-kata dari sahabat ayahnya itu.

Mata Miran mulai menyusuri kalimat demi kalimat yang tertera di sana.

Sahabatku Shin Miran, gadis menyenangkan dengan berjuta talenta. Video ini direkam 8 tahun silam saat ulang tahunku yang ke 13 dan saat Miran masih mesnjadi trainee ^^. Apakah kau sudah debut sekarang? Aku sangat merindukanmu.

Video itu di unggah oleh teman sekolahmu Yoo Yorin, kurasa ia tak tahu kabar tentangmu sehingga mengunggah video itu” terang Direktur Song.

Ya! Miran ingat bahwa Yorin pindah ke London sehari setelah perayaan ulangtahunnya, sehingga tak heran jika temannya itu tak tahu apa yang terjadi pada kehidupan Miran setelahnya.

Lalu apa masalahanya?” tanya Miran pada Direktur Song.

Di sini sama sekali tak di jelaskan bahwa saya adalah trainee SM, jadi perusahaan tak perlu ambil pusing tentang semua itu” jelas Miran panjang lebar wajah gadis itu sudah tampak sedikit pucat.

Ya kau benar, tapi putarlah video itu hingga akhir dan kau akan mendengar seseorang menyebutkan nama perusahaan tempat kau menjalani latihan” Direktur Song meraih segelas kopi yang sejak tadi menghiasi meja di hadapannya untuk sekedar menghapuskan ketegangan di dalam ruangan itu.

Miran termenung sejenak, tak tahu harus berbuat apa.

Dan entah apakah ini bisa disebut berita baik atau tidak..” Direktur Song menghentikan kalimatnya sejenak dan memandang gadis berambut bob itu lekat-lekat.

Perusahaan kembali menawarimu kesempatan untuk debut” ucap Direktur Song penuh kehati-hatian, pria paruh baya itu mengamati perubahan ekspresi Miran yang mulai semakin menegang.


De-but? Aku?” Miran menunjuk dirinya sendiri. Hal ini sama seperti dulu saat ia mendapatkan kabar bahwa ia akan segera debut dan bagaikan memutar jarum yang ada dalam lingkran waktu, Miran kembali ke masa 7 tahun silam di titik yang sama namun dengan keadaan yang jauh berbeda.

Ajushii tak memaksamu untuk menjawabnya sekarang” Direktur Song berusaha menenangkan pikiran kacau Miran ia bahkan tak lagi bertindak sebagai seorang atasan namun sebagai seseorang yang sudah mengenal gadis itu sejak ia masih duduk di sekolah dasar.

Pikirkan semua hal dengan baik dan buktikan bahwa tak akan ada penyesalan terhadap apapun keputusan yang kau ambil.” Lanjutnya.

“Tapi Ajushii tahu jika aku....” gadis muda itu tak mampu untuk mengakhiri perkataannya terlalu suilt untuk berkata bahawa ada sebuah janji yang mengikatnya begitu kuat bahkan terkadang membuatnya sulit untuk bernafas.

“Ya, Ajushii tahu. Namun aku juga tahu bagaimana terpuruknya dirimu karna janji itu, bagaimana kau mengubur impianmu dan bersikap seolah kau baik-baik saja dihadapan semua orang” Direktur Song menatap nanar gadis dihadapannya.

“Aku hanya tak ingin melihat kau menangis sambil terus memanggil ayahmu ketika kau sendirian, kau pikir ayahmu akan bahagia jika melihatmu seperti itu?” pikiran Direktur Song kembali pada hari disaat ia tak sengaja melihat Miran menangis seorang diri di ruang latihan, jujur ia tak tega melihat sisi rapuh gadis itu, namun saat itu ia tahu bahwa tak ada yang bisa ia lakukan untuk menghibur Miran.

Direktur Song menatap Miran yang terlihat tertekan dengan apa yang barusaja terjadi padanya.

“Miran-ah, kumohon tenangkan dirimu” Direktur Song menyodorkan secangkir teh yang ada di hadapan gadis itu, berharap hal tersebut bisa meringankan sedikit pikirannya.

Miran menerima cangkir itu dan menguknya sedikit isinya sebelum kembali meletakanya di atas meja, bahkan dapat terlihat dengan jelas tangan gadis itu sedikit bergetar karna rasa tertekan yang menghinggapinya.

Tapi... EXO? EXO...” Miran mengumamkan nama boyband yang sekarang berada dalam asuhanya. Sebab kata debut untuknya juga berarti meninggalkan EXO dan segala hal yang berhubungan dengan mereka.

Kami akan menggantikanmu dengan manager lain untuk mengurus mereka, lebih baik sekarang kau pikirkan masak-masak tentang keputusan yang akan kau ambil” ucap Direktur Song meyakinkan Miran agar gadis itu tak perlu menghawatirkan apapun kecuali dirinya sendiri.

“Menyerahkan pada manager lain?” tanya Miran kembali seakan tak mengerti apa yang sudah dikatakan oleh Direktur Song seolah otaknya sudah begitu bebal untuk dapat memahaminya.

“Iya, mereka akan comeback dalam beberapa bulan dan aku akan menugaskan manager lain untuk mengatur semua keperluan comeback mereka. Tentu saja itu akan terjadi jika kau memutuskan untuk debut” jawab Direktur Song lembut.

EXO akan segera kembali dengan penampilan baru mereka dan Miran tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika ia tak disamping para oppanya itu, ia bahkan merasa mereka sudah terlalu bergantung padanya, Oh Tuhan!.

“Lebih baik kau memikirkannya mulai dari sekarang, karna perusahaan hanya memberimu waktu satu Minggu untuk mempertimbangannya”  perkataan Direktur Song membuat gadis muda dihadapanya kembali terdiam, Sungguh waktu yang begitu singkat untuk menentukan masa depan seseorang.

“Jika kau menerima tawaran itu, kau akan kembali dilatih oleh perusahaan dalam beberapa bulan dan kau akan debut sebagai girlband baru SM tahun depan, jadi pertimbangkan segala hal dengan baik”

**
Miran tertidur di sofa ruang tengah apartemen EXO dengan mata terpejam, kepalanya terus saja berdenyut sejak pembicaraannya dengan Direktur Song siang tadi. Gadis itu sudah menghubungi Manager Jung dan berkata bahwa merasa sedikit tidak enak badan sehingga tak bisa mengikuti kegiatan EXO untuk hari ini.

Aparteman EXO terasa begitu sunyi, tak ada suara ocehan-ocehan para member seperti biasanya karna mereka masih sibuk dengan rutinitas mereka diluar sana menjalankan schedule yang sudah Miran atur sejak beberapa hari yang lalu dan tentu saja kesunyian ini membuat Miran semakin tersiksa dengan pikirannya sendiri.

Gadis itu beranjak dari sofa perlahan dan berjalan gontai menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu dalam tas ransel hijau yang tadi dibawanya. ia duduk diatas tempat tidur empuknya dan perlahan membuka pengait tas tersebut. Tak butuh waktu lama untuk menemukan sebuah botol kecil yang sama dengan botol yang ia letakan dilaci sebelah tempat tidurnya itu, namun berbeda dari sebelumnya botol kecil yang ada di genggamannya itu berisi obat penenang sedang yang ada di laci adalah obat tidur.

Miran membutuhkan obat-obat itu untuk membantu pikirannya tetap tenang dan stabil, karna jujur saja gadis akan mudah merasa tertekan jika ada yang mengungkit ingatan masa lalunya terlalu dalam, sehingga pil-pil penenang berwarna coklat tersebut harus selalu ada di dekatnya. Tapi tentu saja tak ada satupun member EXO yang tahu akan hal ini sebab di hadapan mereka Miran akan berubah menjadi gadis ceria dan galak seolah hidupnya berjalan lancar dan normal.

Shin Miran mulai membuka botol itu dan mengambil dua buah pil berwarna coklat tua. Gadis itu menghela nafasanya berat sambil memandang pil-pil kecil yang ada dalam telapak tangannya malas.

“Kenapa seperti ini lagi?” gadis itu tersenyum tapi tampak jelas tatapan sedih dari kedua bola matanya. Wanita berambut bob itu mengingat pembicaraannya ketika ia berkonsultasi dengan dokternya satu minggu yang lalu. Dokter Go –dokter pribadi keluarga Shin- tampak senang melihat perkembangan Miran yang sudah mulai tak mengkonsumsi obat-obatan yang ia berikan selama 2 bulan terakhir, menurut wanita berusia 38 tahun itu Miran seperti ini karna ia merasa bahagia sehingga gadis muda itu mulai melupakan kejadian buruk dalam hidupnya dan tentu saja bisa ditebak hal itu dapat terjadi karna keduabelas namja yang mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang kadang diluar nalar, dan secara perlahan-lahan kehadiran mereka mulai mengubah diri Miran kearah yang lebih positif.


Tapi sekarang Miran merasa  seperti kembali di titik awal yang meneydihkan, karna ia harus kembali menelan obat-obatan itu. Sebenarnya ia muak dengan semua pil-pil itu namun jika ia tak menelannya gadis itu tak yakin apakah pikirannya masih bisa berfungsi dengan baik.

Miran bangkit dari tepat tidurnya dan berjalan keluar melewati pintu untuk menuju dapur tempat biasa ia memasak atau sekedar menyiapkan makanan dan minuman untuk oppa-oppanya itu, ia mengambil sebotol air mineral dari kulkas lalu tanpa pikir panjang ia langsung menelan pil yang ada dalam genggamannya dan meminum air mineral guna menorong pil-pil itu masuk kedalam pencernaannya.

Gadis muda itu terdiam sejenak dengan mata bulatnya yang mulai menjelajahi setiap sudut apartemen tanpa cela sedikitpun seolah takut jika ada hal kecil yang ia lewatkan. Masih jelas dalam ingatannya seperti apa hari pertama ia tinggal di dorm ini sekitar 5 bulan yang lalu, ia ingat ketika D.O yang saat itu menggunakan kaos hitam kesukaannya menawarkan bantuan untuk membuat sarapan, atau kebiasan gadis itu berteriak di pagi hari untuk membangunkan member-member malas yang tak mau lepas di kasur empuk mereka. Mengingat itu semua membuat sebuah senyum tipis menghinggapi wajah cantik wanita muda itu, namun sayang tak lama senyum itu memudar. Jujur saja waktu yang ia habiskan bersama EXO masih terasa begitu singkat untuknya, sangat singkat.
Jadi sekarang apa yang harus ia lakukan? Tetap bersama EXO atau justru meninggalkan mereka? Entahlah ia bingung. Bingung dengan apa yang harus ia pilih, bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

‘drett...dreettt...’ Miran mengalihkan pandangannya pada meja yang ada di ruang tengah, ia melihat ponselnya menyala tanda ada pesan masuk untuknya.

‘Kau sakit? Apakah parah? Apa sebaiknya kami pulang untuk menjagamu?’ Miran membaca pesan yang dikirim oleh Suho untuknya.

‘Hah! Kenapa kalian bersikap seperti ini?’ batin gadis itu saat tahu betapa khawatirnya EXO padanya, yang justru membuatnya semakin merasa sedih.

‘Aku hanya merasa sedikit pusing, jadi kalian tak perlu khawatir.
Dan jangan pernah berfikir kalian bisa lari dari pekerjaan kalian!’
Miran menatap nanar pesan balasan yang baru saja ia kirim pada leader EXO tersebut. Isi pesan yang tersirat bahwa ia baik-baik saja dan sedikit mengancam untuk menunjukan bahwa mereka tak perlu khawatir akan dirinya.

Shin Miran meletakan ponselnya kembali diatas meja dan menatap sebuah foto berukuran besar yang menggambarkan 12 member EXO yang baru saja debut tahun lalu.

“Kenapa kalian menghawatirkanku?” tanya Miran menatap satu persatu wajah member dalam foto itu, memandang mereka dalam waktu yang cukup lama.

“Jangan seperti ini, aku tak pantas mendapatkan kebaikan dari kalian” Miran menundukkan kepalanya sedih. Namun tiba-tiba gadis bermata bulat itu merasa pusing dikepalannya semakin menjadi, Miran meremas kepalanya untuk mengurangi sakit yang ia rasakan. Memang selalu seperti ini jika Miran sedang merasa stres yang amat sangat, ia akan merasakan sakit pada bagian kepala sehingga ia harus beristirahat total jika sampai hal itu terjadi.

Miran berjalan menuju kamarnya kembali sambil terus memengangi kepalanya, gadis itu perlahan merebahkan diri di kasur untuk mengistirhatkan tubuhnya dan berharap pikirannya juga bisa ikut beristirahat.
**

EXO tiba di dorm ketika senja sudah mulai berganti dengan malam, sebenarnya jadwal keduabelas namja itu belum selesai namun beruntung karna syuting iklan yang dibatalkan sehingga mereka bisa pulang lebih awal untuk menemui manager cantik mereka yang sedang sakit.

“Ayolah Hyung cepat buka pintunya!” seru Chen pada Kris yang duduk di dekat pintu mobil begitu van berhenti di tempat parkir apartemen.

“Iya cepatlah Ge! Aku khawatir jika gadis itu pingsan atau apa karna ia sama sekali tak menjawab telfon dari kita sejak tadi!” seru Tao pada leadernya, dan tanpa buang waktu dengan cepat Kris membuka pintu itu lalu melompat keluar dari mobil dan diikuti satu persatu member Sub M.

“Mana yang lain?” tanya Luhan pada Chen saat tak melihat member EXO K.

“Entahlah,  lebih baik kita segera melihat keadaan Miran” seru Chen lalu berjalan cepat memasuki lobi apartemen.

“Apa menurutmu dia baik-baik saja?” tanya Kris pada Xiumin yang berjalan disampingnya.

“Aku juga tidak tahu apakah ia baik-baik saja atau tidak. Tapi sepetinya kemarin dia terlihat baik” jawab Xiumin sambil menyelaraskan langkahnya agar tak tertiggal oleh yang lain.

“Bahkan tadi pagi ia juga terlihat sehat” Lay ingat betul jika tadi pagi Miran masih terlihat begitu ceria.

“Lalu kenapa ia tiba-tiba seperti ini?” tanya Luhan pada rekan-rekanya.

“Hey ayo cepatlah!!” sesorang berteriak dari dalam lift yang terbuka pada member EXO M.

“Itu mereka, ayo cepat!” Chen berseru ketika melihat yang memanggil mereka adalah Kai dan member lainnya yang sedang menahan lift agar tetap terbuka.
**

“Miran kau baik-baik saja?” tanya D.O yang sudah terduduk di samping tempat tidur satu-satunya gadis penghuni dorm itu.

Miran yang sedang teridur membuka matanya perlahan begitu mendengar seseorang memanggil namannya. Gadis itu melihat 12 namja sedang merubunginya dengan wajah cemas yang tak bisa mereka sembunyikan.

“Kenapa kau bisa sakit?” tanya Chanyeol begitu melihat Miran tersadar.

“Apa kita perlu memanggil dokter?” tanya Baekhyun dengan wajah polosnya.

“Apa kau sudah minum obat?” tanya Suho tak kalah kahwatir.

“Kau sudah makan? Apa kau ingin makan sesuatu?” suara Chen menelusup pendengaran gadis muda itu. Miran tersenyum lemah, semua pertanyaan yang diajukan oleh EXO hanya ia jawab dengan sebuah senyum tipis di bibirnya.

“Aku baik-baik saja, bukankah sudah kukatakan kalian tak perlu khawatir pada keadaanku” jawab Miran kemudian.

“Tapi kau terlihat begitu pucat” seru Kai tak terima dengan jawaban Miran yang sangat tidak sesuai dengan keadaan gadis itu.

Miran mendesah pelan ia tahu wajahnya sudah terlihat pucat sejak ia berbicara dengan Direktur Song siang tadi, dan sayangnya ia tak bisa menyembunyikannya dari para member.

“Aku hanya perlu istirahat karna sedikit pusing saja” gadis itu berusaha meyakinkan namja-namja di hadapannya.

“Kau yakin tak perluku panggilkan dokter?” tanya Baekhyun untuk kedua kalinya.

“Tidak perlu, aku sudah minum obat tadi” Miran menolak tawaran Baekhyun halus.

“Baikalah jika itu maumu, lebih baik sekarang kau kembali beristirahat” ujar Lay yang berdiri di samping Sehun lembut.

“Iya beristirahatlah dan kami akan membuatkan makan malam untukmu” ujar D.O kemuadian menarik selimut Miran untuk menutupi tubuh mungil gadis itu agar terasa lebih hangat.

Miran mengangguk pelan dan kembali memejamkan matanya. Samar-samar Miran mendengar para namja itu keluar dari kamarnya lalu menutup pintu, begitu yakin tak ada lagi orang lain dikamar tersebut gadis tersebut kembali membuka matanya dan menatap dinding kosong dihadapannya.

“Maaf, aku rasa aku tak sanggup untuk menceritakan ini pada kalian, aku juga tak mengerti kenapa keadaannya menjadi rumit seperti sekarang, mian oppa” gumam gadis itu lirih.
**

“Miran kau harus makan yang banyak agar cepat sembuh!” ujar Sehun frustasi saat melihat gadis di hadapannya yang terlihat tidak selera makan.

“Jangan memarahinya begitu dia sedang sakit!” Xiumin menjitak kepala Sehun pelan dan duduk di sebelah namja yang merupakan maknae EXO itu.

“Siapa yang tidak gemas jika ia makan begitu lambat” Sehun bergumam pada dirinya sendiri.

“Miran apa buburnya terasa tidak enak?” tanya D.O yang meletakan telur gulung yang baru selesai ia masak diantara makanan pelengkap lainnya yang ada di atas meja.

“Ini enak, hanya saja aku sedang tidak nafsu makan” jawab Miran lemah.

“Ck! Walaupun kau tak nafsu makan kau tetap harus tetap mengisi perutmu itu!” Sehun kembali memarahi gadis yang menggunakan baju tidurnya itu.

“YAK! Berhenti memarahinya Oh Sehun! Mana bisa ia makan jika kau terus memarahinya seperti ini?!” Kai yang sejak tadi duduk di sebelah Miran akhirnya angkat bicara karena kelakuan Sehun itu.

“Saat kau sedang sakit apa kau akan senang jika dimarahi seperti itu?” tanya D.O yang masih berdiri di tempatnya.

“Akukan melakukannya untuk kebaikan Miran, aku ingin dongsaengku cepat sembuh! itu saja!” Sehun tak terima jika ia terus di salahkan.

“Sudahlah, kenapa sekarang kalian malah bertengkar?” Baekhyun yang sedang menonton tv merasa terganggu dengan pertengkaran yang terjadi di mini bar EXO.

“Benar, berhentilah mengganggu Miran dan biarkan dia makan dengan tenang!” ujar Chen gemas karena kelakuan teman-temannya itu.

“Ckck! Kenapa ribut sekali?” Luhan yang baru saja selesai mandi menghampiri keramaian yang disebabkan member-membernya. Namja bermata indah itu mengambil posisi di sebelah Miran yang kosong.

“Hay Nona Shin.. kenapa kau tak nafsu makan? Apa kau ingin makan makanan yang lain?” tanya Luhan lembut.

“Tidak, aku tidak ingin makan apaun sekarang” jawab Miran kembali ngaduk-aduk buburnya.

“Kau tahu, kau akan semakin sakit jika tidak makan, tubuh kurusmu akan semakin kurus dan kau akan terlihat jelek seperti nenek-nenek tua” ujar Luhan menakut-nakuti seperti ia sedang bicara pada anak berumur 7 tahun.

“Memangnya ada nenek-nenek muda?” celetuk Kai  malas melihat kelakuan Gegenya itu.

“Haiiss anak ini!” Luhan memandang Kai tajam dan namja berulit tan itu langsung membuang muka.

Miran yang menyasikan pertengkaran itu hanya bisa tersenyum dalam sedih, Gadis itu tak mengira bahwa EXO begitu menyayanginya seperti ini.

“Berhentilah bertengkar” ujar Miran lirih.

“Jika kau tak ingin kami bertengkar, maka makanlah makananmu” ujar Xiumin lalu mengambil seiris telur dan meletakannya di atas sendok Miran.

Miran menyuapkan makanannya kedalam mulut dan mengunyahnya pelan.

“Kalian tidak makan?” tanya Miran pada segerombolan namja yang begitu sibuk mengamatinya.

“Kami baru akan makan setelah kau selesai makan” ujar Chen yang berjalan beriringan dengan Baekhyun menghampiri yang lain.

“Iyap, kau tak perlu mengkhawatirkan kami. Kami bisa mengurus diri kami sendiri” ujar Baekhyun dengan sebuah senyum dibibirnya yang membuat namja itu semakin terlihat cute.

“Kalian bisa mengurusnya sendiri?” ujar Miran mengulangi perkataan Baekhyun, perkataan itu sebenarnya biasa tapi saat ini kata-kata itu bagi Miran memiliki arti bahwa mereka tak membutuhkan Miran.

“Tentu saja, kami inikan para namja yang sudah dewasa” ujar Luhan bangga.

Miran menghela nafasnya berat dan kembali menyuapkan buburnya.

‘Ya, mereka sudah dewasa... mereka bisa melakukannya sendiri, jadi apa benar-benar tidak apa jika aku meninggalkan mereka. Tapi mengapa aku merasa sedih saat mereka berkata bisa mengurusnya sendiri, apa mereka tak lagi membutuhkanku?’ batin Miran, gadis muda itu berusaha menelan buburnya dengan susah payah karna perasaannya yang begitu sesak di dalam dada. Namun ia tak henti menyuapkan bubur abalone dan makanan yang dimasakan D.O untuknya kedalam mulut terus menerus, ia bahkan tersedak karna perbuatannya, sebenarnya gadis itu melakukannya untuk mentupi rasa sedihnya terlebih Baekhyun berkata bahwa EXO baru akan makan setelah Miran menyelesaikan makannya dan gadis itu merasa jika saat ini ia hanya menjadi beban untuk kakak-kakaknya itu.

“Miran, kau tak perlu makan seperti itu” ujar D.O yang tak tega melihat Miran yang terbatuk-batuk namun tetap terus menerus menguapkan bubur yang ia sajikan tanpa henti hingga mulut gadis itu penuh.

“Hey! Pelan-pelan saja Miran-ah! Kau bisa tersedak lagi” Kai yang juga terkejut dengan kelakuan Miran berusaha menghentikan gadis itu dengan menahan lengan tangannya namun dengan cepat Miran menapisnya dan kembali menyuapkan buburnya kedalam mulut. Dan tentu saja hal itu membuat para member semakin panik dan berusaha menghentikan Miran.

“Yak! Bukankah tadi kau bilang tak nafsu makan! Perutmu bisa sakit nanti!” Xiumin bingung mengapa gadis bermata bulat itu bertingkah sangat aneh hari ini.

“Ada apa?” Tanya Lay yang baru keluar dari kamarnya bingung melihat wajah panik membernya.

“Miran memakan buburnya Hyung!” teriak Baekhyun dengan wajah cemasnya.

“Lalu apa yang salah?” tanya Lay lagi yang sekarang sudah ada di samping Baekhyun.

“Lihat lah bagaimana cara ia makan!” ujar Baekhyun khawatir.

“YAK! SHIN MIRAN!” ujar Lay terkejut melihat Miran yang memasukan makanan kedalam mulutnya seoalah ia tak pernah makan berpuluh-puluh bulan.

“SHIN MIRAN KAU GILA?! HENTIKAN SEKARANG JUGA!” teriak Lay marah dengan kelakuan Miran itu, teriakan Lay itu membuat semua member terdiam. Luhan bahkan sempat terkejut karna ia tak menyangka namja berlesung pipi itu akan berteriak. Bahkan Miran-pun sempat terhenyak karnanya, namun tak lama gadis itu kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya.

“Hyung, kau tak perlu berteriak seperti itu” ujar Sehun pada Lay, namja itu merasa bersalah sebab tadi ia yang memaksa Miran untuk segera memakan makanannya, namun ia tak menyangka justru jadi begini.

“SHIN MIRAN! HENTIKAN!” Lay sama sekali tak mendengarkan apa yang dikatakan Sehun dan tetap berteriak pada managernya, tak cukup sampai disana Lay bahkan menarik tangan gadis itu dengan cepat hingga sendok ditangan Miran terlepas. Namja itu segera menghadapakan Miran untuk menatapnya akan tetapi Miran tetap menundukan kepalanya, gadis itu bahkan tak lagi mampu menguanyah atau menelan makanan yang ada di mulutnya, bahkan rasanya makanan yang ia telan jurstru mendesak ingin keluar namun itu tak ia rasakan karna perasaaan sedih di hatinya. Miran hanya biasa tertunduk dan menatap lantai dengan pandangan sedih. Namun tak lama sepasang tangan yang tertangkup mengulur ke arahnya, sehingga mau tak mau Miran mengangkat kepalanya untuk melihat pemilik tangan itu.

“Muntahkan sekarang juga!” ujar Lay tegas, namja itu sengaja menangkupkan tangannya untuk Miran, sedang Miran hanya menatap Lay tak percaya dengan apa yang dilakukannya begitu juga yang lain. Namja berlesung pipi itu meminta Miran memuntahkan makanannya pada tangkupan tangannya.

“Hyung...” gumam D.O tanpa sadar saat melihat bagaimana Lay meminta Miran memuntahkan makanannya pada tangan namja yang lebih tua darinya itu, D.O sendiri mungkin tak sanggup melakukannya, namun lebih dari itu ada sesuatu yang membuat D.O langsung terdiam saat melihat wajah Lay.

“Kubilang muntahkan” ujar Lay sekali lagi dengan nada yang lebih lembut, namun Miran justru menggelengkan kepalanya pelan dengan mata berkaca-kaca.

“Perutmu bisa sakit jika kau makan sebanyak itu, ayo keluarkan” ujar Lay sekali lagi dengan nada selembut beludru dan justru membuat Miran meneteskan airmatanya.

“Miran-ah! Tebak siapa yang membeli pudang vanila?!” teriak Chanyeol dengan wajah cerianya. Ia dan Suho yang baru saja kembali dari minimarket terhenyak saat mendapati suasana canggung di dorm mereka.

“Miran ada apa denganmu?” tanya Suho yang terkejut melihat keadaan Miran, pipi yang menggembung penuh makanan dan mata yang basah karna air mata. Chanyeol bahkan meninggalkan belanjaannya begitu saja dan segera berlari ke arah Miran.

“Kau? Ada apa denganmu?” tanya Chanyeol khawatir. Sementara Suho menatap satu-persatu personil EXO yang ada disana untuk meminta penjelasan pada rekan-rekannya.

“Chanyeol bisa kau bantu Miran pergi ketoliet?” tanya Xiumin dengan tatapan memohon.

“Ne!” jawab Chanyeol cepat dan segera membantu Miran berdiri, gadis itu perlahan-lahan berjalan menuju toilet dibantu Chanyeol yang merangkulnya agar tubuhnya tak merosot jatuh ke lantai.

“Apa yang sebenarnya terjadi saat aku pergi?” tanya Suho tajam pada rekan satu timnya.

“Entahlah! Tanya saja pada Lay Hyung!” jawab Kai ketus dan pergi begitu saja meninggalkan yang lain.

“Apa yang sebenarnya terjadi Lay?” tanya Suho sambil menepuk bahu namja belesung pipi yang sedang menggunakan kaos lengan buntung berwarna biru pupus.
**

“Hoek! Hoek!” Miran memuntahkan segala hal yang tadi sempat ia makan, sedang Chanyeol masih setia menepuk-nepuk punggung gadis muda itu berharap hal itu bisa membantu.

“Apa ia baik-baik saja?” tanya Kai yang melihat keduanya dari ambang pintu. Pertanyaan main dancer EXO itu hanya dijawab dengan gelengan pelan Chanyeol.

“Hah! Seharusnya Lay Hyung tak perlu bersikap seperti itu” gumam Kai namun masih dapat di dengar dengan jelas oleh Miran.

“Kau sudah lebih baik?” tanya Chanyeol begitu sadar Miran perlahan bangkit bediri.

“Eom, aku sudah lebih baik” jawabnya pelan lalu dengan cekatan Chanyeol membantu gadis itu berjalan menuju kamarnya dan Kai membuntuti dari belakang.

“Akan aku ambilkan air untukmu” ujar Kai dan bergegas berjalan menuju dapur.

“Kembalilah beristirahat” ujar Chen saat gadis itu melewati gerombolan EXO yang sekarang sedang berkumpul di ruang tengah. Namun gadis itu hanya terdiam bahkan ia tak berani menatap para member yang terlihat begitu khawatir.
**

“Dia sudah tidur?” tanya Suho ketika melihat Chanyeol dan Kai keluar dari kamar Miran.

“Ya, dia sudah tidur” jawab Chanyeol sambil melepaskan snapback hitam yang sejak tadi ia gunakan.

“Haahh! Sebenarnya ada apa dengan gadis itu... sikapnya begitu aneh hari ini” Sehun menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.

“Entahlah, ia juga tak mengatakan apapun saat aku bertanya padanya” Chanyeol mendudukan diri di karpet bermotif srigala yang ada di ruang tengah itu.

“Mungkin ia bersikap seperti itu karna sedang sakit” Luhan menatap member lainya berusaha mencari alasan logis atas sikap aneh Miran.

“Ck! Gadis itu benar-benar membuatku khawatir!” keluh Baekhyun frustasi dengan keadaan managernya.

“Hyung.. kau baik-baik saja?” tanya D.O pada Lay yang duduk dikarpet dengan bersandar pada sofa, namja yang berasal dari cina itu sejak tadi masih terdiam.

“Aku baik-baik saja” jawab Lay dengan wajah datar sementara Kai yang duduk di sebelah D.O masih menatap Lay dengan tajam. Namja itu bukan marah karena Lay yang berteriak pada Miran sebab Kai tahu jika Hyungnya melakukannya karna ia benar-benar tak tega melihat gadis dengan wajah yang masih terlihat pucat itu menyakiti dirinya sendiri. Yang membuat Kai marah adalah ketika ia melihat bagaimana Lay memeperlakukan Miran seperti tadi, bagaimana namja bernama lengkap Zang Yixing itu merelakan tangannya tanpa ada tatapan jijik sedikitpun, wajah namja itu bahkan terlihat sangat khawatir. Dan Kai benci itu.

“Hah! Kenapa mereka lama sekali?” tanya Baekhyun karna mulai bosan menunggu Kris dan Tao yang sedang membeli makanan di dekat dorm mereka.

“Entahlah, aku juga sudah mulai lapar” keluh Xiumin sambil merebahkan diri di karpet berwarna abu-abu tersebut, sungguh hari ini terasa berjalan amat lambat untuknya.
**
Jam masih menujukan pukul 5 pagi namun Sehun sudah terbangun dari tidurnya, namja berkaki jenjang itu berjalan gontai menuju kamar Miran untuk mengecek keadaan sang manager. Sedikit aneh memang melihat makane EXO itu bangun di pagi hari, karna bisa dikatakan ia termasuk dalam daftar member yang sulit untuk dibangunkan, namun jika kau khawatir pada seseorang yang kau suka maka bisa dipastikan tidurmu tak akan terasa nyeyak  dan begitu juga Oh Sehun. Namja itu terus memikirkan keadaan Miran sepanjang malam, ia sangat khawatir tapi takut untuk menunjukan perasaannya oleh sebab itu ia ingin melihat Miran di saat yang lain masih terlelap  dalam tidurnya, dan semoga gadis itu juga masih terjaga dalam tidurnya sehingga ia tak perlu takut menujukan isi hatinya.

“Semoga ia masih tidur” gumam Sehun tepat di didepan pintu kamar gadis berambut bob itu.

‘Ngeeekkk’ perlahan Sehun membuka pintu yang menjadi pembatas kamar tersebut dan berjalan mengendap-endap menuju tempat tidur Miran.

“Dimana dia?” Sehun mengerutkan alisnya saat tak melihat Miran yang seharusnya masih terlelap di atas tempat tidurnya, terlebih tempat tidur itu sudah terlihat begitu rapi.

“Miran-ah..” panggil Sehun dengan nada pelan, dan sayangnya tak ada jawaban.

“Apa dia ada di kamar mandi?” tanya Sehun pada dirinya sendiri.

“Miran, kau di dalam?” Sehun mengetuk pintu kamar mandi itu pelan namun tetap tak ada jawaban.

“Miran...”

“Jika kau tak menjawab aku akan membuka pintunya” ujar Sehun lagi dan perlahan namja itu memutar knop pintu, namun yang ia temukan hanya ruangan kosong.

“Kemana gadis itu?” Sehun mulai sedikit panik karna tak menemukan sang manager di kamarnya, namja berkulit putih itu segera berjalan keluar kamar berharap ia bisa menemukan Miran di dapur atau di rung lain.

“Miran-ah! Kau dimana?” Sehun mengeraskan suaranya dan berjalan untuk menyalakan lampu di setiap ruangan.

“Miran-ah! Shin Miran!” kembali Sehun memanggil, namun tetap tak ada jawaban.

“YAK! Kenapa kau berteriak di pagi buta seperti ini!” Kris keluar dari kamarnya dan menatap Sehun sebal.

“Miran tak ada di mana-mana Hyung! Aku takut terjadi sesuatu padanya!” keluh Sehun frustasi.

“Dia tak ada di kamarnya?” Kris mengerutkan dahinya mendengar laporan Sehun itu.

“Dia tak ada di kamar, tak ada ditolet, dapur, ruang tengah atau dimanapun!” Sehun memijat pelipisnya pelan.

“Yak! Ada apa ini?” tanya Luhan dengan wajah yang terlihat masih mengantuk.

“Shin Miran hilang!” jawab Kris cepat.

“Apa?!” seketika kesadaran namja yang akrab dengan panggilan rusa itu kembali.

“Apa maksudmu dengan ‘hilang’?” Luhan menatap Sehun dan Kris secara bergantian.

“Ia tak ada di mana-mana, ia tak ada di dorm ini” Kris menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata hilang.

“Tapi diakan sedang sakit” ujar Luhan dengan wajah khawatir.

“Itulah yang aku khawatirkan” Sehun mengigit bibirnya bingung.

“Sudah kau coba telfon ponselnya?” tanya Luhan pada kedua namja bertubuh tinggi itu.

“Aku belum mencobanya” ujar Sehun.

“Sebentar aku ambil ponselku” dengan cepat Luhan kembali masuk dalam kamarnya dan keluar dengan membawa ponsel yang sudah tertempel di telinga.

“Ponselnya mati” ujar Luhan dan menatap pasrah Kris dan Sehun.

“Ah! Dimana gadis itu!” Seru Kris yang sekarang sudah duduk di sofa.

“Mungkin ia sedang keluar sebentar” Luhan berusaha menenangkan situasi.

“Hay, tidakkah ini terlalu pagi untuk membuat kebisingan?” Suho dan Baekhyun keluar dari kamar mereka ketika mendengar keramaian di ruang tengah.

“Kalian ini sedang apa sih?” Chen juga keluar menampakan batang hidungnya.

“Miran tidak ada di dorm” jelas Luhan ada para member yang terbangun karna kebisingan yang terjadi.

“Dia pergi kemana?” tanya Suho yang sudah mengambil posisi di sebelaah kris, namja yang menggunakan kaus putih dan celana panjang bermotif micky itu terlihat seperti orang yang barusaja menghadapi badai topan karna rambutnya yang begitu berantakan.

“Entahlah ponselnya tidak aktif” Sehun menyilangkan tanganya di depan dada berfikir keras.

“Kita tunggu saja dulu, mungkin dia sedang keluar sebentar” ujar Suho  berusaha menenangkan membernya. Kata-katanya sama seperti yang dikatakan Luhan beberapa saat lalu.

“Tapi dia sedang sakit Hyung! Dan untuk apa dia keluar pagi-pagi buta begini?” Baekhyun melayangkan protesnya.

“iya, Baekhyun benar kita tidak bisa menunggu. Lebih baik kita mencarinya disekitar sini” Kris menyampaikan ide yang ada dalam otaknya.

“Aku setuju, setidaknya itu lebih baik dari pada berdiam diri, terlebih di luar masih gelap jadi kurasa aman jika kita pergi untuk mencarinya” jelas Chen, namja itu berfikir akan terlalu berbahaya jika mereka menunggu dan ternyata Miran tak kembali hingga pagi, karna akan sulit bagi mereka untuk mencarinya jika ada banyak orang yang mengenal EXO.

“Baiklah jika itu dirasa lebih baik, maka ayo bangunkan yang lain agar bisa ikut mencari” ujar Suho pada yang lain.
**
“SHIN MIRAN!!” teriak namja bertopi hitam sambil sedikit berlari-lari kecil.

“SHIN MIRAN! KAU DIMANA?” teriaknya lagi dan lagi dengan wajah frustasi.

“Kai kau menemukannya?” tanya Tao pada namja bertopi hitam itu.

Kai menggeleng pelan, dia benar-benar bingung kemana gadis itu pergi di pagi buta seperti ini.

“Ia juga tak ada di toko sekitar sini” Tao membungkuk dengan dengan menopangkan kedua tangannya pada lutut, berlari-lari kesana kemari sejak tetengah jam yang lalu cukup untuk menguras energinya.

‘drett.. dreettt...’ Kai merasa ponselnya bergetar dalam saku dan tak lama ponsel Tao juga berbunyi.

“Pesan dari Xiumin Hyung?” tanya Tao pada Kai, memastikan bahwa mereka mendapatkan pesan dari orang yang sama.

“Ya” jawab Kai tanpa mengalihkan padangannya dari ponsel.

‘Lebih baik kalian kembali ke dorm, kurasa Miran tak ada di sekitar sini sepertinya ia pergi dengan mobil, sebab kunci mobil juga tak ada di tempatnya dan aku sudah mengecekya di tempat parkir’
***
TBC.
Hope you like this part ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Anonim mengatakan...

I LIKE IT I LIKE IT SOOOOOO MUCH!!! eonni ayooo lanjut secepatnya ya biar dongsaengmu ini nggak penasaran. miran bakal jadi apa?? kyaaaaa excited banget mudah2an dia jadi debut aja deh biar bisa icikiwir (?) sama exo exo i'll give you exo exo! pokoknya aku nunggu banget kelanjutan ini, awas aja kalo nggak lanjut aku majuin kyuzizi tau rasa =_=