Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Manage Your Manager Part 11



Author               : DinDong
twitter               : @indeenski
Blog                   : dindongdeng.blogspot.com
Cast :
-EXO
-Shin Miran (OC)
Genre    : Brothership, Drama,  Romance
 WARNING! Part ini panjang banget! Happy reading all :* maaf hiatus *bow*
Yang sudah lupa karna authornya kelamaan hiatus ini link part sebelumnya:part 10

*************
“SHIN MIRAN!!” teriak namja bertopi hitam sambil sedikit berlari-lari kecil.

“SHIN MIRAN! KAU DIMANA?” teriaknya lagi dan lagi dengan wajah frustasi.

“Kai kau menemukannya?” tanya Tao pada namja bertopi hitam itu yang kini sudah berdiri tak jauh darinya.

Kai menggeleng pelan, dia benar-benar bingung kemana gadis itu pergi di pagi buta seperti ini.

“Ia juga tak ada di toko sekitar sini” Tao membungkuk dengan dengan menopangkan kedua tangannya pada lutut, berlari-lari kesana kemari sejak setengah jam yang lalu cukup untuk menguras energinya.

Drett.. dreettt...’ Kai merasa ponselnya bergetar dalam saku dan tak lama ponsel Tao juga berbunyi.

“Pesan dari Xiumin Hyung?” tanya Tao pada Kai, memastikan bahwa mereka mendapatkan pesan dari orang yang sama.

“Ya” jawab Kai tanpa mengalihkan padangannya dari ponsel.

‘Lebih baik kalian kembali ke dorm, kurasa Miran tak ada di sekitar sini sepertinya ia pergi dengan mobil sebab kunci mobil juga tak ada di tempatnya dan aku sudah mengecekya di tempat parkir’

**

Ini semua salahmu! Kaulah yang menyebabkan ayah meninggal!” Miran memaki seorang gadis di hadapannya, sedang gadis itu sudah setengah bersujud meminta Miran untuk berhenti menyalahkannya.

Aku mohon hentikan!” teriaknya memohon, tangan gadis itu mulai bergetar.

Hentikan?! Kau telah menghancurkann hidupku dan kau menyuruhku untuk berhenti?!” Miran menatap nyalang gadis itu, amarannya sudah tak bisa di hentikan lagi.

Maafkan aku... aku bersalah...” ucapnya dengan begitu lirih nyaris tak terdengar, airmatanya sudah tak terbendung lagi dan ia terlihat begitu ketakutan.

Aku benar-benar minta maaf..” gadis itu memegang kaki Miran bertimpu memohon.

Hah! Kau fikir dengan meminta maaf ayahku akan hidup kembali?!” Miran melipat kedua tangannya di depan dada.

Lepaskan tangan menjijikamu itu dari kakiku! Beraninya kau menyentuhku gadis bodoh!” bentak Miran lagi dan lagi seolah gadis berambut bob itu tak pernah mengenal belas kasih.

Aku mohon maafkan aku!” isak gadis yang sejak tadi dimakinya.

Berhenti memohon padaku Shin Miran!” kembali Miran membentak dirinya sendiri.

Ya. Saat ini sedang berhadapan dua orang gadis dengan wajah sama namun terlihat begitu berbeda yaitu Shin Miran yang sedang berusaha meminta belas kasih pada dirinya sendiri dan sosok Miran lain yang tak berbelas kasih sama sekali.

Hentikan rengekanmu yang memuakkan itu!” bayangan Miran berlutut menyetarakan tingginya dengan Miran yang meringkuk di tanah.

Tangisan menjijikanmu itu tak ada gunanya sama sekali” bisiknya lirih dengan tangan yang sibuk merapikan rambut gadis yang ada di hadapannya.

Karna ayahku yang sudah kau bunuh itu tak akan pernah bisa hidup lagi” ucapnya tajam dengan rahan terkatup rapat.

Tangis Miran semakin tak tertahan mendengar bayangan gelapnya mengatakan bahwa ia adalah pembunuh ayahnya sendiri.

Hah.. apa dengan airmata itu namja-namjamu akan datang menolong?” bayangan Miran menatapnya dengan pandangan mengejek. Sementara Miran masih tetap terdiam meringkuk di tanah.

Mereka tak membutuhkanmu Miran sayang..” bayangan Miran mengangkat dagu Miran agar menatapnya. Wajah gadis itu sudah terlihat begitu pucat dan basah karna airmata yang terus mengalir.

Tak ada yang memperdulikanmu disini!” pukulan telak ia berikan pada Miran.

Karna kau hanya akan membuat sakit orang-orang disekitarmu!”

Tidak! Mereka perduli padaku!” teriak Miran menyakinkan bayangannya bahwa perkataannya adalah salah.

Ohh benarkah?” tantang bayangan gadis itu.

Kau yakin mereka masih akan perduli pada gadis yang akan meninggalakan mereka?” bayangan Miran menyeringai membuat mental Miran semakin jatuh.

Mereka... mereka...”

Kau bahkan tak mampu menjawabnyakan?”

Ckck gadis menyedihkan!” ejek bayangan itu lagi.

Dasar pembunuh!” lanjutnya dan mencekik Miran hingga gadis itu kesulitan bernafas.

Uhuk! Uhuk!” Miran membuka matanya cepat, dengan nafas yang masih tersengal gadis itu menatap sekelilingnya.

Hah” ia bernafas lega begitu tahu ia masih berada di kamarnya, perlahan kedua tangan gadis itu mengusap peluh dan airmatanya dari wajah lelahnya.

Ini sudah dimulai” ucapnya pelan.

Gadis itu terdiam cukup lama, ia masih memikirkan mimpinya dan bagaimana tatapan yang diberikan bayangannya pada dirinya.

Miran menarik nafasnya pelan dan mengeluarkannya melalui mulut, berusaha berfikir dengan tenang lalu mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan menghubungi seseorang.

**

Dan disinilah Miran.

Dirumah pribadi Dokter Go. Memang masih sangat pagi untuk berkonsultasi tapi Miran sama sekali tak perduli dengan hal itu sebab ia sama sekali tak bisa berdiam diri dengan semua hal yang terjadi saat ini, terlebih jika bayangan dirinya yang terus saja memaki dan menyalahkannya atas semua hal yang terjadi kembali muncul.

Apa yang harus aku lakukan?” gadis itu bergumam perlahan pada seorang dokter yang setia mendengarkan semua kejadian yang Miran alami, dokter muda itu baru saja memberikan Miran obat dengan dosis yang lebih tinggi setelah miran menceritakan apa yang terjadi.
Sebenarnya jika bayangan gelap miran mulai muncul itu adalah sebuah tanda jika tingkat stres gadis itu mulai serius.

Apakah aku harus debut?”

Apakah aku masih menginginkan itu?”

Tapi bagaimana dengan anak-anak manja itu?”

Apa mereka akan baik-baik saja tanpa aku?” Miran menarik nafas panjang, rasa kalut ini benar-benar terasa seperti akan membunuhnya perlahan.

Kenapa harus sekarang?”

Miran menatap nanar Ibu satu anak yang tersenyum tulus padanya saat ini ia berharap dapat menemukan jawaban yang tepat.

Kau.. sama sekali tak tahu apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Dokter Go lembut, tak ada sedikitpun nada mengintimidasi dalam perkataannya.

Nde, Eonni” jawab Miran putus asa. Ia benar-benar tak mengerti apa yang harus ia lakukan saat ini bahkan darimana gadis itu harus memikirkanya saja ia tak tahu, ia benar-benar ada di persimpangan jalan yang begitu berbeda dan tak akan menemukan ujung yang sama, seperti apa nasibnya di masa yang datang benar-benar ditentukan oleh waktu 3 hari yang di berikan Direktur Song untuk berfikir.

Gadis berambut bob itu benar-benar frustasi dan tertekan bahkan rasanya otaknya sudah buntu dan tak bisa bekerja dengan baik.

Sekarang coba kau rasakan degup jantungmu saat ini” Dokter Go meraih tangan Miran dan meletakannya di dada kiri gadis itu.

Degup jantungku?”

Iya, dan coba rasakan perbedaanya..”

Shin Miran.. apa yang lebih kau inginkan?”

Bersama EXO?” tanya Dokter Go lalu ia terdiam sejenak memberi waktu untuk Miran agar merasakan apa yang jantungnya ingin ungkapkan.

Atau berdiri diatas panggung?” tanyanya lagi.

Mereka dalam diam selama beberapa detik

“Aku tak dapat memastikannya untuk saat ini” ucap Miran penuh keraguan dan keputus asaan.

“Benarkah? Atau mungkin ada hal lain yang kau pikirkan?” Tanya wanita dengan wajah teduh itu.

Appa...’ batin gadis itu.

Apa aku harus menemui ayah?” gumamnya dan kemudia ia kembali terdiam.

Jika memang itu yang kau perlukan, lakukanlah” Dokter Go menepuk pungung tangan Miran untuk memberi ketenangan.

Hem mungkin aku memang harus membicarakan ini dengan Appa’ batinnya.

“Aku pergi dulu Eonni, terimakasih atas waktumu” Miran bergegas pergi dan melambaikan tangannya sekilas sebagai tanda perpisahan.

Tatapan Dokter Go berubah ketika melihat bayangan gadis itu mulai berlalu, tatapan teduh itu berubah menjadi tatapan kekhawatiran.

“Rasanya baru beberapa hari yang lalu ia bercerita jika tak lagi meminum obatnya dan sekarang... dosis obatnya justru bertambah” dokter Go berharap jika Miran bisa segera menghentikan kekacauan dalam hati dan pikirannya.
 
Wanita berputra satu itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Hallo, Ketua Shin..”
**

Miran tiba di pemakaman yang terletak pada sebuah perbukitan teduh dan saat ini sebuah nisan berdiri kokoh di hadapanya bertuliskan nama Shin Dongwon.

“Appa.. apa kabarmu?” Miran tersenyum menampakan wajah cerianya. Gadis muda itu telah berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan menunjukan wajah bahagia setiap kali  mengunjungi ayah tercintanya, sebab gadis itu tak mau ayahnya berfikir bahwa ia tak hidup dengan baik walaupun itulah hal yang terjadi sesungguhnya.

Ayah apa kau masih suka bunga baby breath?” Miran memandang seikat bunga dengan kuntum-kuntum kecil berwarna putih bersih yang ada di dalam genggamannya, tentu saja ia meyempatkan diri untuk membelikan hadiah untuk ayahnya.

Miran ingat betul saat ayahnya memberikan bunga yang sama setiap kali ia merayakan ulang tahun. Awalnya wanita bermata bulat itu selalu bertanya-tanya mengapa ayah begitu suka mebelikan bunga baby breath untuk ulang tahunnya. Bukankah bunga mawar terlihat lebih cantik dibandingkan bunga-bunga kecil itu? Keluhnya setiap kali ia menerima bunga tersebut, hingga suatu ketika ayahnya menjawab rasa penasaran gadis muda itu.

Bagi Ayah kau adalah bunga baby breath dalam keluarga kita, kau tahu? Baby breath melambangkan cinta sejati yang tak pernah berakhir. Bunga kecil itu membutuhkan waktu yang lama untuk mekar dengan cantik namun ia juga membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi layu. Hal itu juga menandakan sebuah kerja keras untuk mendapatkan hasil yang indah, dan kau harus mempertahankan keindahan tersebut. Selain itu Baby breath juga melambangkan kemurnian dan kepolosan sama seperti gadis kecil ayah” dan senyum pria paruh baya itupun mengembang.

Perkataan ayahnya itu membanjiri pikiran Miran, mengingatkan Miran tentang betapa besarnya kasih sayang namja itu padanya, walaupun akhirnya hubungan mereka sedikit merenggang namun ayahnya tak pernah sekalipun lupa untuk memberikan seikat bunga baby breath sebagai hadiah untuknya setiap tahun, mungkin ayah tidak memberikannya secara langsung sebab namja paruh baya itu hanya meletakan bunga tersebut di depan pintu kamar Miran tanpa ucapan selamat atau apapun. Hanya seikat bunga dengan kelopak kecilnya yang mekar sebagai penanda bahwa gadis itu masih tetap menjadi baby breath yang indah bagi ayahnya.

Pelupuk mata Miran sudah berusaha keras menahan cairan bening yang siap penetes kapan saja.

'Tidak Miran! Kau sudah berjanji tak akan menangis di hadapan Ayah' Miran menghapus air matanya yang hampir mengalir dengan kasar.

Gadis bermarga Shin itu berjalan mendekat dan meletakan bunga yang ia bawa di depan nisan batu putih itu.

"Ayah.. lihatlah betapa indahnya hari ini. Tidakkah cuacanya betitu bagus?” tanyanya dengan menadang suasana sekeliling.

Ayah, kenapa di cuaca sebaik ini aku justru merasa mendapatkan hari yang buruk?” gadis itu menundukan kepalanya yang terasa berat.

“Aku tahu kau tak suka jika aku membicarakan ini" gadis itu menghentikan kata-katanya sejenak untuk menguatkan hatinya.

"Tapi.. Aku tak tahu harus bercerita pada siapa. Kau tahukan bahwa aku adalah gadis yang suka memendam perasaan sedihku sendiri, hem? Entah aku mendapatkan sifat ini dari siapa?" Miran mempoutkan bibirnya berpura-pura kesal pada sifat yang diturunkan ayahnya itu padanya.

"Ayah.. kenapa perusahaan itu begitu aneh? Kenapa mereka melakukan ini padaku?” Miran membuang nafas hanya untuk sekedar mengumpulkan tenaga untuk bercerita.

 “Direktur Song.. ah! tidak, maksudku Ajushii Song mengatakan bahwa perusahaan menawarkan aku untuk debut kembali... Tunggu! Ayah jangan marah dulu!" gadis itu membuat tanda stop dengan tangan kananya seolah-olah tahu jika ayahnya akan marah jika mendengar kata debut’. Sepertinya gadis berambut bob itu benar-benar berfikir jika ia sedang berbicara pada sang ayah dan membayangkan ekspresi yang akan ditunjukan ayahnya.

"Ayah jangan marah dulu, ayah harus mendengarkan penjelasanku.. Aku sungguh tak mengerti kenapa perusahaan menawariku untuk debut kembali hanya karna sebuah video yang tersebar di internet, tapi apapun alasanya ini merupakan kesempatan kedua yang di berikan padaku. Menurutmu apa aku harus menerimanya?" Miran menatap nisan berguliskan nama ayahnya dengan wajah penasaran.

"Iya aku tahu, aku sudah berjanji padamu tak akan menjadi seorang idol, tapi.. Bisakah ayah pertimbangkan lagi janjiku itu? Hehe" gadis itu berlaga bodoh di depan ayahnya walaupun ia sudah tau itu percuma saja.

"Dan sebenarnya ada hal kecil lainnya yang juga mengganggu pikiranku, walau sejujurnya mereka tidak bisa di bilang kecil" Miran membayangkan wajah keduabelas member EXO yang memang sama sekali tidak bisa di katakan kecil.

"Mereka adalah artis asuhanku yang sudah aku anggap seperti bagian dari hidupku, mereka sangat menyebalkan tapi juga sangat lucu, mereka sangat kekanankan tapi juga sangat menyayangiku, mereka menjagaku seperti menjaga diri mereka sendiri” Miran tersenyum saat mengingat semua perlakuan yang EXO berikan padanya.

“Ayah, menurutmu apa yang akan terjadi jika aku meninggalkan mereka? Apa mereka akan baik-baik saja?" Miran mengigit bibir bawahnya ragu. Benar-benar ragu.

“Aku tak begitu yakin dengan hal itu, mereka sudah terlalu bergantung padaku dan mereka bergantung pada tali yang salah. Karna tali itu begitu rapuh” gadis itu temenung dengan kata-katanya sendiri. Ya, dia hanyalah sebuah tali rapuh yang bahkan tak bisa menahan bebannya sendiri lalu bagaimana ia menjadi tempat bergantung bagi 12 namja itu?.

Miran terdiam merasakan angin yang berhembus menerpa rambut coklat tuanya yang di ikat kebelakang dan angin lembut itu mulai menggoyang-goyangkan anak rambutnya yang terjuntai bebas.

Aku menyayangi mereka Appa, mereka membuat hidupku berwarna dengan sifat mereka yang berbeda-beda itu. Mereka membuatku tertawa setiap hari, tak pernah ada hari yang membosankan walau terkadang telingaku terasa pekak karna teriakan-teriakan mereka mengenai hal sepele” memori Miran masih sangat baik untuk mengingat bagaimana D.O berteriak pada Chen karna memakan makanan Baekhyun padahal yang punya makanan malah bersikap tidak peduli, dan anehnya pertengaran itu berlangsung hampir satu jam lamanya, sungguh luar biasa.

Setelah sekian lama akhirnya aku menemukan sesuatu yang mampu membuatku melupakan keinginanku untuk debut yaitu saat-saat bersama mereka, namun ketika aku seorang sendiri aku dapat merasakan luka itu semakin menganga setiap harinya...” Miran menatap langit yang sedikit berawan diatas sana dengan sendu.

Hah! menyembunyikan keadaanku yang sesungguhnya dan berpura-pura bahagia di hadapan ayah adalah satu hal yang tak pernah bisa aku lakukan” Miran tersenyum pahit mengingat perkataanya pada dirinya sendiri bahawa ia harus terlihat bahagia dihadapan ayahnya.

Appa.. Appa sangat menyebalkan!” Miran mengacak rambutnya sebal. Sebal pada dirinya sendiri karna tak mampu terlihat baik-baik saja di depan ayahnya. Ayolah Miran! bukankah kau sengaja menemui ayahmu untuk menceritakan apa yang kau rasakan? Lalu sekarang kenapa kau justru menyalahkan dirimu karna kau berkata tentang apa yang terjadi sesungguhnya?

Miran kembali terdiam, bercerita pada ayahnya memang membuat sebagian bebannya seolah terangkat. Tapi ada satu hal lagi yang mengganjal di otaknya, tidak! Bukan di otak tapi di hatinya.

Apakah ini saat yang tepat untuk mengatakannya?’ batin gadis bermata bulat itu menimbang-nimbang.

Ayah, apa kau tahu ada seseorang di sana yang sangat mirip denganmu? Ada beberapa sifatnya yang membuatku seolah menemukan tempat berlindung kembali. Ya, ia ada di antara mereka... ada seseorang di sana” Miran menghentikan kata-katanya dan perlahan tergambar wajah seseorang yang ia maksud dalam benak gadis itu.

Ia adalah seorang namja yang menyenangkan dan baik, ya.. walaupun semua member EXO itu baik, tapi aku merasakan ia berbeda.. namja itu sangat lucu. Appa pasti akan menyukainya sama seperti aku menyukainya..” Miran tersenyum tulus setulus perasaannya.

tapi apa yang harus aku lakuan saat ini? Jika aku meningalkannya ia pasti...

“Shin Miran?” sesorang memanggil Miran dan membuat gadis itu berhenti bercerita.

Miran memalingkan wajahnya mencari sumber suara yang memangil namanya itu, dan begitu tahu siapa orangnya gadis itu langsung bangkit bediri dengan wajah terkejut.

Nenek?” gumamnya tak percaya melihat wanita tua dihadapanya.

“Ternyata benar itu adalah kau!” pekik sang nenek begitu menyadari gadis yang berdiri di hadapanya adalah cucu perempuannya.

Dasar kau gadis tengik! Beraninya kau tak pernah mengunjungi nenek tuamu ini!” Nenek Shin segera mengahapiri cucunya itu, namun jangan kalian pikir ia akan memberikan sebuah pelukan hangat pada Miran. Tidak! Nenek Shin justru memukuli gadis itu dengan gemas karna kelakuan Miran yang tak pernah sekalipun menjenguknya selama beberapa bulan tekakhir.

Nek! Appoo! Nenek aku mohon hentikan!” gadis itu berusaha mengelak dari pukulan-pukulan kecil neneknya itu dengan wajah memelas.

Hentikan katamu?! Dasar gadis nakal!” Nenek Shin masih terus memukuli Miran tanpa henti.

Auu, Nenek! Yaaakk! Appo..appo Nek! kumohon hentikan! auw! Aduh!” gadis itu terus berusaha mengindar dari serangan neneknya yang ternyata masih sangat gesit di usianya yang sudah terlalu berumur itu.

Nenek jangan memukuli aku di depan Ayah!” teriak Miran memohon, dan benar saja neneknya berhenti seketika itu juga.

Ayahmu harus tau jika anaknya adalah gadis yang nakal sebab Ia tak pernah mengunjungiku atau sekedar menanyai kabarku!” ucap Nenek Shin menyindir. Namun bukanya tersindir Miran malah merentangkan tangannya dan memeluk neneknya dengan erat.

Nenek, aku sangat merindukanmu. Neomu neomu bogoshipoyo!” gadis itu mengelurkan aegyonya tanpa ia sadari, ia melakukannya bukan karna ingin membuat amarah neneknya berhenti tapi karna ia benar-benar merindukan neneknya itu dan Nenek Shin tau jika Miran mengatakannya dengan tulus sehingga ia tak kuasa untuk tak mebalas pelukan dari cucu yang sangat ia rindukan itu.

Jika kau merindukan Nenek kenapa tak pernah datang untuk mengunjungiku?” pertanyaan Nenek Shin itu membut Miran melepaskan pelukannya.

Itu karna...” Miran tak mampu menjawab pertanyaan mudah itu sebab menurutnya itu adalah pertanyaan yang sulit dan rumit bahkan lebih sulit dari pertanyaan matematika untuk olimpiade.

Kau sudah tak menginginkan warisan dariku?” goda Nenek Shin dengan wajah datar.

Tentu saja aku ingin, aku bisa menjadi kaya raya dalam sekejap dengan warisan itu” Miran tersenyum jahil dan kembali memeluk salah seorang wanita yang begitu penting dalam hidupnya.

Dasar mata duitan” ejek Nenek Shin pada cucunya itu, mendengar itu Miran kembali melepaskan pelukannya.

Bukankah Nenek yang mengajariku hal itu? Hahaha” Miran tertawa sendiri dengan candaannya.

Jika kau merindukanku ikutlah pulang bersama Nenek” ucap wanita baya itu setengah memohon saat mengatakan hal tersebut.

Nenek aku...” Miran tak tega menolak permintaan neneknya tapi jujur saja pulang kerumah untuk saat ini merupakan hal yang sulit untuk dilakukan.

Apa Nenek pernah meminta sesuatu padamu sebelumnya? Ayolah Miran, pulanglah” Nenek Shin menatap Miran lembut berharap tatapan itu bisa meluluhkan kerasnya pikiran Miran.

Miran menghebuskan nafasnya perlahan, tergambar dengan jelas sebuah rumah yang menjadi saksi bisu pertumbuhan seorang Shin Miran mulai dari ia dilahirkan.

Ada sesuatu yang harus nenek bicarakan padamu, dan itu hanya bisa dilakukan jika kau pulang ke rumah” bujuk Nenek Shin berulang kali.

Baiklah” jawab Miran ragu,  jujur saja ia tak tega jika terus menolak permintaan neneknya
**
Kembali dipagi dimana EXO masih sibuk mencari Miran karna gadis itu tak diketahui keberadaannya.

Terlihat dua orang pemuda tengah berjalan memasuki bangunan apartement tempat mereka tinggal.

“Kalian juga mendapatkan pesan dari Umin Hyung?” Tanya Sehun ketika bertemu dengan dua namja itu.

“Eoh” jawab namja dengan jaket biru bergaris putih mengiyakan.

“Aku dan Baekhyun sudah mencari kemana-mana.. hah! Sepertinya gadis itu benar-benar pergi menggunakan mobil” Luhan melepaskan snapback merah miliknya dan menghapus keringat yang membasahi keningnya.

“Tapi.. kemana Miran pergi dipagi buta seperti ini?” Baekhyun meletakan tangan kanannya di dagu, pose yang selalu ia lakukan ketika namja berambut purple-black sedang berfikir.

‘Tinggg’ pintu lift yang mereka tunggu terbuka dan ketiga namja itu segera masuk kedalamnya.

“Apa ada urusannya dengan pekerjaan?” Tanya Sehun pada kedua hyungnya.

“Bisa jadi, kau ingatkan Miran pernah pulang dini hari karena ia menunggu email atau apalah itu?” Baehkyun mengingatkan kedua rekannya akan kejadain beberapa waktu yang lalu.

“Pekerjaan? Bukankah jika ada hubungannya dengan pekerjaan seharusnya ponsel Miran tetap aktif?” Luhan masih merasa ada yang ganjil jika gadis berambut bob itu pergi karena urusan pekerjaan.

“Kau benar Hyung” Sehun kembali mempertimbangkan pernyataannya.

“Iya.. seharusnya poselya tetap aktif” Baekhyunpun sependapat dengan hyungnya itu.

‘Tinggg’ pintu lift yang memuat tiga orang namja tampan itu terbuka di lantai yang mereka tuju dan tanpa aba-aba ketiganya segera bergegas keluar lift menuju dorm mereka.

‘Cekrek’ Luhan membuka pintu dorm dan bergegas masuk kedalam diikuti kedua dongsaengnya. Diruang tengah sudah ada rekan mereka yang berkumpul dan terlihat Suho yang tengah memegang ponselnya sepertinya sedang menghubungi seseorang.

“Bagaimana?” Tanya Baekhyun sambil mengambil posisi duduk disebelah Lay.

“Kita sedang mencoba menghubungi Manager Jung, mungkin saja ia tahu kemana Miran pergi” Lay menjelaskan situasi yang terjadi.

‘Tuut.. tuuttt...’ terdengar nada sambung dari ponsel Suho yang sengaja disetting dalam mode speaker itu.

“Halo” suara bass itu akhirnya terdengar dari ponsel persegi empat membuat semua orang langsung memusatkan perhatian mereka.

“Hyung.. kau tahu dimana Miran?” Tanya Suho tanpa basa-basi.

“Shin Miran?” sang manager justru balik bertanya.

“Memangnya ada Miran lain di sekitar kita?” Tanya Tao setengah berbisi pada kai.

“Sepertinya tidak ada” jawab namja itu dengan nada remeh setelah mendengar pertanyaan aneh sang manager.

“Nde, maksudku Shin Miran. Apakah Hyung tau dimana dia?” Suho kembali mengulang pertanyaannya.

“Aku tidak tahu, memang ada apa?” Tanya namja yang udah memiliki satu anak tersebut.

“Miran pergi entah kemana Hyung, awalnya kami kira ia hanya pergi di sekitar apartemen, tapi kami tidak menemukannya. Sepertinya ia pergi cukup jauh karena membawa mobil” Terang Chen yang duduk di samping Suho.

“Kenapa kalian tidak menelponnya?” Tanya Manager Jung di ujung telfon.

“Kami sudah mencobanya berulang kali tapi ponselnya tidak aktif” Chanyeol mendekatkan diri pada ponsel Suho untuk menjawab pertanyaan itu.

“Kurasa ada alasan tertentu kenapa Miran pergi, ia pasti akan menghubungi kita sebentar lagi jadi kalian jangan terlalu panic” Manager Jung berusaha menenangkan artis yang sedang berada dalam asuhannya itu, walaupun berusaha menenangkan EXO namun namja itu sendiri juga sedang berfikir kemana kira-kira Miran pergi.

“Tapi semalam ia sakit Hyung, bagaimana mungkin kami tidak khawatir” Sehun mengeluarkan sifat keras kepalanya, baginya yang terpenting saat ini adalah menemukan keberadaan Shin Miran.

“Aku tahu kalian pasti khawatir tapi tidakah kalian ingat sifat Shin Miran? Ia bukan orang yang pergi keluyuran tanpa alasan begitu saja. Aku yakin ia pasti akan segera menghubungi kita” Manager Jung kembali meyakinkan para member EXO.

“Jam berapa ini? Bukankah kalian punya jadwal pagi? Sebaiknya kalian segera bersiap. Kita akan mendiskusikannya lagi setelah aku tiba disana.” Pria bertubuh tambun itu mengingatkan EXO bahwa mereka tetap memiliki tanggung jawab yang harus dilaksanakan.

“Tapi Hyung..” Xiumin hendak bicara, namun sayang managernya itu sudah memutuskan sambunan telfonnya.

“Hah! Bekerja disaat seperti ini? Yang benar saja” Kai menghempaskan dirinya pada sandaran sofa tempat ia duduk.

“Kita juga tak bisa meninggalkan pekerjaan kita begitu saja” Kris bangkit dan menepuk pelan bahu dongsaengnya itu.

“Kris Hyung benar, kita tetap harus bekerja dan aku setuju jika Miran pasti memiliki alasan mengapa ia pergi seperti ini” Lay memandang teman-teamnnya mencari persetujuan.

Kai mendengus sebal mendengar perkataan namja bernama lengkap Zhang Yixing itu.

‘Bukankah ia yang paling khawatir dengan keadaan Miran semalam? Lalu kenapa ia bersikap seolah tak perlu ada yang dikhawatirkan? Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran hyung ini?” Kai menatap Lay yang beranjak dari karpet dan bersiap untuk mandi. Beberapa member juga memutuskan untuk bersiap-siap sebelum Manager Jung datang ke apartement mereka.

“Wae?” Tanya D.O yang melihat tingkah aneh namja yang lebih tinggi darinya itu.

“Ani” jawab Kai pendek dan beranjak meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.
**

EXO sedang menjalani syuting iklan untuk minuman ringan, kesibukan itu mungkin dapat sedikit mengalihkan pikiran mereka tentang dimana sebenarnya Miran berada. Namun masih terlihat ada beberapa member yang tak bisa menghilangkan kekhawatirannya sehingga membuat syuting berjalan lebih lama hanya sekedar untuk mendapatkan ekspersi yang sesuai.

Manager Jung sendiri sudah berusaha mencari informasi mengenai Miran, apakan gadis itu ditugaskan ke suatu tempat atau apa. Namun hasilnya nihil hingga akhirnya ia mendapatkan telfon dari atasannya, Direktur Song.

Direktur Song menjelaskan tentang pembicaraannya dan Miran kemari dan secara pribadi ia meminta Manager Jung untuk mengurus EXO, karna jujur saja ia tak tahu jika Miran akan menghilang seperti ini. Pria yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga Miran itu juga meminta Manager Jung untuk merahasiakan ini karna ia belum tahu apa yang akan terjadi kedepannya sebab Miran belum memberikan keputusannya.

“Apa itu telfon dari Miran?” Tanya Baekhyun ketika melihat Manager Jung mengakhiri percakapan dari ponselnya.

“Bukan” jawab Manager Jung dengan sedikit mnggelengka kepalanya.

“Oh.. tadi sutradara memanggilku, sebaiknya aku segera kesana” pria berambut hitam legam itu berjalan menjauhi Baekhyun.

‘Hah! Apa yang harus aku katakan pada mereka?’ batin namja yang sudah berkepala tiga itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ia harus mengarang alasan yang jelas dan dapat dipercara oleh boyband asuhanya itu.

Manager Jung berjalan keluar studio mencari udara segar berharap bisa menemukan ide untuk memberikan alasan yang tepat bagi anak-anak muda itu.

“Apa benar ponsel Miran tidak aktif?” guman namja itu dengan memperhatikan ponsel miliknya sendiri.

Jujur saja Manager Jung sama sekali belum mencoba megontak nomer ponsel gadis muda itu sebab terlalu sibuk mencari informasi keberadaaan Miran atas rengekan anak-anak asuhnya.

“Apa salahnya mencoba peruntungan?” manager EXO itu akhirnya menekan kontak pada layar ponselnya untuk memulai sebuah panggilan.

“Halo?” suara lembut seorang wanita menghampiri pendengaran Manager Jung.

“Miran? Ini kau?” Manager Jung memastikan dengan siapa ia bicara walau dari suara gadis itu sudah jelas bahwa ia adalah Miran.

“Iya, ini aku. Maafkan aku karna membuatmu kesulitan oppa” Miran menuturkan permintaan maafnya atas ketidak profesionalannya, gadis bermata bulat itu yakin pasti Manger Jung kerepotan mengurus keduabelas namja itu sendiri.
Nenek Shin yang duduk disebelah Miran menatap sedih cucu perempuannya itu, setelah apa yang ia dengar dari sang dokter yang selama ini merawat miran.

“Aku sudah mendengar semua dari Direktur, dan ia memintaku untuk menangani semua selama kau tidak ada. Tapi sebenarnya kau ada dimana?” Tanya Manager Jung khwatir. Miran sedikit terhenyak mendengarkan penuturan manager yang lebih tua darinya itu. Ia tahu bahwa tawaran Direktur Song bukan hal main-main karna perlahan berita itu sudah mulai menyebar.

“Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah nenekku saat ini, terimakasih karna sudah mengatur semuanya.” Miran sangat berterimakasih karna rekan kerjanya adalah orang yang baik.

“Kerumah nenekmu? Ohhh aku mengerti sekarang. Tapi kau tidak apa-apakan? Bukankah semalam kau sakit?” Manager Jung mengajukan pertanyaannya bertubi-tubi karna sejujurnya kekhawatirannya semakin menjadi setelah mendengar penjelasan Direktur Song tadi.

“Nde, aku sudah baik-baik saja. Kau tak usah khawatir.” Miran meyakinkan rekan kerjanya bahwa ia baik-baik saja walau nada suara gadis itu menunjukan hal yang sebaliknya.

“Bagaimana dengan.. EXO?” Miran memberanikan diri bertanya bagaimana keadaan namja-namja yang selalu mengisi hari-harinya itu, apakah mereka juga sudah tahu kabar mengenai dirinya yang diberikan tawaran untuk debut.

“EXO?” Manager Jung mengulangi kata terakhir Miran dengan nada tak yakin.

“mereka... kau ingin mendengarkan jawaban yang seperti apa?” Manager Jung betanya pada Miran tentang jawaban apa yang ingin ia degar, jawaban yang membuat dia merasa tenang atau jawaban yang mebuat dia merasa bersalah karna pergi tanpa kabar.

“ahh aku yakin mereka akan baik-baik saja jika bersamamu” Miran tersenyum datar, gadis itu memilih menjadi pengecut karna merasa takut akan apa yang akan didengarnya jika ia memilih jawaban.

“eoh, aku akan bilang pada mereka bahwa kau memiliki urusan keluarga. Dan.. untuk saat ini mereka belum tahu apa-apa tentang dirimu” Manager Jung sadar bahwa sebaiknya ia tak membuat pikiran gadis berambut bob itu semakin kalut, namja itu tahu betul jika Miran melakukan pekerjaannya dengan hati, ia menganggap EXO lebih dari sekedar artis yang diurusnya. Miran menganggap EXO keluarga, dan sebaiknya EXO mendengar sediri segala keputusan dan serita tentang Miran dari gadis itu sendiri.

“Nde, aku benar-benar berterimakasih padamu” ucap Miran di ujung sana.

“Baiklah.. jaga dirimu baik-baik Miran-ah” pinta Manager Jung sungguh-sungguh, lalu mematikan ponselnya.

**
Nenek Shin duduk di sebuah bangku panjang dan hadapannya terhapar halaman luas dengan berbagai tumbuhan yang selama ini ia rawat diwaktu luangnya, di sebelah wanita berumur 78 tahun itu terduduk seorang gadis dengan secangkir teh di tangan kanannya.

Sudah berapa lama kau tumbuh besar Miran-ah? Rasanya baru beberapa hari yang lalu aku menemanimu bermain di halaman ini” Nenek Shin menerawang kembali memorinya ketika ia mengajari Miran cara berkebun atau sekedar berlari-lari mengejar gadis itu karna tak menuruti apa yang neneknya katakan.

Miran tersenyum mendengarnya, entah mengapa dimata setiap orang tua anak ataupun cucu mereka akan selalu dianggap sebagai anak kecil yang membutuhkan perlindungan dan perhatian, dan ternyata kembali kerumah tak semenakutkan pikiran gadis itu. Melihat taman hijau yang selalu dirawat neneknya itu membuat pikirannya terasa lebih tenang.

Itu sudah sangat lama Nek, sekarang aku sudah besar dan tumbuh dengan baik” meletakan cangkirnya di atas meja lalu mengusap punggung Nenek Shin halus.

Benarkah? Di mataku kau hanyalah gadis pembuat onar” sindir Nenek Shin lalu ia tertawa terbahak-bahak. Sedang Miran hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan neneknya yang masih berjiwa muda itu.

Kau terlihat sangat lengang untuk ukuran seorang manager artis terkenal” nenek tua itu menyesap teh madunya tenang.

Nenek tau dari mana jika aku menjadi seorang mananger?” tanya Miran terkejut dengan perkataan neneknya, namun otak gadis itu segera memberikan penjelasan tentang apa yang ia tanyakan.

Ohh aku lupa bahwa tak ada rahasia dalam keluarga ini, berapa banyak mata-mata yang nenek kirim untuk mengawasiku huh?” Miran melipat kedua tangannya sebal dengan kelakuan neneknya itu.

Hahaha untuk apa melakukan hal seperti itu, jika aku bisa mendapatkan laporannya langsung dari perusahaanmu?” Nenek Shin tersenyum menang pada cucunya yang sudah memasang wajah kesal yang lucu.

Mendapatkan laporan langsung dari perusahaan? Apa yang sebenarnya Nenek lakukan?” tanya Miran putus asa karna tak bisa memahami pemikiran neneknya.

Untuk apa bekerja pada perusahaan yang bisa kau miliki?” tanya sang nenek lalu menyandarkan punggunya pada kursi yang ia duduki.

Hah! sudah kuduga hal ini akan terjadi” Miran menepuk jidatnya pelan.

Tenang saja itu hanya perumpamaan, nenekmu ini hanya membeli 15% saham dari perusahaan yang begitu kau cintai itu” wanita berambut sedikit bergelombang itu menenangkan Miran yang sudah terlihat tak tertarik pada perbincangan ini.

15% Nenek bilang? Saham sebanyak itu tentu saja bisa digunakan untuk mengendalikan perusahaan. Nenek, katakan padaku apa yang sebenarnya Nenek rencanakan, huh?” Miran menatap neneknya dengan pandangn penuh selidik.

Tidak ada” jawab sang nenek tanpa beban.

Tidak mungkin, pasti ada sesuatu” Miran tak mudah menerima pernyataan neneknya itu.

Oke, baiklah akan aku jelaskan padamu. Aku membeli saham itu untuk kuwariskann padamu mengingat betapa kau mencintai perusahaan entertaiment itu, dan suatu saat kau bisa bekerja di sana entah sebagai apapun yang kau suka” terang Nenek Shin dengan singkat.

“Nenek bukankah Nenek tahu aku tak suka hal-hal seperti itu?” sergah Miran.

Ya.. Nenek tahu betul jika kau benci sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan, jabatan dan sejenisnya, tapi Nenek yakin suatu saat nanti pikiranmu akan berubah karena  ada perusahaan besar yang harus kau urus” Wanita berbaju merah maroon itu mengingatkan Miran tentang perusahaan mereka yang terus berkembang.

Bukankah kita sudah sepakat jika Hanbin yang akan memimpin perusahaan suatu saat nanti?” jawab Miran malas, karna ia benar-benar tak suka pembicaraan seperti ini.

Kau tega melihat adikmu berusaha seorang diri? Setidaknya mulailah belajar bagaimana cara mengurus perusahaan mulai saat ini” ucap Nenek Shin dengan ketegasan di dalamnya.

Jika ini yang ingin Nenek bicarakan, maka aku rasa aku harus pergi” Miran bangkit dan hendak berjalan menjauh jika sang nenek tak menghentikannya. Sifat keras kepala Miran sepertinya kembali muncul.

Jadi kau lebih memilih debut sebagai penyanyi?” ucap wanita tua itu yang seketika membuat tubuh Miran kaku tak bisa beranjak barang sesenti dari tempat ia berdiri. Ingatanya kembali pada percakapannya dengan sang direktur yang membuat pikirannya kembali kalut.

Miran membalikan tubuhnya dan menatap neneknya tak percaya.

Kau masih ingin menjadi penyanyi?” kembali Nenek Shin menannyakan pertanyaan yang sama.

Apa yang sebenarnya akan Nenek lakukan?” tanya Miran dengan tatapan yang sulit dipahami.

Membuat kau memilih jalan hidupmu untuk saat ini” jawab sang nenek begitu tenang.

Bukankah kau punya waktu 3 hari untuk memikirkan jalan hidupmu?” Nenek Shin menegakkan bahu cucunya adengan kedua tangannya.

Nenek tak memaksamu untuk mengurus perusahaan, Nenek hanya memintamu untuk mempelajarinya saja sehingga suatu saat Hanbin memiliki teman berdiskusi yang pantas dan juga bisa ia andalkan, tak selamanya perusahaan dalam keadaan yang baik dan bisa kau bayangkan jika adik kecilmu itu harus memikirkan semuanya sendiri. Nenek tak ingin memaksakan apa yang Nenek inginkan padamu. Kau boleh memilih jalan yang kau suka begitu juga dengan Hanbin dan Nenek sangat berterimakasih padannya karna ia telah memilih belajar menjadi pemimpin untuk perusahaan kita” tatapan wanita tua itu melembut, menujukan kasih sayang khas seorang ibu

Dan saat ini kau juga harus menentukan jalanmu bukan?” wanita berambut putih itu melepaskan tangannya dari pundak Miran.

Tunggu dulu... jadi apakah tawaran yang perusahaan berikan padaku itu merupakan campur tangan Nenek juga?” Miran menatap neneknya, karena jika itu merupakan campur tangan sang nenek maka ia sudah mendapatkan jawaban yang tepat untuk tawaran Direktur Song, yaitu tidak.

Untuk apa aku mengurusi manager junior sepertimu?” Nenek Shin mengalihkan pandangannya malas.

Nenek aku mohon katakan yang sejujurnya” Miran memelas pada neneknya itu.

Nenek tuamu ini hanya membeli saham dan sama sekali belum ikut campur dengan urusan perusahaan entertaiment itu, jadi pekerjaan yang kau dapatkan sebagai manager ataupun tawaran untuk debutmu itu bukan aku yang mengaturnya, puas?” Nenek Shin mengangkat sebelah alisnya.

Apa itu benar?” tanya Miran masih tak percaya.

 Terserah saja jika kau tak percaya” jawab nenek Miran itu malas-malasan.

Ahh wanita tua ini mulai kelaparan!, ayo kita makan!” Nenek Shin berjalan memeasuki rumah dengan interior bernunsa mewah tersebut.

Miran mengangkat bahunya dan berjalan mengikuti neneknya, tak perlu ditanya lagi apakah neneknya itu terlibat atau tidak dengan kehidupannya diperusahaan karena Miran tau nenek berkata hal yang sebenarnya, sebab kata-kata “terserah saja jika kau takpercaya” hanya akan terlontar saat wanita itu geram karna perkataanya dianggap sebuah kebohongan.
**

Ruang makan keluarga Shin tampak begitu lengang karena hanya ada dua orang yang terlihat sedang menikmati makanan mereka dalam diam, dan beberapa peLayan yang terlihat berdiri di pinggir ruangan.

Kenapa ada begitu banyak peLayan di rumah ini?” tanya Miran dengan tak henti memandang sekelilingnya.

Tentu saja untuk menemani Nenek karna cucuku sendiri tak pernah mau datang untuk melihat keadaanku” jawab Nenek Shin dengan santai tanpa beban, dan penjelasan itu langsung membuat Miran membungkam mulutnya dengan sesuap nasi.

Kau suka makanannya? makanlah yang banyak kau terlihat lebih kurus sekarangpinta wanita paruh baya yang duduk di hadapan Miran itu.

Iya, tapi tidakkah ini terasa sedikit hambar” jawab Miran ketika merasakan sup tulang dihadapnya.

Benarkan? Nenek rasa tidak ada yang salah” perkataan nenek Miran itu membuat sang juru masak yang sempat menegang menghembuskan nafas lega.

“Shin Miran, bagaimana jika kau tinggal di sini untuk beberapa hari?” tawar sang nenek lembut.

Bukankah Nenek hanya memintaku untuk mampir bukan untuk menginap” Miran berusaha menolak permintaan neneknya itu.

Tinggalah di sini untuk berfikir, aku yakin kau bisa berfikir lebih jernih di sini” Nenek Shin menyuapkan sepotong daging kedalam mulutnya.

Dengan begitu nantinya kau akan tahu mana yang paling kau inginkan ketika kau menjauh dari semua hal yang sedang kau pertimbangkan, hal apa yang paling kau inginkan. Apakah berada di sisi artismu atau menjadi seorang penyanyi, hatimu akan mengetahui hal apa yang paling ia rindukan” Nenek Shin mengangkat sebelah alisnya kembali dan memandang lekat-lekat gadis yang tengah berfikir keras itu, Miran merasa perkataan neneknya hamper serupa dengan nasehat dari Dokter Go.

Miran menerawang pikirannya dan mempertimbangkan apa yang dikatakan neneknya itu.

Bagaimana keadaan ibumu?” pertanyaan wanita berambut putih itu membuyarkan Miran dari lamunannya.

Oh, Omma baik-baik saja dan aku rasa ia sedang bersenang-senang dengan ajushii” Miran tersenyum membayangkan Ibu dan ayah tirinya yang baru saja membina rumahtangga.

Syukurlah jika ia bahagia, tidakkah kau ingin tahu kenapa nenek tuamu ini merestui pernikahan ibumu itu?” tanya sang nenek kembali.

Miran mengelengkan kepalanya, ia tahu kebanyakan mertua tak akan merestuai jika menantunya menikah lagi setelah kepergian anak mereka, tapi entah mengapa nenek yang notabennya memiliki sifat yang sulit untuk di taklukan dengan mudahnya memberikan restu pada ibunya untuk menikah lagi.

Karna aku merasa bersalah pada ibumu” terang Nenek Shin dengan tatapan bersalah yang sangat terlihat.

Bersalah?” Miran berusaha menerka maksud neneknya itu.

Iya, aku merasa sangat bersalah karna membuat ibumu meneteskan banyak airmata”

Perkataan Nenek Shin memebuat Miran teringat saat ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, ibunya terlihat sanagat terpukul dan tak henti menangis selama beberapa hari. Wanita itu tak mau menyentuh makanannya sama sekali, ia mengurung diri dalam kamar dan tak mengijinkan siapapun untuk masuk bahkan Miran. Hampir setiap beberapa jam sekali Miran akan mengetuk pintu kamar ibunya untuk menanyakan apakah ibunya baik-baik saja, apakah ibunya membutuhkan sesuatu atau apapun itu. Namun yang ia dengar hanyalah isak tangis dari ibunya hingga akhirnya wanita yang telah melahirkannya itu jatuh sakit dan harus dirawat dirumah sakit.

Gadis bermarga Shin itu menjaga ibunya selama berminggu-minggu di rumah sakit. Jujur saja keadaan itu juga berat bagi Miran, sangat berat bahkan mengingat bagaimana ia kehilangan ayahnya, impiannya dan saat itu ia harus melihat ibunya yang seolah kehilngan harapan hidup. ia terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Ia terus mebayangkan seandainya ia tak menentang ayahnya mungkin saja hidup keluarga mereka akan baik-baik saja saat ini, ibunya tak terlihat seperti raga tanpa jiwa, seandainya saja itu yang Miran lakukan.. seandainya saja...

Namun yang ia bisalakukan hanyalah terus meminta maaf pada ibunya setiap kali ia melihat wanita itu meneteskan air mata, ia terus berkata bahwa ialah yang salah dan memohon agar Ibu menghukumnya atau memarahinya, namun ibunya hanya diam membisu dengan mata yang terus meneteskan airmata.

Omma! Aku mohon padamu jangan seperti ini. Omma, aku tahu aku yang bersalah. Aku tahu aku bodoh. Marahlah padaku, berteriaklah padaku tapi aku mohon Omma.. jangan seperti ini! aku mohon..” Miran terduduk menangis terisak seperti anak kecil mengacak-acak rambutya frustasi lalu memandang ibunya yang sama sekali tak bergeming dari tempat tidurnya dan hanya terduduk memandang keluar jendela.

Dan mulai saat itu bukan hanya sang ibu yang harus menjalani pengobatan namun juga Miran, Nenek membawa gadis remaja itu pada pskiater agar gadis itu berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi dan meminum obat penenang mulai menjadi hal yang biasa baginya.

“Apa yang kau pikirkan Miran-ah?” suara lembut Nenek Shin membuayarkan seluruh bayangan masa lalu yang berlarian dalam pikiran gadis muda itu.

“Tidak ada” jawab Miran pendek dan berusaha memamerkan senyum tipis di bibirnya. Nenek Shin yang melihat senyuman itu hanya bisa menatap Miran sedih, ia tahu bahwa gadis dihadapanya selalu berusaha terlihat tegar atas semua hal yang ia alami selama ini.

“Miran-ah apa kau tahu, ibumu adalah seorang wanita yang luar biasa?” Nenek Shin berusaha kembali membangun percakapan diantara ia dan cucu gadisnya.

“Ia terus saja mengejar-ngejar ayahmu, mengikutinya kemanapun ia pergi” terang Nenek Shin dengan wajah serius yang dibuat-buat.

“Benarkah? Ibu mengejar-ngejar Appa?” Miran membulatkan matanya tak percaya.

“Ck! Sudah kuduga kau tak tahu apa-apa tentang kehidupan cinta mereka” wanita berusia lebih dari setengah abad itu menatap Miran remeh.

“Baiklah, aku kalah. Aku tidak tahu apa-apa jadi tolong ceritakan padaku nek~” ucap Miran dengan memelas seperti anak balita.

“Apa? Kau ingin tahu? Hemmm tapi sayang sekali nona muda, tak ada informasi yang bisa kuberikan secara cuma-cuma” nenek beramut putih itu mengangkat sebelah alisnya.

Miran menghembuskan nafasnya kesal, ia seharusnya tau jika wanita tua dihadapanya itu sangat ulung dalam berbisnis. Tak ada informasi gratis yang berarti ada hal yang harus gadis itu lakukan jika ia ingin sang nenek melanjutkan ceritanya, dan bisa ditebak permintaannya adalah...

“Kau harus menginap disini, jika kau ingin tahu” tepat seperti dugaan gadis berambut coklat itu. Miran berfikir sejenak menimbang-nimbang permintaan neneknya.

“Baiklah, Nenek menang” ujar Miran pasrah. Gadis itu berfikir sudah kepalang tanggung untuk menolak permintaan sang nenek.

“Hemm makanan hari ini terasa sangat enak, seharunya kau lebih sering makan dirumah, sayang” Miran dapat melihat jelas senyum lebar yang mengembang di bibir neneknya itu, yah! Ia tahu suatu saat ia pasti akan kembali ke rumah ini entah apa alasanya dan untuk saat ini melihat neneknya bahagia Miran rasa cukup untuk menjadi alasan ia tiggal.
**

“Ibumu adalah gadis yang sangat menyenangkan dan ia tak pernah marah kepada siapapun. Kau tahu itu bukan?” Tanya Nenek Shin pada gadis yang sedang berbaring di sampingnya, malam ini Miran memutuskan untuk tidur bersama nenek dan mendengarkan semua kisah yang wanita tua itu ingin sampaikan padannya.

“Nde” jawab Miran tenang.

“Waktu itu ibumu masih kelas dua SMA ketika ia bertemu dengan ayahmu, mereka bertemu saat pesta peresmian cabang baru perusahaan karna perusahaan kami bekerja sama dengan perusahaan ibumu..., aku masih ingat Woori mengunakan gaun biru muda yang begitu cantik sedang ayahmu.. saat itu ia sama sekali tak tertarik dengan acara yang diadakan, persisi sepertimu, ayahmu tak suka suatu hal yang berhubungan dengan perusahaan ataupun jabatan karna baginya itu hanya membuat kami -orang tuanya- menjadi gila kerja dan tak pernah memprerhatikannya” tatapan bersalah muncul dikedua mata wanita  baya itu, Miran berusaha meringankan beban neneknya dengan mengelus punggung tangan wanita yang ia amat sanyangi itu.

“Woori..” lanjut sang nenek

“Sangat menyukai Dongwon sejak pertama ia melihatnya. Setelah pesta peresmian hampir setiap akhir pekan ia datang kerumah untuk menemui ayahmu dengan berbagai alasan yang terkadang tidak masuk akal, ia bahkan pernah beralasan toilet dirumahnya mampet jadi ia meminta ijin untuk menggunakan toilet rumah kami” Nenek Shin tertawa mengingat betapa lucunya kejadian itu.

“Ha? Omma melakukan hal seperti itu?” Miran tak percaya jika ibunya bisa melakukan hal tak masuk akal seperti itu.

“Haha sudah kukatakan bukan jika cerita ini sangat menarik” sang nenek memandang cucunya dengan senyum merekah di bibirnya.

“Lalu?” Tanya Miran tak sabar dengan lanjutannya.

“Sayangnya ayahmu tak pernah menganggap ibumu, ia tahu bahwa ibumu menyukainya namun ia tak penah membalas perasaan ibumu. Dongwon tak pernah perduli tentang apa yang ibumu lakukan... baginya ibumu hanyalah seorang pengacau yang selalu membawa keributan" ujar wanita paruh baya itu dengan wajah sedikit muram.

“Pasti sullit bagi ibu” ujar Miran seolah mengerti bagaimana perasaan ibunya saat itu.

“Itu bukan yang tersulit Miran-ah. Bukan” jawab Nenek Shin lirih.

“tak lama setelah bersekolah di luar negeri, ayahmu bertemu dengan seseorang. Seorang artis yang sedang berlibur atau entahlah aku kurang tahu persis kejadiannya.” Nenek Shin mengerutkan keningnya mengingat-ingat.

“Dan mereka saling menyukai?” tebak Miran.

“Ya, kau benar. Mereka saling menyukai” sang nenek membenarkan.

“Lalu.. bagaimana dengan ibu?”

“Tentu ia merasa sangat sedih, namun kau tahu bukan hati ibumu begitu baik? Akhirnya Woori memilih untuk mundur dan merelakan ayahmu”

“Namun hal itu tak berlangsung lama, ketika ayahmu kembali ke Korea ada kabar buruk mengenai kekasihnya itu, gadis itu terkena skandal. Ia dituduh melakukan pemerasan terhadap agensinya, entah apa motifnya nenekpun tidak tahu”.

“Ayahmu terus mendukungnya tak perduli apa yang terjadi”

“Apa yang Nenek lakukan ketika rumor itu terjadi?” Tanya Miran yang sangat hafal dengan watak sang nenek yang tak mungkin lepas tangan mengingat sifatnya sang selalu ingin tahu itu.

“Aku sempat menemui gadis itu, tentu saja.”

“Saat itu terlihat jelas ada ketakutan yang menyelimuti matanya, ia terlihat tak bisa mempercayai siapapun dan entahlah ia terlihat menyedihkan” jelas sang nenek membuat Miran mereka-reka siapa artis yang diaksud.

“Artis itu.. siapa?” Miran tak bisa menyimpan rasa ingin tahunya.

“namanya Park Jina” sang nenek ingat betul nama dan sosok gadis yang sempat singgah di hati putranya itu.

“Dia artis korea?” mata Miran sedikit melebar begitu mendengar nama yang disebutkan oleh neneknya.

“Ya, kau tahukan terkadang ketika masyarakat kita suka akan suatu hal mereka akan mengagung-agungkannya namun ketika mereka membencinya....” wanita paruh baya itu tak mampu melanjutkan kata-katanya.

“Ya.. itu sangat mengerikan. Lalu apa yang terjadi padanya nek?”

“Orang-orang mulai mengulik latar belakannya dan itu semua membuat rumor menjadi semakin buruk... gadis itu bunuh diri.. ia tak sanggup menerima semua cemoohan itu, bahkan setelah ia meninggal orang-orang masih membicarakan hal-hal buruk tentangnya”

“Dan ayahmu... tentu saja ia merasa sangat sedih dengan semua kejadian yang dialaminya. Ia menjadi begitu dingin pada setiap orang dan itu berlangsung selama bertahun-tahun” Nenek Shin menarik nafasnya berat mengingat kejaidan-kejadian kelam yang diterima putranya.

“Ibu... pasti masih tetap menanti Ayah bukan?” Miran tersenyum pahit menyadari pengorbanan ibunya yang begitu besar.

“Woori selalu datang jika ada kesempatan, ia selalu bertanya bagaimana kabar Dongwon dan ia selalu tersenyum jika bertemu dengan ayahmu, walau mungkin anak itu terluka di dalam hatinya” Nenek menggengam tangan cuucnya erat.

“Kami para orang tua akhirnya memutuskan untuk menjodohkan mereka berdua.. ibumu terlihat sangat bahagia mendengar kabar tersebut, Woori mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan dalam pernikahannya sedang Dongwon bersikap seolah tak terjadi apa-apa” Nenek menarik nafas berat dan menghembuskannya.

Miran sekarang paham mengapa ibunya begitu tertekan setelah ayahnya meninggal dunia, itu pasti karna cintanya yang begitu besar pada suaminya itu.

“Selama pernikahan mereka Dongwon terus saja mengacuhkan Woori, namun Woori justru sebaliknya. Ia berusaha menjadi istri yang baik dengan harapan suatu saat pintu hati suaminya akan terbuka, dan akhirnya hal itu terjadi...” Nenek Miran menatap cucunya dengan kasih sayang yang tergambar jelas dari mata sayu wanita tua itu.

“Ketika kau lahir.. ayahmu menyasikan bagaimana ibumu berjuang sekuat tenaga untuk melahirkanmu dan seperti tersihir, hati ayahmu langsung luluh begitu mendengar tangisan pertamamu. Ia memeluk ibumu dan sangat terimakasih lalu berkata jika ia mencintai ibumu untuk pertama kalinya”

Miran tersenyum mendengar cerita neneknya itu, gadis itu tak pernah menyangka bahwa kedua orang tuanya melalui hidup yang begitu rumit sebelum ia datang dan mengingat bagaimana cinta yang dicurahkan oleh kedua orang tuanya Miran mulai meneteskan air mata.

Ia sadar akan satu hal.

“Ayahmu tak pernah ingin kau tersakiti, Miran-ah.. ia hanya ingin menjagamu. Ia tak ingin kejadian buruk itu juga menimpamu.. itu sebabnya ia melarangmu untuk melakukannya” Nenek yang berada di samping Miran memeluk gadis iitu dan mengusap lembut rambut sang cucu.

“Dan ibumu.. ia sama sekali tak pernah berfikir bahwa kau adalah penyebab kepergian ayahmu, kau harus yakin akan hal itu. Saat itu mungkin ia hanya membutuhan waktu untuk menerima semuanya” Nenek Shin melepaskan pelukannya dan menatap Miran dengan penuh saying.

“Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi, jangan lagi” wanita dengan rabut yang sudah memutih itu mengusap bahu Miran lembut.

Miran mengangguk pelan dan kembali memeluk neneknya air mata mulai menetes membasahi pipi gadis itu.

“Kenapa Nenek baru menceritakannya padaku?” bukankah seharusnya neneknya menceritakan hal ini sejak dulu.

“Saat itu sudah berapa ribu kali kuminta kau untuk berhenti menyalahakan dirimu sendiri bukan? Tapi seperti biasa kau tak mau mendengarkannya” Nenek Shin menghapus airmata miran dan menghembuskan nafasnya kesal.

“Dan ada beberapa hal yang juga baru Nenek ketahui” wanita paruh baya beranjak dari tempat tidur dan mengambil sesuatu dari dalam laci nakas disampin tempat tidur.

“Apa itu Nek?”
****
 next chap is kai's diary!!! Yeheeetttt!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: