aaannnnyyyeeeooonngggg akhirnya kita sampek juga di part 4
disini terungakap sesuatu looo,,
want to know?? baca aja sampek abis oke??
hepi reading ^^
tapi maaf ya member exo cuma nongol dikit hehehe..
Manage Your Manager part 4
Cast: all exo member, shin miran (oc), super junior, and other.
Genre: Brothership, Drama, sedikit humor.
Rating: PG-13.
"pekerjaan menjadi manager tak seberat menjadi seorang artis" wanita itu menggengam tangan Miran, pandanganya penuh makna dan dalam.
Gadis itu sedikit melakukan peregangan untuk menghilangkan rasa pegal yang dari tadi hinggap di punggungnya dan beberapa tarikan nafas panjang untuk menghilangkan pikiran jenuhnya. Setelah di rasa cukup ia meraih tas punggung berwarna krem bermotif polkadot yang ia letakan di bawah mejanya dan memasukan barang-barangnya ke dalam tas lalu berjalan menuju lift.
Iya, itu lah Miran 7 tahun yang lalu, dulu ia adalah trainee yang memiliki impian menjadi seorang idol. Hari-hari remajanya penuh dengan latihan menyanyi dan menari namun hal itu sudah ia angap sebagai hidupnya. Dulu gedung ini adalah rumah keduanya, setiap hari seusai sekolah ia akan datang kemari untuk belajar dengan trainee lain, ia bahkan masih ingat bagaimana rasa bahagia menyusup kedalam hatinya saat pelatih menghadiahinya dengan sebuah pujian bahwa ia sangat berbakat, gadis itu dapat menguasai gerakan baru dengan mudah. Bukan hanya menari tapi ia juga mempunyai kemampuan vokal yang apik, tak heran ia menjadi trainee populer dan digadang-gadang akan mendapatkan kesuksesan setelah ia debut nanti.
Itu memang masa lalu, begitu menyenangkan saat ia jalani tapi begitu menyakitkan ketika ia kenang saat ini. Miran harus menelan semua impiannya dan mengubur jauh semua itu, tapi segala usaha yang ia lakukan untuk menjauhkan itu semua justru membutanya semakin terluka.
Miran tiba di dorm pukul 3 pagi tentu saja setelah ia berhasil menguasai emosinya lagi, ia pulang dengan mata yang sedikit bengkak dan rambut bobnya yang di ikat kebelakang membuat sebagian rambut yang ada di depan sedikit tergerai menutupi tulang pipinya. Gadis itu sangat lelah ia berjalan memasuki dorm dengan sedikit tenaga yang tersisa dari makan malamnya beberapa jam yang lalu, saat ia memasuki dorm tedengar suara tivi yang masih menyala dari ruang tengah, Suho dan Chen tertidur di depan tivi yang menyiarkan film barat yang sudah pernah di lihat yeonja itu sebelumnya.
Akhirnya setelah lima belas menit berguling-guling di kasur tanpa bisa terlelap gadis itu bangkit dan mendekati meja yang ada di samping tempat tidurnya.
Miran tidak bisa ikut pulang bersama
EXO karna ia harus menunggu fax dari stasiun radio yang ada di Cina, namun
ternyata fax itu baru ia terima pukul 11 malam, maka mau tak mau Miran harus
segera membuat laporannya karna harus di tanda tangani bosnya besok pagi sehingga
ia tidak memiliki banyak waktu untuk mengerjakannya.
Lantai 20 terlihat sudah sedikit
sepi, ya hanya sepi tidak benar-benar kosong karna setiap hari pasti ada
karyawan yang lembur dan untuk hari ini Miran adalah salah satunya, yeonja itu
dapat melihat beberapa orang masih sibuk dengan pekerjaan mereka walau malam
sudah semakin larut.
"Manager Shin kau belum
pulang?" tanya seorang wanita berusia awal 30-an yang sekarang sedang
berdiri di samping tempat duduk Miran.
"belum Sunbae-nim" Miran
mengalihkan pandangannya dari layar komputer dan menatap wanita berambut
keriting itu lalu tersenyum.
"jangan terlalu lelah, aku
tau akhir-akhir ini kau terlihat sedikit tertekan" wanita itu menarik
sebuah bangku yang ada di meja sebelah dan duduk di samping Miran, ia menatap
wajah Miran yang terlihat letih.
"ya jujur saja mengurus 12
orang bukanlah hal yang mudah, ditambah lagi jadwal mereka yang harus tampil
di dua negara" Miran mendesah keras dan menyandarkan punggungnya
disandaran kursi yang tidak terlalu empuk.
Wanita yang di panggil senior
oleh Miran itu terseyum lembut.
"pekerjaan menjadi manager tak seberat menjadi seorang artis" wanita itu menggengam tangan Miran, pandanganya penuh makna dan dalam.
"Sunbae-nim aku tak paham
dengan perkataanmu?" tanya Miran seolah ia tak menerti walaupun sudah
sangat jelas ia tau apa yang di maksud oleh seniornya itu, artis yang di maksud
sunbae bukanlah EXO melainkan dirinya sendiri, Shin Miran.
"sudahlah jangan terlalu di
pikirkan" wanita bertubuh ramping itu bangkit dari kursi dan melepaskan genggaman
tangannya dari tangan Miran.
"aku sangat lelah dan ingin
segera pulang" sunbae membetulkan posisi tas jinjing orange yang ada di
lengan tangannya.
"kau juga harus segera
pulang, jangan terlalu lelah" lanjutnya mengingatkan.
"iya, aku akan pulang setelah
menyelesaikan ini semua" Miran mengangguk dan tersenyum sebisanya, walupun
jujur saja senyuman dibibirnya itu sama sekali tak nampak di matanya.
Wanita itu melambaikan tangan dan
keluar dari ruang kantor, setelah melihat kepergian sunbaenya Miran kembali
menatap layar komputer yang ada di hadapannya, gadis itu berusaha membuang
semua pikiran yang muncul setelah mengobrol dengan seniornya dan berusaha fokus
terhadap apa yang ia lakukan, walau mungkin akan sedikit sulit.
Sekitar 20 menit kemudian laporan
itu selesai, ia segera mencetaknya dan memasukannya dalam map berwara pink
bertuliskan SM Entertaiment lalu memasukan map itu dalam laci mejanya. Miran
melirik jam tangan yang sudah menunjukan pukul setengah 1 pagi. Ia sangat lelah
baik fisik dan pikiran.
Gadis itu sedikit melakukan peregangan untuk menghilangkan rasa pegal yang dari tadi hinggap di punggungnya dan beberapa tarikan nafas panjang untuk menghilangkan pikiran jenuhnya. Setelah di rasa cukup ia meraih tas punggung berwarna krem bermotif polkadot yang ia letakan di bawah mejanya dan memasukan barang-barangnya ke dalam tas lalu berjalan menuju lift.
Lift berukuran cukup luas itu
hanya berisikan satu orang, yaitu Miran. Gadis itu menatap sederet tombol yang
ada di samping pintu lift dengan bimbang, ia menggigit bibir bawahnya berusaha
memutuskan.Walau sedikit ragu akhirnya jari
lentiknya menekan sebuah tombol betuliskan angka 16 dari sederet angka
yang tertera disana. Miran menunggu dalam lift dengan cemas hingga lift itu
berhenti di tingkat yang ia tuju. Pintu besi yang menghalanginya akhirnya
terbuka, Miran berjalan keluar dari lift menuju sebuah ruangan yang akhir-akhir
ini menjadi tempat yang sangat sering ia kunjungi. Ruang latihan EXO.
Apa yang di lakukan gadis muda itu di ruang latihan EXO pada pukul 1 pagi?
Langkah
Miran terhenti tepat di depan pintu, ia menatap lurus pintu dihadapanya,
otaknya dapat membayangkan suasana di dalam ruangan itu saat terakhir kali ia
kesana untuk menemui artisnya. Dengan satu gerakan tangan Miran memutar knop
pintu bercat coklat kayu itu dan membukanya. Ia tak dapat melihat apa pun dalam
ruangan gelap itu, namun dengan langkah ragu ia memaksa tubuhnya untuk masuk ke
dalam, gadis itu meraba-raba permukaan dinding yang dingin untuk mencari tombol
lampu yang terletak di sebelah kanan pintu dan begitu menemukanya ia segera
menekan tombol tersebut dan seketika itu pula ruangan menjadi terang benerang. Miran
menyusuri setiap sudut ruangan melalui mata bulatnya dan berjalan menuju ke
tengah ruangan, sama sekali tidak ada perbedaan ketika ia meninggalkan ruangan
itu. Namun tatapannya berhenti pada dinding bercermin. Cermin itu sekarang
sedang memantulkan bayangan seorang gadis yang sangat familiar di matanya.
Gadis remaja dengan rambut poni
tail. Anak itu tersenyum pada Miran hingga menampakan sederet gigi putih
yang ia miliki. Dia mengerak-gerakan bola matanya dengan tidak sabaran hingga
akhirnya perlahan-lahan suara musik mengalun dari speaker yang ada di sudut
ruangan, musik itu memainkan irama yang ceria dan ketukan yang sedikit cepat
namun sangat menyenangkan. Senyum Gadis remaja itu semakin mengembang saat
mendengarkannya. Gadis berambut panjang itu menutup matanya berusaha mencari
momen yang tepat untuk memulai tariannya, sepatu kets merah yang ia kenakan
sedikit terhentak-hentak saat ia menunggu dan begitu mendapatkan apa yang ia
cari, mata bulatnya terbuka dan langsung bergerak dengan lincah mengikuti alur
yang bermain dengan indah untuk mengiringi setiap gerakannya.
Sama sekali tidak ada beban dalam
tawa dan tarianya, sesekali ia bersenandung dalam langkahnya, seluruh tubuh dan
jiwanya ikut menari, anak perempuan itu terlihat tak perduli dengan tetesan
keringat yang mulai membasahi baju dan juga wajah cantiknya, ia tetap menari
dan menari, ia bahkan bergerak melewati Miran begitu saja.
Melihat itu semua Miran hanya
bisa terpaku dalam bayangan masa lalunya. Ia masih berdiri mematung mengamati
dirinya yang masih remaja terus menggerakan tubuhnya seolah-olah menari adalah
nafasnya. Mata Miran terus mengikuti kemana langkah anak perempuan itu.
Iya, itu lah Miran 7 tahun yang lalu, dulu ia adalah trainee yang memiliki impian menjadi seorang idol. Hari-hari remajanya penuh dengan latihan menyanyi dan menari namun hal itu sudah ia angap sebagai hidupnya. Dulu gedung ini adalah rumah keduanya, setiap hari seusai sekolah ia akan datang kemari untuk belajar dengan trainee lain, ia bahkan masih ingat bagaimana rasa bahagia menyusup kedalam hatinya saat pelatih menghadiahinya dengan sebuah pujian bahwa ia sangat berbakat, gadis itu dapat menguasai gerakan baru dengan mudah. Bukan hanya menari tapi ia juga mempunyai kemampuan vokal yang apik, tak heran ia menjadi trainee populer dan digadang-gadang akan mendapatkan kesuksesan setelah ia debut nanti.
Namun itu semua tak mungkin, ia
tak mungkin bisa debut, ia bukanlah seorang idol, Miran harus mengubur semua
bakat yang ia miliki, menguburnya dalam-dalam sedalam yang ia bisa.
"apa yang aku pikirkan?
Tidak Miran! Itu adalah masa lalu! Hanya masa lalu!" Miran berusaha
menahan airmata yang menggenang di pelupuk matanya. Gadis itu selalu merasa
sedih saat mengingat kejadian yang ia lalui, semua itu membuat dadanya terasa
sesak oleh rasa kecewa.
Itu memang masa lalu, begitu menyenangkan saat ia jalani tapi begitu menyakitkan ketika ia kenang saat ini. Miran harus menelan semua impiannya dan mengubur jauh semua itu, tapi segala usaha yang ia lakukan untuk menjauhkan itu semua justru membutanya semakin terluka.
"sudahlah Miran, jangan
menangis" ucapnya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Gadis itu
menghapus butiran-butiran air mata yang akhirnya terjatuh membasahi pipinya
yang merona. Bayangan Miran remaja sudah hilang bersama jatuhnya airmata.
Sekarang ruangan itu kembali terasa sunyi, tak ada lagi musik yang mengalun,
kosong dan sepi hanya isakan Miran yang terdengar dalam ruangan itu.
"kau tak mungkin bisa
kembali, tak mungkin... tak mungkin kembali.." suaranya semakin lirih saat
mengatakan kalimat itu semakin ia berusaha menenangkan dirinya semakin rapuh
pertahanannya, suaranya semakin bergetar. Gadis itu menatap pantulan dirinya
saat ini, ia seorang manager bukan artis, ia memang begitu dekat dengan
kehidupan yang begitu diinginkannya, tapi ia tak mungkin pernah ada di sana.
Miran memukul-mukul dadanya yang
semakin terasa sesak, berusaha mempertahankan hatinya agar tidak hancur.
"appa, maafkan aku"
pertahanan gadis itu benar-benar roboh ia hanya bisa berusaha menopang tubuhnya
di dinding cermin agar tak tersungkur kelantai.
"Sungguh maafkan aku.”
isaknya.
Menjadi manager EXO membuat
segala kenanganya kembali terbayang lagi. Latihan keras yang ia jalani,
panggung besar yang selalu ada dalam mimpinya, bahkan ia pernah berkata akan
memperlakukan fansnya sebaik mungkin saat ia debut nanti.
Tapi hal itu tak
mungkin terjadi karna janji yang telah mengikat dirinya, tidak mungkin ia
melanggar apa yang telah ia janjikan pada ayahnya walaupun mungkin itu
menghancurkan hidupnya.Namun kebahagiaan ayahnya jauh
lebih penting ketimbang kebahagiaanya sendiri. Dan saat ini karna janjinya gadis itu menangis memeluk lututnya dalam ruangan kosong menangis sejadinya.
**
Miran tiba di dorm pukul 3 pagi tentu saja setelah ia berhasil menguasai emosinya lagi, ia pulang dengan mata yang sedikit bengkak dan rambut bobnya yang di ikat kebelakang membuat sebagian rambut yang ada di depan sedikit tergerai menutupi tulang pipinya. Gadis itu sangat lelah ia berjalan memasuki dorm dengan sedikit tenaga yang tersisa dari makan malamnya beberapa jam yang lalu, saat ia memasuki dorm tedengar suara tivi yang masih menyala dari ruang tengah, Suho dan Chen tertidur di depan tivi yang menyiarkan film barat yang sudah pernah di lihat yeonja itu sebelumnya.
Miran tersenyum samar melihat
Suho yang tertidur di sofa dengan mulut yang sedikit terbuka, sedang Chen
meringkuk di atas kapet dengan remote tivi yang masih ada di tanganya.
Dengan hati-hati Miran mengambil
remote itu dan mematikan tivi lalu membangunkan Chen dengan lembut.
"oppa mengapa kau tidur
disini? kembalilah kekamarmu" tanya Miran sedikit mengguncangkan tubuh
Chen, perlahan-lahan Chen membuka kedua matanya dan melihat sosok Miran yang ditunggunya sejak tadi dalam
tatapanya.
"kau sudah pulang? Jam
berapa ini?" Chen bangkit dan duduk bersilang kaki dengan berusaha keras menahan kantuknya.
"ini pukul 3 pagi oppa” jawab
Miran berusaha terlihat ceria, walau tak terlalu berhasil.
"kenapa kau baru pulang
sepagi ini? Kami menunggumu sejak tadi, dan kenapa kau terlihat begitu
berantakan? " Chen kembali bertanya begitu melihat wajah Miran yang
sedikit pucat karna lelah serta matanya yang masih terlihat bengkak.
"aku harus membuat laporan
sehingga aku sedikit lelah, karna aku sudah pulang kau dan Suho oppa bisa
kembali kekamarmu jangan tidur disini nanti badan kalian bisa sakit" ujar Miran
penuh perhatian.
Gadis itu segera bangkit dan
mengulurkan tangannya untuk membantu Chen berdiri, masih dalam keadaan
mengantuk Chen meraih tangan Miran dan bediri.
"kau juga harus segera
beristirahat" Chen mengelus-elus puncak kepala Miran lalu berjalan
mendekati Suho untuk membangunkan leadernya itu.
"hyung ayo kita kembali
kekamar" Chen memapah tubuh Suho dan berjalan menuju kamar.
Miran mengeleng pelan melihat
Suho dan Chen yang belum sepenuhnya sadar dari kantuk mereka berjalan sedikit
gontai untuk kembali ke kamar.
**
Setelah membersihkan diri Miran
merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang ia tiduri, namun matanya sama sekali
tak bisa terpejam, ingatan saat dirungan latihan tadi masih membekas dalam
benaknya. Berulang kali ia mengubah posisi tidurnya tapi rasa kantuk tetap tak
kunjung datang. Gadis itu tahu bahwa tubuhnya sangat lelah setelah seharian
beraktivitas dan ia sangat butuh tidur.
Akhirnya setelah lima belas menit berguling-guling di kasur tanpa bisa terlelap gadis itu bangkit dan mendekati meja yang ada di samping tempat tidurnya.
Di bukanya laci yang ada di meja
kecil itu. Beberapa tumpuk berkas dan sebuah botol obat kecil ada di sana. Segera
Miran meraih botol itu dengan tanganya lalu mengeluarkan dua butir pil dari
botol kaca itu dan menelannya. Gadis itu meletakan kembali botol obat tersebut
dalam laci dan mengambil air mineral yang ada di atas meja dan menegak habis
isinya yang tinggal separuh lalu kembali keranjannya, tak lupa sebelumnya Miran
mengatur alarm yang ada di ponselnya agar berbunyi pukul 6 pagi sehingga ia tak
terlambat bangun.
Gadis itu menarik selimutnya yang
berwarna ungu dan mendekap guling yang ada di sampingnya, pelahan rasa kantuk
yang ia tunggu datang, sepertinya obat tidur yang ia telan sudah mulai bekerja.
Mata yeonja itu terasa semakin berat hingga akhirnya ia tertidur pulas tanpa
memimpikan apapun.
****
bersambung... wow ternyata miran adalah trainee SM pantes aja dia cakep kaya artis, emang sebelumnya calon artis, tapi sayang bakatnya harus terkubur T.T
pukpuk geratis deh buat miran eonni..
yang tabahya.
dan kalian yang sabarya nunggu lanjutanya.
bye.. bye.. sampai jumpa di part 5 ^^








0 komentar:
Posting Komentar