Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Manage Your Manager Part 4

aaannnnyyyeeeooonngggg akhirnya kita sampek juga di part 4
disini terungakap sesuatu looo,,
want to know?? baca aja sampek abis oke??
hepi reading ^^
tapi maaf ya member exo cuma nongol dikit hehehe..

Manage Your Manager part 4
Cast: all exo member, shin miran (oc), super junior, and other.
Genre: Brothership, Drama, sedikit humor.
Rating: PG-13.


Miran tidak bisa ikut pulang bersama EXO karna ia harus menunggu fax dari stasiun radio yang ada di Cina, namun ternyata fax itu baru ia terima pukul 11 malam, maka mau tak mau Miran harus segera membuat laporannya karna harus di tanda tangani bosnya besok pagi sehingga ia tidak memiliki banyak waktu untuk mengerjakannya.

Lantai 20 terlihat sudah sedikit sepi, ya hanya sepi tidak benar-benar kosong karna setiap hari pasti ada karyawan yang lembur dan untuk hari ini Miran adalah salah satunya, yeonja itu dapat melihat beberapa orang masih sibuk dengan pekerjaan mereka walau malam sudah semakin larut.

"Manager Shin kau belum pulang?" tanya seorang wanita berusia awal 30-an yang sekarang sedang berdiri di samping tempat duduk Miran.

"belum Sunbae-nim" Miran mengalihkan pandangannya dari layar komputer dan menatap wanita berambut keriting itu lalu tersenyum.


"jangan terlalu lelah, aku tau akhir-akhir ini kau terlihat sedikit tertekan" wanita itu menarik sebuah bangku yang ada di meja sebelah dan duduk di samping Miran, ia menatap wajah Miran yang terlihat letih.

"ya jujur saja mengurus 12 orang bukanlah hal yang mudah, ditambah lagi jadwal mereka yang harus tampil di dua negara" Miran mendesah keras dan menyandarkan punggungnya disandaran kursi yang tidak terlalu empuk.

Wanita yang di panggil senior oleh Miran itu terseyum lembut.

"pekerjaan menjadi manager tak seberat menjadi seorang artis" wanita itu menggengam tangan Miran, pandanganya penuh makna dan dalam.

"Sunbae-nim aku tak paham dengan perkataanmu?" tanya Miran seolah ia tak menerti walaupun sudah sangat jelas ia tau apa yang di maksud oleh seniornya itu, artis yang di maksud sunbae bukanlah EXO melainkan dirinya sendiri, Shin Miran.

"sudahlah jangan terlalu di pikirkan" wanita bertubuh ramping itu bangkit dari kursi dan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Miran.

"aku sangat lelah dan ingin segera pulang" sunbae membetulkan posisi tas jinjing orange yang ada di lengan tangannya.

"kau juga harus segera pulang, jangan terlalu lelah" lanjutnya mengingatkan.

"iya, aku akan pulang setelah menyelesaikan ini semua" Miran mengangguk dan tersenyum sebisanya, walupun jujur saja senyuman dibibirnya itu sama sekali tak nampak di matanya.

Wanita itu melambaikan tangan dan keluar dari ruang kantor, setelah melihat kepergian sunbaenya Miran kembali menatap layar komputer yang ada di hadapannya, gadis itu berusaha membuang semua pikiran yang muncul setelah mengobrol dengan seniornya dan berusaha fokus terhadap apa yang ia lakukan, walau mungkin akan sedikit sulit.

Sekitar 20 menit kemudian laporan itu selesai, ia segera mencetaknya dan memasukannya dalam map berwara pink bertuliskan SM Entertaiment lalu memasukan map itu dalam laci mejanya. Miran melirik jam tangan yang sudah menunjukan pukul setengah 1 pagi. Ia sangat lelah baik fisik dan pikiran.

Gadis itu sedikit melakukan peregangan untuk menghilangkan rasa pegal yang dari tadi hinggap di punggungnya dan beberapa tarikan nafas panjang untuk menghilangkan pikiran jenuhnya. Setelah di rasa cukup ia meraih tas punggung berwarna krem bermotif polkadot yang ia letakan di bawah mejanya dan memasukan barang-barangnya ke dalam tas lalu berjalan menuju lift.

Lift berukuran cukup luas itu hanya berisikan satu orang, yaitu Miran. Gadis itu menatap sederet tombol yang ada di samping pintu lift dengan bimbang, ia menggigit bibir bawahnya berusaha memutuskan.Walau sedikit ragu akhirnya jari lentiknya menekan sebuah tombol  betuliskan angka 16 dari sederet angka yang tertera disana. Miran menunggu dalam lift dengan cemas hingga lift itu berhenti di tingkat yang ia tuju. Pintu besi yang menghalanginya akhirnya terbuka, Miran berjalan keluar dari lift menuju sebuah ruangan yang akhir-akhir ini menjadi tempat yang sangat sering ia kunjungi. Ruang latihan EXO.

Apa yang di lakukan gadis muda itu di ruang latihan EXO pada pukul 1 pagi?

Langkah Miran terhenti tepat di depan pintu, ia menatap lurus pintu dihadapanya, otaknya dapat membayangkan suasana di dalam ruangan itu saat terakhir kali ia kesana untuk menemui artisnya. Dengan satu gerakan tangan Miran memutar knop pintu bercat coklat kayu itu dan membukanya. Ia tak dapat melihat apa pun dalam ruangan gelap itu, namun dengan langkah ragu ia memaksa tubuhnya untuk masuk ke dalam, gadis itu meraba-raba permukaan dinding yang dingin untuk mencari tombol lampu yang terletak di sebelah kanan pintu dan begitu menemukanya ia segera menekan tombol tersebut dan seketika itu pula ruangan menjadi terang benerang. Miran menyusuri setiap sudut ruangan melalui mata bulatnya dan berjalan menuju ke tengah ruangan, sama sekali tidak ada perbedaan ketika ia meninggalkan ruangan itu. Namun tatapannya berhenti pada dinding bercermin. Cermin itu sekarang sedang memantulkan bayangan seorang gadis yang sangat familiar di matanya.

Gadis remaja dengan rambut poni tail.  Anak itu tersenyum pada Miran hingga menampakan sederet gigi putih yang ia miliki. Dia mengerak-gerakan bola matanya dengan tidak sabaran hingga akhirnya perlahan-lahan suara musik mengalun dari speaker yang ada di sudut ruangan, musik itu memainkan irama yang ceria dan ketukan yang sedikit cepat namun sangat menyenangkan. Senyum Gadis remaja itu semakin mengembang saat mendengarkannya. Gadis berambut panjang itu menutup matanya berusaha mencari momen yang tepat untuk memulai tariannya, sepatu kets merah yang ia kenakan sedikit terhentak-hentak saat ia menunggu dan begitu mendapatkan apa yang ia cari, mata bulatnya terbuka dan langsung bergerak dengan lincah mengikuti alur yang bermain dengan indah untuk mengiringi setiap gerakannya.

Sama sekali tidak ada beban dalam tawa dan tarianya, sesekali ia bersenandung dalam langkahnya, seluruh tubuh dan jiwanya ikut menari, anak perempuan itu terlihat tak perduli dengan tetesan keringat yang mulai membasahi baju dan juga wajah cantiknya, ia tetap menari dan menari, ia bahkan bergerak melewati Miran begitu saja.

Melihat itu semua Miran hanya bisa terpaku dalam bayangan masa lalunya. Ia masih berdiri mematung mengamati dirinya yang masih remaja terus menggerakan tubuhnya seolah-olah menari adalah nafasnya. Mata Miran terus mengikuti kemana langkah anak perempuan itu.

Iya, itu lah Miran 7 tahun yang lalu, dulu ia adalah trainee yang memiliki impian menjadi seorang idol. Hari-hari remajanya penuh dengan latihan menyanyi dan menari namun hal itu sudah ia angap sebagai hidupnya. Dulu gedung ini adalah rumah keduanya, setiap hari seusai sekolah ia akan datang kemari untuk belajar dengan trainee lain, ia bahkan masih ingat bagaimana rasa bahagia menyusup kedalam hatinya saat pelatih menghadiahinya dengan sebuah pujian bahwa ia sangat berbakat, gadis itu dapat menguasai gerakan baru dengan mudah. Bukan hanya menari tapi ia juga mempunyai kemampuan vokal yang apik, tak heran ia menjadi trainee populer dan digadang-gadang akan mendapatkan kesuksesan setelah ia debut nanti.

Namun itu semua tak mungkin, ia tak mungkin bisa debut, ia bukanlah seorang idol, Miran harus mengubur semua bakat yang ia miliki, menguburnya dalam-dalam sedalam yang ia bisa.

"apa yang aku pikirkan? Tidak Miran! Itu adalah masa lalu! Hanya masa lalu!" Miran berusaha menahan airmata yang menggenang di pelupuk matanya. Gadis itu selalu merasa sedih saat mengingat kejadian yang ia lalui, semua itu membuat dadanya terasa sesak oleh rasa kecewa.

Itu memang masa lalu, begitu menyenangkan saat ia jalani tapi begitu menyakitkan ketika ia kenang saat ini. Miran harus menelan semua impiannya dan mengubur jauh semua itu, tapi segala usaha yang ia lakukan untuk menjauhkan itu semua justru membutanya semakin terluka.

"sudahlah Miran, jangan menangis" ucapnya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Gadis itu menghapus butiran-butiran air mata yang akhirnya terjatuh membasahi pipinya yang merona. Bayangan Miran remaja sudah hilang bersama jatuhnya airmata. Sekarang ruangan itu kembali terasa sunyi, tak ada lagi musik yang mengalun, kosong dan sepi hanya isakan Miran yang terdengar dalam ruangan itu.

"kau tak mungkin bisa kembali, tak mungkin... tak mungkin kembali.." suaranya semakin lirih saat mengatakan kalimat itu semakin ia berusaha menenangkan dirinya semakin rapuh pertahanannya, suaranya semakin bergetar. Gadis itu menatap pantulan dirinya saat ini, ia seorang manager bukan artis, ia memang begitu dekat dengan kehidupan yang begitu diinginkannya, tapi ia tak mungkin pernah ada di sana.

Miran memukul-mukul dadanya yang semakin terasa sesak, berusaha mempertahankan hatinya agar tidak hancur.

"appa, maafkan aku" pertahanan gadis itu benar-benar roboh ia hanya bisa berusaha menopang tubuhnya di dinding cermin agar tak tersungkur kelantai.

"Sungguh maafkan aku.” isaknya.

Menjadi manager EXO membuat segala kenanganya kembali terbayang lagi. Latihan keras yang ia jalani, panggung besar yang selalu ada dalam mimpinya, bahkan ia pernah berkata akan memperlakukan fansnya sebaik mungkin saat ia debut nanti.

Tapi hal itu tak mungkin terjadi karna janji yang telah mengikat dirinya, tidak mungkin ia melanggar apa yang telah ia janjikan pada ayahnya walaupun mungkin itu menghancurkan hidupnya.Namun kebahagiaan ayahnya jauh lebih penting ketimbang kebahagiaanya sendiri. Dan saat ini karna janjinya gadis itu menangis memeluk lututnya dalam ruangan kosong menangis sejadinya.

**

Miran tiba di dorm pukul 3 pagi tentu saja setelah ia berhasil menguasai emosinya lagi, ia pulang dengan mata yang sedikit bengkak dan rambut bobnya yang di ikat kebelakang membuat sebagian rambut yang ada di depan sedikit tergerai menutupi tulang pipinya. Gadis itu sangat lelah ia berjalan memasuki dorm dengan sedikit tenaga yang tersisa dari makan malamnya beberapa jam yang lalu, saat ia memasuki dorm tedengar suara tivi yang masih menyala dari ruang tengah, Suho dan Chen tertidur di depan tivi yang menyiarkan film barat yang sudah pernah di lihat yeonja itu sebelumnya.

Miran tersenyum samar melihat Suho yang tertidur di sofa dengan mulut yang sedikit terbuka, sedang Chen meringkuk di atas kapet dengan remote tivi yang masih ada di tanganya.

Dengan hati-hati Miran mengambil remote itu dan mematikan tivi lalu membangunkan Chen dengan lembut.

"oppa mengapa kau tidur disini? kembalilah kekamarmu" tanya Miran sedikit mengguncangkan tubuh Chen, perlahan-lahan Chen membuka kedua matanya dan melihat sosok Miran yang ditunggunya sejak tadi dalam tatapanya.

"kau sudah pulang? Jam berapa ini?" Chen bangkit dan duduk bersilang kaki dengan berusaha keras menahan kantuknya.

"ini pukul 3 pagi oppa” jawab Miran berusaha terlihat ceria, walau tak terlalu berhasil.

"kenapa kau baru pulang sepagi ini? Kami menunggumu sejak tadi, dan kenapa kau terlihat begitu berantakan? " Chen kembali bertanya begitu melihat wajah Miran yang sedikit pucat karna lelah serta matanya yang masih terlihat bengkak.

"aku harus membuat laporan sehingga aku sedikit lelah, karna aku sudah pulang kau dan Suho oppa bisa kembali kekamarmu jangan tidur disini nanti badan kalian bisa sakit" ujar Miran penuh perhatian.

Gadis itu segera bangkit dan mengulurkan tangannya untuk membantu Chen berdiri, masih dalam keadaan mengantuk Chen meraih tangan Miran dan bediri.

"kau juga harus segera beristirahat" Chen mengelus-elus puncak kepala Miran lalu berjalan mendekati Suho untuk membangunkan leadernya itu.

"hyung ayo kita kembali kekamar" Chen memapah tubuh Suho dan berjalan menuju kamar.

Miran mengeleng pelan melihat Suho dan Chen yang belum sepenuhnya sadar dari kantuk mereka berjalan sedikit gontai untuk kembali ke kamar.

** 

Setelah membersihkan diri Miran merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang ia tiduri, namun matanya sama sekali tak bisa terpejam, ingatan saat dirungan latihan tadi masih membekas dalam benaknya. Berulang kali ia mengubah posisi tidurnya tapi rasa kantuk tetap tak kunjung datang. Gadis itu tahu bahwa tubuhnya sangat lelah setelah seharian beraktivitas dan ia sangat butuh tidur.

Akhirnya setelah lima belas menit berguling-guling di kasur tanpa bisa terlelap gadis itu bangkit dan mendekati meja yang ada di samping tempat tidurnya.

Di bukanya laci yang ada di meja kecil itu. Beberapa tumpuk berkas dan sebuah botol obat kecil ada di sana. Segera Miran meraih botol itu dengan tanganya lalu mengeluarkan dua butir pil dari botol kaca itu dan menelannya. Gadis itu meletakan kembali botol obat tersebut dalam laci dan mengambil air mineral yang ada di atas meja dan menegak habis isinya yang tinggal separuh lalu kembali keranjannya, tak lupa sebelumnya Miran mengatur alarm yang ada di ponselnya agar berbunyi pukul 6 pagi sehingga ia tak terlambat bangun.

Gadis itu menarik selimutnya yang berwarna ungu dan mendekap guling yang ada di sampingnya, pelahan rasa kantuk yang ia tunggu datang, sepertinya obat tidur yang ia telan sudah mulai bekerja. Mata yeonja itu terasa semakin berat hingga akhirnya ia tertidur pulas tanpa memimpikan apapun.


****
bersambung... wow ternyata miran adalah trainee SM pantes aja dia cakep kaya artis, emang sebelumnya calon artis, tapi sayang bakatnya harus terkubur T.T 
pukpuk geratis deh buat miran eonni..
yang tabahya.
dan kalian yang sabarya nunggu lanjutanya.
bye.. bye.. sampai jumpa di part 5 ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: