Manage your manager part 13
Part sebelumnya bisa di klik di sini
cerita ini bakal end di wattpad-> indeenski
*****
Seorang namja tengah teduduk disebuah kursi dengan tangan yang ia tumpukan pada sebuah meja kayu bercat coklat muda di dalam ruangan tersebut, namja bermata bulat itu tengah memandangi sesuatu sejak setengah jam yang lalu tanpa ada perasaan bosan sedikitpun. Mungkin dari pada sekedar memandangi kata mengamati lebih tepat untuk menggambarkan apa yang tengah ia lakukan saat ini. Namja yang merupakan salah satu pemilik suara termerdu dalam boyband asuhan SM itu hanya terdiam dan sesekali memiringkan kepalanya seolah berfikir akan suatu hal. Jika ada sebuah garis lurus tergambar dari arah pandangan Kyungsoo maka akan terlihat namja lain yang tengah tertidur diranjang tingkatnya dengan posisi yang tampaknya tidak terlalu nyaman.
“Miran kembalilah” ucap bibir tebal Kai walupun ia masih terjebak didalam alam bawah sadarnya.
‘Sepertinya ada sesuatu yang salah dengan semua ini’ D.O menatap Kai dengan tatapan prihatin pada namja yang lebih mudah setahun darinya itu, wajah tampan namja bernama lengkap Kim Jongin itu tampak tertekan dan beberapa peluh mulai membasahi dahinya.
Beberapa saat yang lalu Kai pulang dengan wajah usut dan langkah gontai, pria dengan tinggi 183 cm itu menjatuhkan dirinya di sofa tepat di sebelah D.O yang tengah menikmati apa yang ditontonnya dengan sekantung kripik kentang di tangan. Kyungsoo yang awalnya tak memperdulikan kehadiran Kai mau tak mau mengalihkan focusnya karna pertanyaan yang diajukan bocah laki-laki yang lebih muda darinya itu.
Pertanyaan-pertanyaan yang bisa dibilang sidikit tak penting dan tak perlu dipikirkan walau namja berkulit tan itu terlihat sangat ingin mendapatkan jawaban akan pertanyaan tersebut. Dan kini semua pertanyaan yang diajukan Kai mulai mengusik pemikiran D.O.
-Setengah jam yang lalu-
“Kau ingin apa untuk makan siang?” suara Baekhyun terdengar di ujung telfon. Namja itu dan beberapa member lain memilih pergi berbelanja untuk mengahabiskan libur mereka sepanjang hari ini.
“Belikan aku apa saja” jawab D.O masih dengan padangan yang tertuju pada TV plasma yang ada diruang tengah.
“Kau yakin? Aku tak terima complain jika nanti yang datang bukan seleramu” ujar Baekhyun lagi setelah mendengar jawaban D.O yang begitu pendek dan tak acuh.
“Eoh” hanya itu yang sanggup di ucapkan namja yang lahir di bulan Januari itu karna terlalu focus pada apa yang ditontonnya tanpa memikirkan perasaan sang penanya.
“Hei! setidaknya kau bisakan menjawabnya dengan benar! Jangan uji kesabaranku!” Baekhyun yang tak terima dengan perlakuan D.O mulai mengeluh karna kesal dengan ucapan dan nada bicara namja bermarga Do itu.
“Nde” sekali lagi tak lebih dari sepatah kata yang keluar dari bibir berbentuk hati itu, yang mungkin jika ditelaah yang berbeda hanyalah pada tingkat kesopanannya saja.
“Awas saja kau nant....”
Tuttt Tuuttt Tuuut...
“Ck! Brisik sekali!” gumam D.O begitu berhasil memutuskan sambungan telfon dari rekan satu grubnya itu lalu melempar ponselnya asal dan kembali menatap layar yang tengah menunjukan aksi dari salah satu avengers marvel itu.
‘Dret.. dret..’ kembali pria dengan rambut coklat itu menerima panggilan masuk di ponselnya.
“Ne?” jawab Kyungsoo sekenanya setelah berhasil meraih ponselnya lagi.
“Apa Jongin sudah pulang?” kali ini suara Xiumin yang hinggap di pendengarannya.
“Iya, dia sedang istirahat di kamarnya sekarang, waeyo?” Tanya D.O sambil meraba-raba sofa mencari dimana terakhir kali ia meletakan remote tv-nya untuk menghentikan sementara film yang tengah ia saksikan.
“Agh! sayang sekali, padahal aku ingin titip sesuatu.. tapi sudahlah jika ia sudah pulang” Kyungsoo mendengarkan keluhan Hyungnya sambil menekan tombol pause dari remote yang baru saja ditemukannya.
“Kau ingin titip apa Hyung?” Tanya D.O penasaran.
“Tiramisu, seperti biasanya” jawab Umin Hyung si pencinta kopi dari ujung seberang sana.
Mendengar jawaban itu membuat D.O mengalihkan pandangannya pada paper bag yang Jongin bawa saat pulang tadi, paper bag bertuliskan kamong cafe itu tergeletak cantik di atas meja tanpa bergeser satu cm pun sejak Jongin meletakanya di sana.
“Cakkaamnyo” pinta D.O yang dengan sigap meletakan ponselnya diantara bahu dan kepala yang saling menghimpit lalu kedua tangannya berusaha membuka apa yang ada di dalam paper bag itu.
“Keinginanmu terkabul, Hyung” ucap D.O begitu melihat isi paper bag itu persis sama dengan apa yang Hyungnya inginkan.
“Jinjja, bagaimana bisa?” Tanya namja berumur 23 tahun itu dengan senyum yang mulai menegembang.
“Sepertinya Kakak Jongin sudah hafal dengan kebiasaan kita” ujar D.O sambil kembali menutup paper bag berisikan tiramisu itu.
Ya tentu saja Kim Jungah sudah hafal permintaan Jongin saat sang adik datang ke cafe. Namja itu pasti akan meminta seloyang tiramisu untuk dibawa kembali ke dorm karna menurut rekan-rekannya di grub tidak ada yang lebih enak selain tiramisu dari kamong cafe.
“Wahh Kakak Jongin memang baik sekali, ohh kami akan pulang sebentar lagi kau yakin tak ingin dibelikan sesuatu?” Tanya Umin Hyung dengan nada begitu ringan.
“Tidak, tidak ada” jawab namja berkaus merah maroon itu datar sambil menggelengkan sedikit kepalanya seolah sang penelfon dapat melihat gelengannya itu.
“Bagaimana dengan Jongin?” kembali Xiumin Hyung bertanya.
“Jongin? Sebentar aku tanyakan padanya” D.O memaksakan diri bangkit dari sofa yang begitu nyaman dan berjalan menuju salah satu ruangan dengan pintu tertutup, perlahan namja berambut coklat itu memutar knop pintu dan membukanya dengan sangat pelan dan berhati-hati karna mungkin saja Kai sudah tidur mengingat bagaimana kusutnya wajah pemilik nama Kim Jongin itu tadi.
“Apa ada sesuatu yang terjadi di rumahmu? Atau justru di... perusahaanmu?” gumam Kai pada ponselnya. D.O yang menyaksikan itu mulai mengerutkan keningnya dan mundur beberapa langkah.
“Hyung, nanti aku telpon lagi nde” ucap D.O begitu dirasa sudah cukup jauh dari ambang pintu kamar miliknya, Chanyeol dan Kai.
Namja berkulit putih itu mematikan ponselnya tanpa perlu menunggu respon balik dari seseorang di ujung sana, kemudian memasukan benda persegi itu dalam saku celana pendek selutut yang tengah ia kenakan lalu dengan sedikit berjungkit ia kembali mendekatkan diri pada ambang pintu yang sengaja ia biarkan terbuka sedikit.
“D.O Hyung benar.. aku hanyalah artis baru.. pendapatanku bahkan mungkin tak ada separuh dari gaji yang didapatkan Miran jika ia menjadi CEO perusahaan” kembali ia mendengar gumaman Kai yang terasa sedikit aneh untuk dipahami.
‘Pendapatan? Ceo perusahaan? Miran adalah CEO?’ namja yang akrab dengan sebutan pinguin itu menatap Kai bingung, ia sungguh tak paham dengan apa yang tengah dipikirkan pemuda itu.
“Miran-ah.. Aku sungguh berharap ini bukan kenyataan”
‘Kenyataan apa? Kenapa Kai terus memanggil nama Miran?’ D.O tak henti berusaha memahami apa yang dimaksud Kai dengan segela gumamannya itu.
Dan perlahan ia melihat Kai mulai tertidur di kasurnya.
-flashback end-
Disinilah D.O sekarang, ia tengah duduk dengan tenang sembari mendengarkan semua igauan Jongin. Entah apa yang terjadi dalam mimpi pemuda itu tapi yang jelas itu bukanlah mimpi yang indah.
“Miraaannn....” D.O mulai menggumakan nama managernya itu dan menimbang-nimbang apa yang sebenarnya terjadi pada Kai hingga ia terus menggumamkan nama itu.
“CEO....” ucapnya lagi, ia tengah berusaha mencari hubungan akan semua ini. Karna jujur ini membuatnya terfikir akan pembicaraan para member EXO saat mereka tidur bersama diruang tengah. Saat itu Kris berkata bahwa mereka tak tahu apa-apa tentang Miran dan saat ini D.O yakin bahwa Jongin tahu sesuatu akan managernya itu.
Tak sanggup lagi menatap Jongin yang terus memanggil-manggil sang manager dengan nada putus asa, akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk bangkit dari kursi dan keluar dari kamar bernuasa putih itu.
Pemuda berkaus maroon itu berjalan menuju dapur dan mengambil sekaleng jus apel yang ia letakan di kulkas beberapa hari lalu. Perlah kyungsoo menegak isinya dan memilih duduk disalah satu kursi mini bar.
‘Apa ini ada hubungannya dengan pertanyaan yang tadi ia berikan? Bukankah tadi ia bilang bertemu seorang chaebol di cafe?’ namja beralis tebal itu menatap kaleng yang sedang berada di tangannya seolah ada jawaban yang akan keluar disana.
“Bagaimana jika aku telfon kakak Jongin?” gumamnya lalu kembali mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku celana.
Tak perlu waktu lama ia bisa menemukan kontak milik kakak kedua Jongin itu dan segera menghubunginya.
‘Tuuuuttt....tuuuuuuutttttt....tuuuuuuuuuuuuuuttttt...’
“Halo?” butuh beberapa saat hingga akhirnya seorang gadis menjawab panggilannya itu.
"Oh, Anyeonghaseyo Noona, ini aku Kyungsoo” ucap D.O berusaha untuk tetap menjaga kesopanannya pada orang yang lebih tua darinya.
“Oh Kyungsoo, ada apa?” Tanyanya tanpa basa basi, hemm mungkin saja cafe Jongin memang sedang sibuk mengingat ini pukul 2 siang, waktu dimana orang-orang memilih untuk makan siang atau menghabiskan waktu istirahatnya diluar dan cafe biasanya menjadi salah satu pilihan hingga gadis bermarga Kim itu tak ingin membuang-buang waktu.
“Ahh aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas oleh-oleh yang kau berikan, kami sangat menyukainya” jelas D.O berbasa-basi karna memang bukan itu tujuan utama mengapa ia menghubungi Kakak Jongin itu.
“Baguslah jika kalian menyukainya, itu hanya tiramisu lain kali jika kalian mampir aku akan memberikan sesuatu yang lebih enak” ujar Kakak Jongin diluar sana dengan begitu ramah.
“Ohh kalian pasti terkejut bukan?” tiba-tiba noona dari Jongin itu menanyakan hal yang aneh menurut namja penyuka warna hitam itu.
'Terkejut? Terkejut akan apa?' Kyungsoo mengerutkan alisnya karna pertanyaan aneh dari gadis yang tengah berbicara dengannya dari sambungan telfon itu.
“Nde, kami terkejut” jawab dengan nada sedikit tak yakin didalamnya sebab ia berbohong seolah sudah terkejut akan sesuatu, padahal ia sama sekali tak mengerti kemana arah pembicaraan ini, tapi yang jelas akan lebih mudah mengetahuinya jika ia berpura-pura sudah tahu.
“Aku juga sangat terkejut, tak kuduga ternyata manager kalian adalah chaebol” pupil namja itu membesar seketika setelah mengetahui apa yang dimaksud oleh kakak dari salah satu member termuda di EXO itu. Ia memang sempat mendengar Kai mengatakan bahwa Miran adalah seorang CEO, dan pikiran itupun sempat terpikir olehnya tapi ia segera menampiknya karna tak yakin apakah Miran memiliki hubungan dengan kata CEO tersebut namun sungguh mendengar bahwa itu kenyataan terasa sangat amat mengejutkan untuknya.
“N-Nde, kami tak menyangka dia adalah seorang cha-chaebol” sekuat tenaga Kyungsoo berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya walau masih terdengar terbata saat mengatakan sebuah kenyataan yang tak pernah terbayang olehnya. Otak namja itu kembali teringat pembicarannya dengan Jongin di sofa tadi.
“Tapi apakan benar itu Scorp?” Tanya D.O hati-hati mengingat bagaimana Jongin terus bertanya tentang perusahaan itu, Namja bermata bulat itu sepertinya punya kemapuan lebih dalam beracting karna dengan begitu cepat ia dapat mengatur perasaannya dan bersikap seoalah sudah mengetahuinya sejak awal tanpa mebuat sang lawan bicara curiga.
“Aku juga awalnya tak percaya, tapi setelah Hanbin menunjukan foto keluarganya kami tak bisa menyangkal lagi bahwa apa yang ia jelaskan itu benar” kembali D.O harus meraba apa yang dijelaskan gadis yang lebih tua darinya itu.
‘Siapa Hanbin?’ tanyanya dalam hati, nama itu sepertinya pernah terdengar sebelumnya.
“Lalu apa yang akan kalian lakukan?” Tanya wanita disebrang sana dengan rasa ingin tahu yang sangat terasa dalam ucapanya.
“Kami belum tahu apa yang akan terjadi berikutnya, Noona...” ucapan D.O terhenti saat ia merasa ada seseorang yang tengah menekan password pintu apartemen EXO.
“D.O-ya aku tutup dulu terlfonnya karna ada pelanggan yang harus aku layani, maaf ya” Untung saja kakak Jongin itu tak curiga sedikitpun, gadis itu bahkan lebih dulu memutuskan sambungan telfon di saat D.O sedang mencari alasan untuk menyudahi perbincangan mereka.
“Ohh sekali lagi terimakasih atas tiramisunya, kami sangat menikmatinya” sekali lagi namja itu mengucapkan rasa terimaksihnya, mungkin yang satu ini lebih ia tujukan atas segala informasi yang sudah gadis itu berikan padanya.
“AGHHHH!!! AKHIRNYA SAMPAI JUGA!” teriak Chen begitu tubuhnya berhasil melewati pintu masuk, namja bersuara tinggi itu langsung merebahkan diri di sofa putih yang ada di ruang tengah.
“D.O-ya kami pulang!” Chanyeol dengan semangat memamerkan paper bag yang berisi barang-barang yang baru ia beli dengan cara menggoyang-goyangkan tas-tas kertas itu.
“Mana tiramisuku?” Xiumin Hyung yang terlihat tampan dengan hoodienya langsung mencari apa yang ia inginkan sejak tadi dan secepat kilat menuju paper bag yang segera menarik perhatiannya.
Sedang D.O masih termenung dengan pikirannya sendiri, ia berusaha mencerna pembicaraan singkatnya dengan gadis yang merupakan kakak dari Jongin tadi.
“Yak! Kau ini sedang berpikir apa, eoh?” Tanya Chanyeol yang sekarang sudah berdiri di hadapanya, kedua namja itu hanya terpisah oleh sebuah meja bar.
“Ani.. bukan apa-apa” D.O mengeleng pelan dan menatap Chanyeol yang terlihat tampan dengan kaus jingga tuanya itu dengan tenang, ia benar-benar pandai menyembunyikan rasa terkejut dan bingung yang hinggap pada hatinya seolah benar-benar tak ada yang terjadi.
“Mana makan siangku?” Tanya namja itu kemudian.
“Makan siangmu?” Baekhyun yang semula merebahkan diri di karpet segera bangkit saat mendengar pertanyaan D.O.
“Ini” namja itu menyodorkan sesuatu yang terbungkus dengan kantung plastic hitam.
D.O menerima plastic itu dan melihat isinya.
“Ttopoki?” tanyanya ketika indra penciumannya menangkap aroma jajanan khas korea itu.
“Wae? Bukankah kau bilang akan makan apa saja?” tantang Baekhyun yang masih tidak terima dengan sikap D.O di telpon tadi. Chanyeol yang mendegarkan pembicaraan mereka memilih untuk menyingkir dibandingkan terkena imbasnya nanti.
“Tapi ini bukan makanan” D.O menatap Hyungnya itu sebal.
“Lalu apa namanya jika bukan makanan?” Baekhyun melipat kedua tangannya di depan dada.
“Maksudku ini bukanlah menu untuk makan siang” jawab D.O dengan sedikit meninggikan suaranya.
“Bukankah sudah aku katakan jika aku tak menerima complain?” ucap Baekhyun bersikeras akan kebenarannya.
“Hei! Sudahlah! Ini makan siang mu Kyungsoo” Chen yang mulai jengah dengan perdebatan yang memang direncanankan Baekhyun itu memilih untuk menghentikannya dan memberikan spaghetti yang memang sengaja mereka beli untuk D.O.
“Kau pikir aku sekejam itu padamu, huh?” Tanya Baekhyun ketika D.O mendapatkan spaghetti kesukaannya.
“Eoh” jawab D.O pendek dengan wajah polos.
“Yak! Kau ini! Dasar!” Baekhyun memilih untuk menelan rasa kesalnya dan menyingkir setelah selesai membalas dendam, lalu membiarkan D.O sendiri dengan makan siangnya.
“Dimana Jongin?” Tanya Xiumin Hyung saat akan mengambil sendok untuk menikmati tiramisu pemberian kakak Jongin itu.
“Diea sedhang tidur” jawab D.O dengan tak begitu jelas sebab mulutnya terisi penuh dengan pasta.
***
Keesokan harinya, hari tampak cerah seperti yang sudah diperkirakan ramalan cuaca yang ditayangkan di acara berita semalam. Hari yang indah dan sangat cocok untuk menghabiskan waktu diluar bersama dengan orang-orang terdekat dan sanak keluarga. Dari kejauhan tampak sebuah taxi yang tengah terhenti di pinggiran jalan yang tampak cukup ramai dilalui kendaraan.
“Nona kita sudah sampai” ucap sang supir taksi itu lagi, sudah sejak lima menit lalu ia menghentikan kendaraannya di depan sebuah gedung di daerah Gangnam.Namun sepertinya gadis yang tengah duduk di bangku penumpang itu tak mendengar apa yang ia katakan.
“Agashi? Kau yakin ingin turun disini?” Tanya pengemudi taksi itu akhirnya karna melihat gelagat sang penumpang yang sepertinya enggan untuk beranjak dari tempat duduknya.
“Nde” jawab bibir mungil itu pada akhirnya. Gadis itu menggenggam erat sebuah buku seolah buku itu merupakan sumber kekuatanya. Perlahan tangan lentiknya terulur untuk membuka pintu taksi dan melangkah keluar, tak lupa beberapa lembar uang ia keluarkan dari dompetnya untuk membayar ongkos taksi yang tengah membawanya dari bandara menuju gedung yang amat sangat familiar untuknya. Gedung SM Enterataiment.
Gadis berambut bob dengan warna coklat itu menarik nafasnya panjang, raut lelah tergambar jelas di wajah cantiknya mengingat kemarin ia baru saja pergi ke Beijing dan sekarang ia sudah kembali berada di Korea.
“Haaahhh, apa ini keputusan yang benar” gumam gadis bernama lengkap Shin Miran itu.
Sudah tiga hari ia lalui, tiga hari yang ia gunakan untuk berfikir, tiga hari yang cukup sulit untuk dilalui gadis itu. Gadis cantik yang tengah berdiri terpaku tersebut terlihat kembali menimbang keputusannya dengan berat, belum terlambat jika ia ingin mengubahnya saat ini.
“Eottoke?” Miran mengigit bibir bawahnya keras, ia memang sudah memutuskan apa yang akan ia pilih semalam saat ia memutuskan untuk segera kembali ke Korea, tapi saat ini pikirannya kembali goyah setelah menatap gedung tempatnya bekerja itu.
‘Ayolah Shin Miran! Berhenti menjadi plin-plan kau sudah memutuskannya bukan?’ batin gadis itu berusaha menguatkan diri dan sepertinya itu berhasil karna perlahan Miran mulai melangkahakan kakinya menuju pintu masuk perusahaan entertainment besar Korea itu.
Masih sama seperti biasa, lobi perusahaan itu selalu ramai dengan lalu lalang karyawan dan beberapa artis SM. Miran menghentikan langkahnya dan menatap layar besar yang sili berganti menunjukan gambar dari artis dan grub asuhan SM yang sudah berhasil di debutkan.
Mata gadis itu melebar saat gambar EXO memenuhi pandanganya, foto yang menampakan EXO dengan konsep terakhir comeback mereka, Wolf. Bibir gadis itu sedikit terangkat saat melihat wajah dari artis yang selama ini di urusnya.
“Kalian memang tampan... dan akan selalu seperti itu dimataku” Miran melangkahkan kakinya kembali berjalan menuju lift guna naik ke lantai 20 untuk menemui seseorang yang sudah menunggunya.
***
“Kau datang?” Tanya Direktur song saat gadis yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu membuka pintu ruangan kerjanya.
“Nde” jawab Miran dengan tubuh masih bediri tegak di ambang pintu yang kini telah tertutup.
“Duduklah Miran” pinta Direktur Song yang bangkit dari kursi tempat ia bekerja dan berjalan menuju sofa yang ada di sisi kiri ruangannya.
Miran mengangguk dan mengambil posisi berhadapan dengan atasannya itu.
“Kau sudah makan?” Tanya Direktur Song lembut namun penuh akan wibawa.
“Sudah, saya makan dibandara tadi” jelas Miran dengan nada sangat formal.
“Berhentilah bersikap terlalu formal Ran-ah, aku tak ingin ruanganku ini berubah menjadi ruang sidang” gurau Direktur Song, berharap hal itu bisa mencairkan suasana tegang yang tengah menyelimuti gadis di hadapanya.
“Kau baru datang dari Beijing? Bagaimana keadaan ibumu?” Tanya Direktur Song kemudian. Pria paruh baya itu sejujurnya tahu apa saja yang dilakukan Miran selama 3 hari terakhir. Menguntit? Tidak tentunya. Salah satu Direktur SM itu mendapatkan laporannya langsung dari sekertaris nenek Miran karna sebelum Miran kembali diberikan tawaran untuk debut, Direktur Song sudah lebih dulu mendiskusikannya dengan CEO dari perusahaan Scorp tersebut.
“Eomma baik-baik saja, keadaannya jauh lebih baik sekarang” Miran menatap atasan sekaligus teman ayahnya itu dengan senyum tersungging di wajahnya walau samar.
“Syukurlah jika ia sudah jauh lebih baik. Apa saja yang kau lakukan saat disana?” Direktur Song berusaha untuk membuat pembicaraan yang hangat dengan gadis di hadapannya.
“Aku tak melakukan apapun, aku hanya ingin menghabisakan banyak waktu dengannya mengingat semenjak menjadi manager EXO aku sangat jarang menemuinya” Miran kembali teringat bagaimana keantusiasan sang ibu saat menjemputnya di bandara kemarin.
“Dan.. tentu saja aku ke Beijing untuk menanyakan pendapatnya mengenai tawan yang Ajuushi berikan padaku tempo hari” Miran menarik nafas panjang pada ujung kalimatnya berusaha untuk besikap setenang mungkin, sedang Direktur Song masih setia menantikan kelanjutan cerita dari seorang gadis yang sudah ia saksikan pertumbuhannya sejak kecil itu.
“Eomma tidak menunjukan dukungan ataupun penolakan, ia hanya berkata bahwa aku sudah cukup dewasa untuk memutuskan apa yang ingin aku jalani dan menanggung semua resiko dari hal yang aku pilih, namun satu hal yang membuatku sangat berteimakasih padanya adalah.." Miran mengehentikan ceritanya sejenak saat kata-kata sang ibu kembali terlintas di benaknya.
"Eomma berkata apapun yang aku pilih ia akan selalu memberikan dukungannya. Walaupun nanti pilihanku membuatku terluka atau membuatku menyesal dikemudian hari Eomma memastikan bahwa aku tak akan menanggungnya sendiri, Eomma akan ada di sana dan membantuku dengan segala kemampuan yang ia bisa...” bibir kecil Miran mulai bergetar, ia tahu Eommanya adalah orang yang selalu rela mengorbankan apa saja bahkan kebahagiannya sendiri. Tapi jujur saja ia tak ingin melihat ibunya terpuruk bahkan jika alasan itu adalah untuk anaknya sendiri yaitu Miran.
“Aku tahu ini bukanlah hal yang mudah, kau terluka berkali-kali Miran... kau belajar untuk kembali bangkit dari semua itu,namun pilihan itu akan selalu ada, Ajushi tak memintamu menerima ataupun menolak tawaran ini. Ajushi meminta kau memikirkannya dengan baik.. menimbang dari segala sudut dan dari segala hal yang ada. Kau gadis pintar Miran, sama seperti ibumu Ajushi yakin jika kau bisa menentukan sendiri jalan yang kau inginkan, apapun pilihanmu.. semua orang akan mendukungmu.. kau tak perlu mengkhawatirkan apapun lagi saat ini” Direktur Song tersenyum tulus dengan pandangan penuh sayang, ia tahu bukan hal yang mudah untuk menentukan sebuah keputusan. Pria paruh baya itu sangat salut akan semua kerja keras gadis muda dihadapannya itu, Direktur Song tahu betapa besar sikap kerja keras Miran walaupun ia dilahirkan dari keluarga terpandang.
Jujur dulu sekali ia amat terkejut saat mendengar Miran memutuskan untuk bekerja sebagai asisten Super Junior saat baru kembali ke Korea, tanpa pernah gadis itu tahu sesorang yang selalu ia panggil dengan sebutan Ajushi itu selalu megamati bagaimana perkembangnya dari waktu kewaktu dan pria paruh baya itu tahu jika Miran sengaja meninggalkan semua statusnya untuk meringankan beban di punggungnyaa sendiri, mungkin saat itu ia belum sepenuhnya bisa menghilangkan semua kenangan buruknya setelah sang ayah meninggal. Bagaimana ibunya terbaring di rumah sakit, saham perusahaan yang merosot tajam, berita mengenai kepergian ayahnya yang terus menarus di tanyangkan di televisi, dan berbagai dugaan tentang penyebab kepergian ayahnya, semua orang yang ada di posisi Miran pasti akan merasa tertekan dengan semua itu. Mungkin itulah salah satu penyebab Miran memutuskan untuk tak berurusan dengan perusahaan keluarganya dan memilih untuk membangun dunianya sendiri.
Akan tetapi sekarang ia telah menjadi wanita dewasa yang harus menghadapi setiap persoalan dan bukan lagi lari menghindar untuk membuat perlindungan, karna dalam hidup akan selalu ada persoalan yang harus dihadapi entah apapun jalan yang dipilihnya nanti.
“Jadi kau sudah menentukan pilihanmu?” Tanya Direktur Song lembut.
Miran kembali menarik nafasnya berat dan mengangguk pelan, ia tahu pertanyaan inilah yang akan menjadi ujung pemikirannya selama tiga hari terakhir. Walau sepertinya tak pernah ada ujung dari dari pemikirannya itu, namun pada akhirnya gadis itu tetap harus membuat keputusan, satu hal yang masih membuatnya sulit untuk bersikap tenang adalah tentang seberapa banyak orang yang akan terluka dengan keputusannya nanti. Memang dari kedua pilihan tersebut pasti akan ada yang tersakiti entah itu dirinya sendiri maupun orang lain yang ada di sekitarnya namun kembali lagi bahwa keputusan harus tetap diambil.
“Jadi apa keputusanmu?” Direktur Song kembali bertanya karna gadis dihadapanya hanya terdiam setelah beberapa menit.
“Aku.. aku memilih untuk....”
***
“Kya! Akhirnya kita pergi ke China lagi!” Suho yang duduk di kursi depan van bersama Manager Gil tersenyum bahagia.
Hari ini EXO akan terbang ke China untuk melakukan beberapa jadwal seperti syuting iklan minuman ringan dan pemotretan untuk salah satu majalah.
“Apa kita akan ke Beijing?” Kai yang duduk di bangku paling belakang mengajukan pertanyaannya pada sang mananger dengan wajah serius, namja itu pasti memiliki tujuan lain dari pertanyaan yang ia tanyakan itu.
“Bukan, kita akan ke Shanghai” jawab Manager Gil yang tengah sibuk menatap jalanan yang cukup padat di hadapannya.
“Kita tidak ke Beijing?” Tanya Kai lagi, entah tak paham atau tak ingin memahami ucapan Manager Gil tadi.
“Kita tidak ada jadwal di Beijing, Kai” terang Manager Gil dengan sabar.
“Kenapa kau terus bertanya tentang Beijing?” Sehun yang duduk di depan Kai bertanya pada namja yang tengah menyandarkan kepalanya pada jendela van itu.
“Hanya bertanya” Kai menjawab sekenannya dan melempar pandangannya keluar jendela melihat jalanan aspal yang tengah mereka lalui.
“Bukankah rumah Miran ada di Beijing?” D.O yang sedari tadi menyadari kemana arah pembicaraan Kai itu akhirnya mengeluarkan isi pikirannya.
“Hey, kau benar!” Baekhyun menatap D.O yang berada di sampingnya dengan antusias.
“Hyung, tidak bisakah kita berkunjung kerumah Miran walau hanya sebentar?” Tanya Baekhyun pada sang manager, namja itu menanyakan pertanyaan yang sangat ingin Kai ajukan dan dalam diamnya Kai mengalihkan tatapannya kembali pada sang manager.
“Eumm, entahlah.. aku tak yakin” Manager Gil menimbang-nimbang permintaan dari Baekhyun itu, selain karna EXO tak memiliki jadwal di Beijing ia juga tak yakin apakah Miran bersedia jika mereka datang mengunjungi rumahnya.
“Waeyo? Kenapa kau tak yakin?” Tanya Yeol yang duduk di bangku tengah bersama Sehun.
“Akan sulit melakukannya karna jadwal kalian yang begitu padat dan lagi bagaimana jika Miran tak ada di rumah? Diakan sedang mengurus sesuatu” Manager Gil berusaha untuk mengubah pikiran member EXO yang terlihat sangat ingin mengunjungi rumah sang manager cantik mereka.
“Dia di Beijing” ujar Kai singkat, namja yang sejak tadi mendengarkan permintaan member satu grubnya itu akhirnya angkat bicara.
“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Suho heran, namja itu membalikan tubuhnya untuk menatap langsung sang main dancer dari EXO itu.
“Itu.. hanya dugaanku saja” kembali Kai melempar pandangannya keluar jendela seolah tak antusias dengan pembicaraan dalam van tersebut.
“Yahhhh! Aku pikir kau mendapatkan informasi dari sumber terpercaya, ternyata hanya dugaan” Sehun menghempaskan tubuhnya dengan kasar pada sandaran jok mobil setelah mendengar pernyataan Kai.
Kembali D.O menangkap gelagat aneh dari salah satu namja termuda di grubnya itu, jujur saja sejak kemarin tepatnya sejak D.O tahu Kai menutupi sesuatu mata namja bernama asli Do Kyungsoo tak lepas dari segala hal yang Kai lakukan bahkan ia memperhatikan setiap gerak gerik kecil dari namja berkulit coklat itu.
“Sudahlah.. lagi pula aku juga tak tahu dimana alamat rumah Miran, jadi kalian jangan terlalu kecewa” Manager Gil berusaha membangun kembali mood member yang ada di dalam van berwarna hitam itu.
“Hyung, jujur saja pada kami sebenarnya apa yang sedang Miran lakukan?” Tanya Kai lagi setelah beberapa menit tak ada seorangpun yang bersuara.
Namja itu menatap sang manager dengan pandangan begitu serius, walau sejujurnya ia sudah tahu setengah kebenaran dari hal yang berusaha untuk Miran sembunyikan tapi ia merasa tetap harus tahu apa yang sebenarnya gadis itu lakukan saat ini. Mengapa ia ada di rumahnya jika Manager Gil berkata bahwa ada urusan penting yang harus ia selesaikan?
“Ia sedang mengurus sesuatu yang sangat penting” dan kembali hanya penjelasan seperti itu yang Kai terima dari sang manager.
“Dan apa urusan penting itu sebenarnya?” dengan nada tajam Kai kembali bertanya.
“Benar Hyung, urusan apa yang membuatnya begitu sulit untuk dihubungi?” Sehun melipat kedua tangannya di depan dada yang terlindungi sabuk pengaman.
“Hal itu.. aku juga tak begitu tahu” Manager Gil berusaha keras untuk mencari alasan yang tepat agar kecurigaan anak-anak asuhanya itu berhenti.
“Manamungkin kau tak tahu” Sehun tak terima dengan jawaban itu dan saat ini semua orang dalam van tersebut tengah menatap Manager beranak satu itu dengan intens untuk mendapatkan penjelasan sejelas-jelasnya.
“Aku sungguh tak tahu, kalian bisa menanyakannya sendiri saat Miran kembali nanti” jawab Manager Gil dengan sekuat tenaga tak terlihat menyembunyikan sesuatu.
“Dia akan kembali?” mimik wajah Kai yang semula buram berubah seketika, namja itu seolah menemukan jawaban bahwa mimpinya kemarin memang hanyalah bunga tidur sebab nyatanya saat ini ia mendengar sendiri bahwa Miran akan kembali. Gadis itu akan segera kembali padanya.
“Kapan Hyung?” Tanya Suho tak sabar wajah namja itu terlihat sangat antusias, jujur saja ia merindukan Miran yang selalu membantunya mengurus 11 manusia yang terkadang sulit dikendalikan ini.
“Aku juga tak tahu.. tapi saat ia kembali kalian bisa menanyakan semua pertanyaan kalian saat ini padanya.. ‘apa yang ia lakukan? Mengapa ia begitu sulit untuk dihubungi?’ kalian pasti akan mendengarkan apa alasannya jadi berhentilah bertanya padaku karna aku juga tak tahu” namja bertubuh sedikit tambun itu berusaha meyakinkan sang artis asuhan untuk percaya padanya dan bersikap tenang.
“Baiklah, kami akan menunggu” jawab Kai dengan seulas senyum di bibirnya, wajahnya kembali terlihat tanpa beban seperti saat Miran masih ada di sampingnya.
‘Kau senang sekarang?’ batin D.O saat melihat perubahan Kai yang begitu drastis.
“Aku benci menunggu sesuatu” ungkap Baekhyun dengan bibir terpout sebal.
“Hyung.. menunggu sesuatu itu melatih kita untuk bersabar” Kai bersikap sok bijaksana. Mendengar ucapan Kai itu membuat D.O mau tak mau memutar bola matanya jengah.
‘Memang siapa yang bersikap tidak sabar selama ini’ batin namja bermata bulat itu dengan sebuah senyum tersungging geli dengan kelakuan Kai itu.
Jujur saja mendengar kabar Miran akan kembali juga membuatnya merasa lega karna setidaknya dengan begitu tak ada lagi member yang terlihat uring-uringan karna mengkhawatirkan keadaan sang manager.
“Kau pasti sangat senang bisa bertemu dengan noonamu lagi bukan?” Tanya Suho dengan tatapan jahil yang ia tujukan pada sang maknae Sehun.
“Waeyo? Apa kalian tidak senang Miran akan kembali?” Sehun tak terima jika ia dicemooh seperti itu.
“Kami senang, tapi kau pasti lebih senang” ujar Yeol dengan sebelah alis yang terangkat.
“Eoh, kau benar Yeol. Sebentar lagi kita akan kembali mendengar rengekan Sehun pada Shin Miran setiap harinya” Baekhyun yang duduk diantara Kai dan D.O memajukan tubuhnya untuk menatap Chanyeol dan Sehun bergantian.
“Kapan aku merengek pada Shin Miran? Kapan?” Sehun mulai meninggikan suaranya dan hal itu membuat para Hyungnya semakin ingin mengerjai bocah kecil itu.
“Miran-ah~ kenapa kau lama sekali~” Baekhyun menirukan gaya bicara Sehun ketika namja itu mengeluh karna Miran yang terlalu lama datang atau terlalu lama mengambilkan barang yang ia minta sambil menunjukan tatapan sebal yang sengaja dilebih-lebihkan oleh namja pecinta eyeliner itu.
“Miran-ah, mana kaus kakiku~ kau harus mencari kaus kakiku dulu~” Chanyeol juga ikut menurukan rengekan Sehun ketika ia tak dapat menemukan kauskakinya.
“Hahahaha! Benar! Benar! Kaus kaki kuuuu~ diamana kaus kaki kuuu~” Suho mempoutkan bibirnya dan sedetik kemudian tawa ketiga namja itu pecah seketika, mereka tertawa sambil sibuk melakukan hi-ve untuk merayakan keberhasilan menjatuhkan wibawa namja bermarga Oh itu.
“Yak! Aku tidak seperti itu!” Sehun mempoutkan bibirnya dan membuang muka, percumah saja jika ia ingin membela diri karna semua orang dalam van itu tahu bahwa ejekan tiga member tertua di EXO-K itu benar adanya.
Manager Gil dan D.O hanya bisa tersenyum dengan kelakuan ketiga member EXO itu sedang Kai memilih untuk menggelng-gelengkan kepalanya karna tak sanggup melihat kelakuan para Hyungnya yang sangat memalukan.
“Sudahlah, berhentilah bercanda karna kita sudah hampir sampai di bandara” Manager Gil berusaha untuk menegahi.
“Lalu member M akan ikut penerbangan selanjutnya?” Tanya D.O yang tengah memebenarkan tatanan rambutnya.
“Eoh, EXO-M akan menyusul nanti karna wawancara mereka belum selesai” Manager Gil membenarkan pertanyaan dari Kyungsoo itu
***
“Hyung, sepertinya passportku tertinggal di dorm, bagaimana ini?” Tanya Chen pada salah satu asisten manager yang mendampingi mereka dalam wawancara dengan salah satu stasiun tv.
Namja itu kembali membongkar tas punggungnya untuk kedua kalinya guna mencari buku passportnya itu.
“Kau yakin jika itu tertingal di dorm? Tidak ada di dalam kopermu?” Tanya namja bernama lengkap Kang Minhyuk itu pada Chen yang terlihat panik. Saat ini wawancara mereka sudah selesai dan tengah bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke bandara. Semua koper member sudah ada di bagasi van sejak pagi sehingga mereka dapat langsung berangkat dari stasiun tv menuju bandara.
“Tidak, aku yakin kalau passportku tertinggal di dorm karna aku tak pernah memasukannya dalam koper” ujar Chen dengan wajah pasrah.
“Wae?” Tanya Luhan saat mendekati kedua namja yang terlihat panic itu, Luhan yang sudah selesai mengganti bajunya itu terlihat sedang menikmati potongan buah yang sengaja ia bawa sebagai bekal.
“Passportku sepertinya tertinggal di dorm” ujar Chen dengan pandangan sedih.
“Kau yakin?” Tanya Luhan lagi sambil melihat semua isi tas Chen yang sudah berpindah ke lantai.
“Aku sudah membongkar tasku tapi tetap tak menemukannya, eottokeyo?” Chen terlihat sebal dengan keteledorannya itu.
“Pulanglah, ambil saja di dorm” saran Luhan dengan entengnya karna memang hanya itu yang bisa dilakukan.
“Bukankah wawancaranya sudah selesai, lagi pula dorm kita tak begitu jauh dari sini” Luhan menatap sang asisten manager dan Chen bergantian, ia berusaha meyakinkan bahwa jawaban dari kesulitan ini hanyalah cukup kembali ke dorm saja.
“Baiklah kalian tunggu saja disini dan aku akan...”
“Hyung, wartawan yang tadi mewawancarai kita ingin berbicara dengamu” Kris menghampiri ketiga namja yang tengah berdiskusi itu dengan tergesa.
"Hah! Momennya tepat sekali” keluh Minhyuk dengan nafas yang terasa berat.
“Chen, akan aku pesankan taksi untukmu. Kau bisa pergi kedorm sendiri bukan?” Tanya Asisten Kang berusaha untuk memecahkan masalah sepele ini dengan cepat.
“Nde, aku akan segera kembali setelah menemukan passporku” Chen kembali memasukan isi tasnya kedalam ransel yang ia bawa.
“Baiklah, kau harus ingat jika kita harus kebandara dalam 2 jam dan bandara cukup jauh dari sini, jadi jangan terlalu lama” pesan Asisten Kang dan begegas berlari keluar dari ruangan yang merupakan ruang tunggu EXO untuk mempersiapkan wawancara tadi.
“Kenapa kau bisa begitu ceroboh, huh?” Tanya kris pada main vocal EXO itu.
“Entahlah, padahal rasanya aku sudah mempersiapkan semua sejak semalam” Chen menghembus nafsanya berat.
***
Dorm EXO terlihat tenang dan senyap, cahaya matahari yang menerobos dari jendela besar di ruang tengah menyinari setiap sudut ruangan membawa perasaan hangat para penghuninya.
Sebuah tangan terulur untuk menekan beberaap angka yang merupakan password dari apartemen tersebut dan tiga puluh detik kemudian pintu yang merupakan pemisah antara dunia luar dan dalam apartement itupun terbuka.
Seseorang melangkahkan kaki untuk memasuki ruangan tersebut, ia mengganti sepatunya dengan sandal rumah yang terletak di rak dekat pintu.
“Haaahhh” sosok itu membuang nafasnya berat dan berjalan melewati ruang tengah menuju salah satu kamar yang terletak di apartemen itu.
Tak perlu menghabiskan waktu lama sosok gadis itu segera membuka lemari yang ada dalam ruangan tersebut dan mengabil sebuah koper berwarna biru tua yang selama ini selalu ia gunakan ketika ia hendak berpergian, ia mebuka lebar koper tersebut dan mulai memindahkan isi lemarinya kedalam tas berpergian itu.
Setelah semua pakaiannya masuk kedalam koper gadis itu beranjak menuju salah satu nakas yang ada di dekat meja kerjanya dan mengambil beberapa barang lalu memasukannya kedalam koper, setelah selesai berkemas gadis berambut bob itu merebahkan diri di tempat tidurnya dan memandang kamarnya sekali lagi. Ia menatap tumpukuan kotak besar yang masih tersimpan rapi di sudut ruangan, Miran memang tak membuka semua barangnya ketika ia pindah ke drom EXO, ia hanya mengeluarkan barang-barang yang akan sering ia pakai dan tetap menyimpan barang lainnya dalam box kardus dengan alasan barang-barang tersebut sudah tersedia di dorm yang dihuni oleh duabelas pria itu.
Miran mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selepang yang tergeletak di sampingnya, gadis itu menekan salah satu kontak yang ada dalam dafatar panggilan masuknya dan menempelkan ponsel itu ketelinga.
“Halo Sekertaris Seo, ini aku Miran. Kau ingatan jika aku ingin memindahkan beberapa barangku dari dorm ke rumah nenek?” Miran mengingatkan lawan bicaranya itu.
“.....” gadis muda itu terlihat sibuk mendengarkan perkataan seseorang dengan mata terpejam.
“Nde? Ahh iya, aku tiba di korea pagi tadi dan langsung pergi ke SM entertainments jadi belum sempat menemui nenek lagi” jawabnya saat ditanya apakah ia sudah kembali Korea.
“.....”
“Iya, aku pasti akan kesana kau tak usah khawatir, tapi untuk saat ini bisakah kau kirimkan seseorang untuk mengambil barang-barang ini?” gadis muda itu berusaha menghindari omelan wanita yang sudah menjadi sekertaris neneknya itu sejak lama.
“.....”
“Ha? mereka akan tiba 45 menit lagi...” Miran membuka matanya tak antusias mendengar jawaban Sekertaris Seo.
“.....”
“Ahh tidak.. hanya saja aku harus segera pergi” gadis itu memiringkan tubuhnya kesamping kanan, saat ini ia merasakan kedua kakinya sedikit berdenyut karna rasa pegal.
“.....”
“Baiklah, akan ku kirim passwordnya padamu.. tapi bisakah kau pastikan bahwa orang tersebut tak punya niat jahat...”
“....”
“Bukan begitu, hanya saja aku sedikit khawatir mengingat siapa penghuni apartemen ini” Miran tak bisa membiarkan siapapun masuk begitu saja kedorm EXO tanpa ia yakin bahwa orang tersebut benar-benar tak berniat melakukan hal buruk, karna hal itu dapat mengancam keselamatan keduabelas namja tersebut, bagaimanapun juga mereka adalah public figure yang akan segera menjadi sorotan jika sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
“....”
“Benarkah? Baiklah jika kau sendiri yang akan datang... itu membuatku merasa lega” wanita muda itu menyetujui keputusan akhir sang sekertaris dan segera menghapus kekhawatirannya yang sedikit berlebihan itu.
“....”
“Nde aku akan kembali kerumah sesering yang kubisa” miran memutar bola matanya malas saat kembali mendengarkan omelan dari orang kepercayaan neneknya itu.
“....”
“Nde, Sekertaris Seo. Ohh kabari aku jika terjadi sesuatu pada nenek, oke? Apapun itu” pinta Miran karna bagaimanapun juga gadis itu masih sangat amat peduli pada sang nenek.
“....”
“Baiklah akan aku tutup telfonnya karna aku harus pergi sekarang” Miran menatap jam didinding owlnya yang menunjukan bahwa ia tak bisa berlama-lama lagi di apartemen dan memutuskan sambungan telfonnya dengan sekertaris neneknya itu.
“Oh aku akan terlambat” Miran bangkit dari tempat tidurnya dan menarik kopernya keluar kamar yang selama beberapa bulan terakhir menjadi persainghannya itu.
‘Titt...Tit.. tit.. tut.. tit.. tulililit’ sesorang berhasil membuka kunci dari apartemen EXO.
‘Hem? Nugu? Sekertaris Seo? Bukankah dia bilang 45 menit baru sampai? Cepat sekali’
‘ceklek’ knop pintu itu berbunyi saat seseorang membukanya.
“Sekertaria Seo kau.. Chen?” Miran menunjukan rasa terkejutnya saat menatap siapa yang muncul dari balik pintu itu, orang itu bukan lah Sekertaris Seo seperti yang ia kiran melainan vokalis utama dari sub EXO M.
“Oh.. Miran?” Chen pun tak kalah terkejut melihat siapa yang tengah berdiri di ruang tengah itu.
"Kau sudah pulang? Kenapa kau tak bilang pada kami dulu?” namja bersuara emas itu sengera berlari untum memeluk Miran singkat dan melepaskannya kembali untuk menatap wajah managernya itu.
“Kau sudah sehat? Kenapa kau begitu sulit dihubungi, eoh? Kau tahu kami sangat khawatir padamu” Chen terus mengoceh panjang sementara Miran hanya bisa menatap artis yang selama ini hidup dengannya itu dengan tersenyum kikuk.
“Wae? Kenapa kau diam saja?” Tanya Chen saat menatap ekspersi Miran itu.
“Bukankah kau seharusnya sudah di China?” bukannya menjawab gadis bermarga Shin itu malah balik bertanya.
“Ahh! Kau benar” Chen menepuk jidatnya karna perkataan Miran itu mengingatkannya akan tujuannya kembali ke dorm.
“Sebentar aku ambil passportku dulu” Chen hendak melangkahkan kakinya menuju kamar namun terhenti karna otak namja itu memberikan intruksi lain yang harus dilakukan, Chen kembali menatap Miran.
“Kau rupanya sudah bersiap juga” ucap Chen pada gadis berambut bob itu saat irisnya melihat koper yang tengah Miran bawa.
“Ha?” Miran mengerutkan alis ketika mendengar pernyataan pemuda yang lahir pada tahun 1992 itu.
“Kau akan ikut penerbangan selanjutnya bersama kami, kan? Chakkaman, aku ambil passportku dulu!” dengan cepat Chen berlari menuju kamarnya dan membuka nakas miliknya yang berada tepat di sebelah lemari bajunya itu.
"Kenapa kau begitu menyusahkan huh?” ucap namja itu sebal pada buku passportnya dan kembali keruang tengah tempat Miran menunggu.
“Kajja! Member lain pasti sudah menunggu kita” ucap Chen sambil bergegas menuju pintu dan kembali memakai sepatunya.
“Shin Miran, apa kau akan terus berdiri di sana? Ayo kita pergi!" Chen yang sudah selesai menalikan sepatunya menatap gadis yang belum beranjak sedikitpun dari tempat ia berdiri.
"Eoh, kajja" Miran berjalan cepat menuju pintu untuk menyusul Chen yang tengah menahan pintu untuk gadis itu.
"Dimana kopermu?" Tanya Miran kemudian saat mereka tengah menunggu lift untuk turun ke lantai bawah.
"Koperku sudah di van tapi entah bagaimana passportku bisa tertinggal,padahal biasanya aku selalu mengeceknya terlebih dahulu" ujar namja itu sebal.
'Tiinggg' pintu lift yang mereka tunggu terbuka.
"Ayo" Chen mendorong Miran masuk kedalam lift yang hanya berisi seorang wanita paruh baya dan gadis kecil yang tengah bergandengan tangan.
"Apa urusanmu sudah selesai?" tanya Chen setengah berbisik.
"Hem, begitulah" jawab Miran sekenanya seolah tak tertarik dengan rasa ingin tahu namja bernama asli Jongdae itu.
"Baguslah jika sudah selesai, sekarang kau bisa kembali bersama kami" Chen melempatkan senyumnya pada gadis yang terlihat sibuk menatap ujung sepatu ketsnya itu.
"Ahh! Aku tahu sekarang!" Namja bermarga Kim itu seolah baru menyadari sesuatu.
"Ini semua karna kau Miran, kau yang menyebabkan passportku tertinggal!" Chen menatap Miran kesal.
"Salahku?" Miran menatap Chen dengan pandangan tak percaya, bagaimana bisa ia disalahkan begitu saja padahal ia tak melakukan apa-apa.
'Tingg'
Pintu lift kembali terbuka di lantai dua gedung tersebut lalu nenek dan anak kecil itu melangkah keluar meninggalkan Miran dan Chen yang terlihat seperti akan memulai perdebatan.
'Tiingg' pintu besi itu pun kembali tertutup setelah beberapa saat.
"Ya benar ini salahmu" kini Chen sudah bicara dengan volume suara normalnya.
"Oppa! Aku bahkan tak melakukan apapun bagaimana mungkin kau menyalahkanku?" Miran menatap Chen tak percaya, bisa-bisanya namja itu menimpahkan kesalahannya pada Miran.
"Ini karna kau tak ada, sehingga tak ada yang mengingatkan kami" Chen menatap Miran dengan tatapan jahilnya.
"Biasanya sebelum meninggalkan dorm kau akan memerintahkan kami untuk mengecek semuanya kembali, tapi karna kau tak ada kami jadi tak mengeceknya lagi" namja berwajah kotak itu melipat tangannya di depan dada.
Miran yang mendengar pengakuan Chen itu hanya bisa tertegun diam. Gadis itu kembali berfikir ulang untuk mencerna kata demi kata yang Chen ucapkan, sebelum akhirnya sebuah senyum tergambar di wajahnya. Tapi senyum itu bukanlah sebuah senyum yang selalu Shin Miran sunggingkan saat merasa bahagia, entah mengapa itu terlihat seperti senyum penyesalan.
"Eoh, kau benar, ini salahku oppa" Miran menatap Chen dengan senyum dan pandangan mata yang menggambarkan rasa bersalah.
'Tingg' kembali pintu lift itu terbuka di lantai yang Miran dan Chen tuju.
"Kau tahu aku cuma bercanda, tak usah kau fikirkan" Chen melangkahkan kakinya keluar dari lift di ikuti seorang gadis yang masih tak kuasa mengatur perasaan di hatinya.
"Lagi pula kau sudah kembali sekarang, jadi tak ada hal yang perlu di khawatirkan lagi" Chen menatap gadis berambut bob yang berada setengah langkah di belakangnya itu santai.
"Oppa.." Miran menghentikan langkahnya saat mereka hendak keluar melewati pintu lobi.
"Wae?" Chen yang melihat itu mau ikut berhenti.
"Jangan teledor lagi, kau harus selalu mengecek semua kebutuhan yang kau perlukan sebelum kau keluar dari dorm jika memungkinkan kau juga harus mengingatkan yang lain akan hal itu" Miran menatap Chen dengan sungguh-sungguh.
"Wae? Kau marah karna aku bercanda tadi?" Ujar Chen saat mendengarkan semua perkataan Miran itu.
"Aku tidak marah, tapi aku hanya memintamu untuk lebih teliti" ucap Miran lagi.
"Ck! Kau ini.." Chen menunjukan wajah kesalnya dan kemudian mengacak-acak rambut Miran gemas.
"Kau punya banyak waktu untuk mengomel nanti. Kau tak mau kita ketinggalan pesawat bukan? Ayolah!" Chen menarik tangan Miran dan bergegas keluar dari lobi untuk menuju sebuah taksi yang ia minta untuk menunggunya saat namja itu singgah guna mengambil passportnya yang tertinggal.
"Pak bisa tolong buka bagasinya?" Ujar Jongdae pada sang supir taksi yang masih duduk di kursi kemudi itu, dan segera setelahnya bagasi taksi itupun terbuka.
"Kemarikan kopermu" Chen hendak mengambil alih koper biru tua itu dari tangan sang pemilik.
"Pergilah Chen" ucap Miran sebelum tangan yang lebih besar darinya itu berhasil menyentuh koper miliknya.
"Wae? Kau sudah pesan taksi?" Chen menatap gadis yang tertunduk di depannya.
"Eoh, aku sudah pesan taksi lain" ujar Miran dengan menunjukan anggukan kecil dalam tunduknya.
"Batalkan saja, kita naik taksi ini saja" Chen kembali mengulurkan tangannya untuk mengambil koper gadis dihadapannya, namun Miran kembali menahan tangan itu dengan tangan kanannya yang bebas.
"Wae?" Tanya Chen lagi.
"Aku tidak akan pergi ke China bersamamu, Chen" Miran memaksakan dirinya untuk menatap namja yang lebih muda setahun darinya itu.
Chen terdiam sejenak namun kedua hazel miliknya tak lepas menatap gadis berkemeja putih yang tengah berdiri dihadapannya itu.
"Lalu kau akan pergi kemana? Ada urusan lagi?" Namja itu menunjukan tatapan seorang anak yang sebal karna akan ditinggal sendirian dirumah sebab sang orang tua harus pergi bekerja.
"Eoh" Miran membenarkan pertanyaan Chen itu, wajah bersalah masih melekat di wajah cantik gadis bertinggi 164 cm tersebut.
"Kenapa kau sangat sibuk akhir-akhir ini, eoh?" Chen masih tak terima jika Miran harus meninggalkan EXO lagi.
"Pergilah Chen, kau bisa ketinggalan pesawat nanti" ujar Miran sambil membuka pintu belakang taksi yang akan membawa namja tersebut kembali ke stasiun tv.
"Baiklah" pria itu akhirnya memilih mengalah karna waktu yang semakin mengejar lalu segera masuk kedalam taksi.
"Selesaikan urusanmu itu dan segeralah kembali, mengerti?" Perintah Chen sebelum pintu taksi itu ditutup oleh tangan mungil Miran. Gadis berambut bob itu hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman dan menutup pintu taksi tersebut.
Miran mundur beberapa langkah dari taksi berwarna silver tersebut, gadis muda itu masih dapat melihat Chen dari kaca jendela taksi yang sedikit gelap tersebut. Namja berusia 21 tahun itu meletakan tangan kirinya yang dibuat menyerupai telfon di telinganya sambil mengingatkan Miran untuk menghubungin mereka (EXO) sesegera mungkin sebelum akhirnya taksi itu mulai berjalan menuju arah tujuannya. Miran menghela nafasnya lagi, perasaan bersalah semakin menyelimuti hati dan pikirannya.
"Apa yang akan kalian lakukakan jika kalian tahu aku memilih untuk meninggalkan kalian?" Gumam gadis itu dengan pelupuk mata yang mulai digenaingi oleh air.
***
Yahhh kenapa eonni ninggalin exo?? Whayy whhhaaayy?
Trus gimana nasib exoh tanpamu eonni??😭😭
Temukan jawabannya dipart selanjutnya.. Anyeong🙆








0 komentar:
Posting Komentar