Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Manage Your Manager Part 5

Tittle                : Manage Your Manager Part 5
Author             : DinDong
Twitter            : @indeenski
Blog                 : dindongdeng.blogspot.com
Cast :
-EXO
-Shin Miran (OC)
-Super Junior
Genre    : Brothership, Drama, sedikit humor.
MYM part 5 akhirnya datang!!!, maaf ya lama dan maaf juga kalo ceritanya jadi agak aneh-aneh gak jelas kaya authornya hehehe yg pasti dinikmatin aja ya...
Heppy reading all ^^, sekedar mengingatkan kalo FF ini murni hasil pemikiran DinThor jd no kopi pastel  yaaa dan di tunggu RCL dari kalian~...
Ohh ini link part sebelumya:

***
Terdengar suara gaduh dari seluruh kamar yang ada di apartemen EXO, penyebanya tak lain adalah para member yang sedang sibuk mengemasi barang mereka untuk melakukan promosi di Cina selama 3 hari berturut-turut, dan sudah hampir dua jam lamanya mereka berbenah namun seperti biasa tentu saja bukan EXO namanya jika tak terjadi kegaduhan yang tidak penting.

“Hyung kau tahu di mana kacamata hitamku? Aku yakin kemarin menaruhnya di atas meja!” teriak Tao pada Kris yang sedang memilah-milah baju apa saja  yang perlu ia bawa.

“Huang Zi Tao, untuk terakhir kalinya kukatakan padamu! aku tak tahu dimana kacamata jelekmu itu!” jawab Kris geram pada adiknya yang bergolongan darah AB tersebut dengan sedikit emosi.

“Huh! Jika kau tak tahu, katakan saja tak tahu dan tak usah marah-marah begitu, menyebalkan!” Tao keluar dari kamarnya, meniggalkan Kris yang menatap kepergianya dengan kesal. Bagaimana tidak? Maknae EXO M itu sudah menanyakan hal yang sama berulangkali padanya, bayangkan siapa yang tak kesal dengan kelakuan seperti itu?.

Merasa di acuhkan oleh Kris, Tao akhirnya berjalan menuju ruang tengah dengan pandangan mata yang ia fokuskan untuk menelusuri tiap cela ruangan, berharap ia bisa menemukan kacamata kesayanganya itu.

“Apa yang sedang kau cari, Oppa?” tanya Miran saat melihat gelagat aneh Tao,  gadis berkaus putih itu berjalan mendekatinya.

“Miran-ah, kau lihat kacamata hitamku tidak?” tanya Tao pada Miran dengan harapan gadis muda tersebut tau dimana benda itu berada.

Miran terdiam sejenak dan berfikir.

“Aku tahu!” ucap Miran dengan senyum merekah.

“Benarkah? Dimana?” mimik wajah Tao langsung berbinar mendengar Miran tahu dimana kacamata kesayangannya.

“Bukankah sudah menempel di sini?” Miran menunjuk mata, umm mungkin lebih tepatnya kantung mata namja di hadapanya dengan jari telunjuk manis yang ia miliki.

“Ini kantung mata bukan kaca mata!” Tao medengus kesal dan segera menyingkirkan tangan Miran dari wajahnya.


“Hahaha, aku hanya bercanda Oppa, kenapa? Kau kehilangan benda itu?” Miran terkekeh ringan lalu memiringkan sedikit kepalanya saat ia bertanya hingga membuatnya semakin imut, dan jawaban dari pertanyaan yang di lontarkan gadis muda itu adalah angukan tak bersemangat dari Tao.

“Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak dapat kutemukan” jelas Tao putus asa.

“Gunakan saja kacamata yang lain, atau mungkin sebaiknya kau tak usah memakai kacamata” saran Miran santai dan menggigit apel merah yang sejak tadi ada dalam genggaman tangannya.

“Tidak mau! Aku tak mau kacamata lain!” ucap Tao seperti anak kecil.

“Terserah kau sajalah” Miran meniggalkan Tao begitu saja dan berjalan menuju kamar Suho, karna ia merasa malas jika harus melayani rengekan anak bermata panda itu.

“Miran-ah, tunggu!” cegah Tao.

“Apa lagi?” Miran menatap Tao tak sabar.

“Aku ikut denganmu” ucap Tao yang tanpa ijin langsung merangkul pundak gadis yang merupakan managernya itu, dan  yang dapat Miran lakukan hanyalah berdecak kesal pada bocah lelaki Cina yang sedang merangkulnya tersebut.
**
Miran dan Tao masuk kedalam kamar yang dihuni oleh tiga pemuda tampan yaitu Suho, Baekhyun dan juga maknae tampan Oh Sehun begitu saja tanpa mengetuk pintu, yah bisa dibilang itu memang sudah menjadi kebiasaan mereka melakukan apapun tanpa permisi, dan begitu melangkah ke dalam kamar yang dapati kedua orang itu adalah ruangan yang terlihat berantakan karna beberapa barang berserakan di mana-mana serta tiga buah koper yang tergeletak di tengah ruangan. Sementara itu si empunya kamar yaitu Sehun dan Suho sedang sedikit kewalahan membantu Baekhyun menutup koper besar yang akan ia bawa, begitu sulitnya koper itu di tutup hingga kedua namja berkulit putih susu itu harus mendudukinya, berusaha menghapuskan jarak antara bibir koper agar bisa terkunci.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Miran saat melihat Suho dan Sehun menduduki koper besar berwarna coklat.

“Membantu Ajumma ini berkemas” Sehun memandang Baekhyun tajam.

“YAK! Siapa yang kau bilang Ajumma, huh?!” Baekhyun menjitak kepala Sehun dengan keras hingga membuat namja tinggi itu meringis menahan sakit di kepalanya.

Dan seketika itu juga gema suara tawa Tao dan Suho mengisi seluruh ruangan karna melihat pertengkaran itu sedang Miran hanya bisa menggeleng malas.

Miran duduk di atas ranjang milik Suho dan menghabisakan apel miliknya, ia sama sekali tak memiliki niat untuk membantu ketiga orang tersebut, karna melihat mereka kewalahan seperti itu merupakan hiburan gratis untuknya jadi untuk apa menghabiskan tenaga membantu mereka.

Sementara itu mata panda Tao kembali memicing, namja itu menguji keberuntungannya sekali lagi dengan harapan dapat menemukan benda yang sejak tadi ia cari.

“Kurasa kaca matamu tak ada di sini Tao” ucap Miran ketika melihat kelakuan  Tao itu.

“Aku hanya berusaha” Tao mendesah sebal.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Suho bingung tak mengerti pembicaraan Miran dan Tao.

“Oppa tampan yang sedang bersandar di tembok itu kehilangan kacamata hitamnya, apa kalian tahu ada di mana?” Miran menjelaskan situasi yang terjadi pada ketiga pemilik kamar tersebut.

“Kacamata hitam yang biasa kau pakai itu?” tanya Baekhyun memastikan.

“Benar Hyung! Kau tahu benda itu ada di mana?” tanya Tao antusias seperti menemukan secercah harapan.

“Ohh kacamata itu... tidak, aku tak milihatnya” jawab Baekhyun datar dan kembali berusaha mengunci koper besarnya, seketika itu pula wajah Tao yang mulai cerah kembali tertekuk sebal setelah mendengar jawaban Baekhyun.

“Hahahaha, sudah kukatakan cari saja kacamata lain” Miran tertawa renyah disela kunyahanya.

“Lebih baik aku pergi saja!” Tao pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah kesal.

“Dasar pemarah” ucap Suho melihat kelakuan namja berkaus hijau yang sekarang sudah menghilang dari balik pintu.

“Sudahlah biarkan ia mencari kacamatanya, dan lebih baik kalian segera tidur jika sudah selesai berkemas” ucap Miran pada namja-namja tampan yang ada di hadapanya.

“Kau tak berkemas?” tanya Baekhyun yang masih berusaha mengaitkan pengunci kopernya.

“Haaaahhhh akhirnya terkunci juga!” teriak Baekhyun tiba-tiba begitu berhasil mengaitkan kedua bagian koper itu menjadi satu, Sehun dan Suho langsung bangkit dari koper besar Baekhyun, mereka senang akhirnya koper itu dapat terkunci setelah berusaha hampir 10 menit lamanya.

“Aku sudah selesai berkemas sejak tadi” jawab Miran lalu merebahkan tubuhnya di ranjang yang berbalut sprei berwarna abu-abu itu.

“Itulah Shin Miran kita” ucap Sehun bangga.

“Ia selalu menyelesaikan pekerjaanya dengan cepat” lanjut namja itu sembari memberikan senyuman jail pada Miran.

“Miran-ah, apakah disana kita memiliki waktu luang untuk berjalan-jalan?” tanya Baekhyun penuh harap pada gadis yang memejamkan matanya itu.

“Entahlah oppa. Tapi kurasa tidak, karna jadwal kalian sangat-sangat padat” jawab Miran tanpa membuka mata dan gambaran schedule EXO kembali menyeruak dalam otak gadis itu.

“Yahh, kalau begitu untuk apa aku membawa baju sebanyak ini?” Baekhyun mengeluh dan menatap kopernya dengan pasrah.

“Hahaha entahlah,kurasa lebih baik kau membongkar kembali kopermu dan mengenyahkan barang-barang yang tak begitu penting ” kekeh Miran.

“Semua barang dalam koper itu sangat penting, bukankah begitu Ajumma Byun?” goda Suho pada adiknya yang untuk kesekian kali di panggil dengan sebutan ajumma.

“Yak! Hyung jangan panggil aku dengan sebutan itu!” teriak Baekhyun kesal lalu melipat kedua tangannya di dada, kali ini ia tak bisa menjitak kepala orang yang sudah mengejeknya karna tentu saja hal itu tidak sopan mengingat Suho yang lebih tua darinya.

“Sudahlah lebih baik kalian tidur sekarang, karna besok kalian harus bangun pagi” Miran bangkit dari ranjang milik Suho dan melangkah keluar.

“Baik Omma!” ucap ketiga namja itu serempak.

Miran yang mendengar ejekan itu hanya merespon dengan memutar kedua bola matanya dan tetap melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar bernuansa putih abu-abu itu.

“Tunggu Miran, kau melupakan sesuatu!” Sehun mengejar Miran yang sudah melewati pintu kamarnya dengan cepat.

Miran membalikan badannya begitu mendengar namanya di sebut.

“Lupa apa?” Miran mengangkat sebelah alisnya menatap namja yang lebih tinggi darinya itu.

“Ini, kau meninggalkanmu sampah dikamarku!” Sehun menyodorkan sisa apel yang tadi dimakan oleh Miran dan melemparkan pandangan jijik pada sampah itu, Miran memandang Sehun aneh karna tidak biasanya namja ini bersikap sok higienis mengingat ia adalah salah satu member yang paling malas untuk diajak bersih-bersih.

“Ohhh, maaf aku lupa.” Miran mengambil sisa apel itu dari tangan Sehun dan berjalan menuju tempat sampah yang ada di sudut dapur, namun langkahnya terhenti ketika sebuah tangan berukuran besar menahanya.

Miran membalikan badannya dan menatap Sehun dengan tanda tanya.
“Kau juga melupakan ini” dengan cepat Sehun menarik Miran dalam pelukannya, namja itu memeluk Miran erat selama beberapa detik. Membuat gadis yang ada di pelukannya syok akan apa yang terjadi hingga membuat apel yang ada di tangan Miran terlepas dan jatuh kelantai.

Berbeda dengan Sehun yang justru mempererat pelukannya, entah mengapa ketika memeluk Miran ada perasaan nyaman menyeruak dalam hati namja itu, hatinya merasakan rasa hangat yang menyenangkan dan saat ini ia sungguh berharap bahwa kekuatan menghentikan waktu yang dimiliki oleh Tao dapat ia pinjam sebentar, karna ia tak ingin melepaskan Miran darinya.

“Sehun-ah...” ucap Miran yang masih dilanda rasa kaget.

“Selamat malam Miran, tidurlah yang nyenyak” bisiknya lembut pada telinga gadis yang lebih tua tersebut, lalu perlahan Sehun melepaskan pelukannya dari Miran walaupun ada perasaan enggan saat harus menjauhkan tubuhnya dari tubuh wanita berambut bob itu dan perlahan Sehun  berjalan kembali kekamarnya, meninggalkan Miran yang masih terpaku karna kejadian yang barusaja ia alami. Maknae dari EXO baru saja memeluknya, Miran mengerjapkan matanya berusaha untuk membuat otaknya bekerja kembali.

‘Sehun baru saja memeluku? Ahhh mungkin itu hanya sebagai ucapan selamat malam saja. Tapi... aku merasakan detak jantungnya, dan jantung itu berdetak dengan sangat cepat. Apa mungkin? Tidak Miran! Itu hanya ucapan selamat malam. namun kenapa aku merasa bahwa pelukan yang Sehun berikan bukannlah pelukan selamat malam yang diberikan oleh kakak pada adiknya? tapi apa mungkin Sehun memandangku sebangai seorang gadis?’ Miran sungguh bingung sama sekali tak mengerti apa yang sebenarnya membuat namja yang lebih muda darinya itu memeluknya seperti tadi. Gadis itu menggelengkan kepalanya untuk kedua kali berusaha menemukan pikiran jernih diantara hal-hal keruh dalam otaknya.

“Tunggu dulu..... Sehun baru saja memelukku....” gumam Miran lirih.

“YAK! BERANINYA NAMJA ITU MEMELUKU! OH SEHUN KAU INGIN MATI, HUH?!” Miran menggedor-gedor pintu kamar yang baru saja ia tinggalkan beberapa menit yang lalu. Yap otak gadis itu sepertinya sudah kembali normal, cukup normal untuk menjambak rambut Sehun yang sudah memeluknya seenak jidat, namun sayang usaha gadis itu untuk menjebol pintu tak berhasil karna Sehun yang sudah mempertimbangkan hal ini akan terjadi dengan sigap mengunci pintu kamarnya sebelum Miran sepenuhnya tersadar. Sedang Suho dan Baekhyun yang tak mengerti mengapa Miran mengamuk menatap Sehun bingung, dan meminta penjelasan tapi bukannya menjelaskan apa yang terjadi, namja tinggi itu hanya tersenyum penuh makna, begitu banyak makna yang tersirat dalam senyumannya hingga Sehun sendiri juga tak mengerti akan hal itu.
**

Fajar menunjukkan eksistensinya yang juga menandakan bahwa pagi sibuk EXO akan berjalan, dan kini semua member sudah bangun dan sedang mengantri untuk membersihkan diri. Selama menunggu Miran menyuruh beberapa member untuk sarapan lebih dahulu. Nasi goreng kimchi sudah Miran siapkan sejak subuh dan gadis itu juga sudah selesai bersiap, ia terlihat cantik dengan celana putih serta kemeja kotak-kotak hitam abu-abu berlengan panjang serta rambut yang diikat kebelakang.

“Miran, bisa kau ambilkan sebotol air untukku?” Lay yang sudah selesai memakan sarapanya meminta sebotol air untuk menghilangkan dahaga, dan dengan sigap gadis itu mengambilkan hal yang di minta Lay.

“Miran, bisa kau ambilkan pasta gigi? Karna pasta gigi ini sudah habis”  teriak Kai dari dalam kamar mandi, mendengar itu Miran segera mengambil dan memberikan pasta gigi pada Kai dalam waktu hitungan detik saja.

“Gomawo Dongsaeng” ucap Kai begitu mendapatkan apa yang ia butuhkan saat Miran menyodorkan pasta gigi itu dari sela pintu.

Ternyata benar apa yang di ucapkan Mananger Jung sebelum mengenalkan Miran pada EXO bahwa gadis itu benar-benar gesit untuk mengurus EXO tanpa kenal lelah, walau terkadang ia akan menjadi sangat galak jika EXO telalu banyak bicara dan menuntut namun sejauh ini kerja Miran sangat memuaskan sehingga semua kegiatan EXO dapat berjalan dengan lancar.
**

Akhirnya setelah melalui pagi yang sibuk, Miran, Manager Gil, EXO dan beberapa staff tiba di bandara. Suasana pagi yang sejuk membuat Miran merasa sangat bersemangat terlebih lagi ia juga merasa rindu dengan negara tirai bambu yang sudah cukup lama tak ia jumpai.

“Miran-ah berapa lama kita harus menunggu?” tanya Chanyeol yang sibuk mebenarkan posisi snapback yang bertengger di kepalanya.

“Sekitar 30 menit lagi” Miran menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi ruang tunggu keberangkatan.

“Miran apa kau membawa camilan kesukaanku?” tanya Chen penuh harap pada gadis cantik itu, karna kripik kentang kesukaanya tak boleh ketinggalan.

“Ummm, entahlah aku lupa coba kau tanyakan pada D.O. Oppa” Miran menatap Chen yang mengenakan switer putih dengan gradasi biru tua dihadapanya.

“Baiklah” jawab namja itu lalu berjalan mendekati D.O yang sedang berbincang dengan Luhan.

“Hyung aku harus pergi ke toilet, bisa kau jaga tasku sebentar?” Kai bangkit dari tempat duduknya.
“Baiklah, apa kau mau di temani?” tanya Lay sebelum Jong In beranjak pergi.

“Tidak usah, aku akan pergi sendiri” Kai tersenyum dan melangkah menuju toilet yang berada sedikit jauh dari tempat EXO menunggu.

“Kemana Kai pergi?” tanya Miran pada Lay saat melihat Kai yang berjalan menjauh dari gerombolan.

“Ia pergi ke toilet” jawab Lay lalu memasangkan earphone di telinga kanannya untuk mendengarkan musik dan menghalau rasa bosan.

**

Kai keluar dari toilet dan hendak kembali ketempat member lain menunggu namun tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada panggilan yang masuk. Namja tampan itu merogoh saku kemejanya lalu melihat siapa orang yang menelponnya pagi-pagi begini.

“Noona” Kai menggumamkan nama yang tertulis di layar ponsel, kakak perempuan Kai-lah yang menelpon namja itu untuk menanyakan kabarnya di tengah kesibukan yang Kai jalani. Yah memang hampir setiap hari mereka saling menelfon satu sama lain mengingat kesibukan masing-masing sehingga waktu untuk bertemu sangatlah minim, jadi tentu saja alat komunikasi merupakan media mereka untuk menghapus rasa rindu antar keluarga.

“Hallo, Noona?” ucap Kai saat menjawab panggilan itu.

“Apa? Ohh aku sedang di bandara untuk melakukan promosi di Cina”

“Aku baik-baik saja, mananger kami yang baru mengurus kami dengan sangat baik” Kai tersenyum saat mengucapkan kata-kata itu.

“Iya, dia memasak untuk kami semua” Kai menceritakan kebiasaan Miran yang selalu membuatkan sarapan untuk seluruh anggota EXO.

Tak jauh dari tempat Kai berdiri ada seorang gadis remaja yang sejak tadi mengamati apa yang namja itu lakukan. Senyuman terukir di wajah gadis berambut panjang itu sejak tadi, sejak kedua matanya menemukan sosok tampan Kai. Entah apa yang ia pikirkan namun yang pasti gadis itu terlihat mencurigakan.
‘Jika kau tak melakukannya sekarang, kau pasti akan menyesal! Tak akan ada kesempatan seperti ini lagi’ pikir gadis itu.

Dan tanpa aba-aba tiba-tiba ia langsung berlari menuju Kai yang masih sibuk dengan ponselnya, gadis muda itu berusaha untuk memeluk Kai, berusaha meraih Kai dengan kedua tanganya, namun yang terjadi pada detik berikutnya adalah...

BRUG!

Kedua orang itu terjatuh tersungkur di lantai dengan keras.

Tubuh gadis remaja itu menindih tubuh Kai dengan lengan yang masih erat memeluk namja berkulit tan itu, Kai yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi berusaha mendorong gadis itu untuk menjauh namun tiba-tiba ia merasakan sakit yang teramat pada punggungnya hingga membuatnya sulit bergerak.

“KAI!” teriak Miran reflek saat milihat artisnya itu tersungkur di lantai dengan seorang gadis yang menindihnya dan tanpa befikir panjang Miran langsung berlari untuk membantu Kai hingga tanpa sadar ia menjatuhkan kantung plastik berisi keripik kentang yang sengaja ia beli untuk Chen.

“Miran-ah... bisa kau singkirakn dia dari tubuhku?” Kai berusaha menahan sakit yang bersarang di punggungnya saat bicara.

Miran mengangguk cepat dan berusaha mengangkat tubuh gadis yang membuat Kai tersungkur di lantai. Namun ternyata gadis itu tak mau melepaskan pelukannya hingga membuat Miran sedikit kewalahan, dan beruntung ada petugas keamanan bandara yang melewati mereka bertiga. Petugas  itu membantu Miran menjauhkan remaja itu dari Kai walaupun dengan sedikit bersusah payah.

Gadis remaja berambut panjang itu terus meronta saat petugas membawanya menjauh dari Kai yang juga merupakan artis yang begitu ia sukai.

“Kai Oppa! Lepaskan aku! Aku ingin bersama Kai Oppa! Oppa!” gadis itu terus meronta dan memanggil Kai. Namun namja yang ia maksud sekarang ada dalam papahan Miran berusaha untuk berjalan mendekati salah satu bangku yang ada di ruang tunggu dengan susah payah.

“Duduklah di sini” ucap Miran lalu perlahan membantu Kai untuk duduk.

“Kau terluka? Ada yang sakit?” tanya Miran khawatir.

Sementara itu Kai tak tahu harus menjawab apa pertanyaan Miran, ia takut jika berkata jujur maka keadaannya hanya akan mengacaukan segalanya.

‘Kai kau harus ingat, bersikaplah profesional’ batin namja itu.

“Kai kenapa kau tak jawab pertanya....” kata-kata Miran terputus saat ponsel miliknya berdering, itu ternyata panggilan dari Manager Gil yang kebingungan karna Miran dan Kai yang tak kunjung kembali padahal pesawat mereka akan berangkat sebentar lagi, dengan sedikit panik Miran menjelaskan situasi yang terjadi pada Manager Gil dan dalam hitungan menit semua member sudah ada di tempat Kai dan Miran berada.

“Kau baik-baik saja?” tanya Xiumin pada Kai yang terduduk dikursi menahan sakit di punggungnnya.

“Aku baik-baik saja” jawab Kai berbohong padahal rasa sakit itu terasa semakin nyeri.

“Kau yakin bisa melakukan perjalanan ini?” Manager Gil menatap Kai cemas.

“Aku bisa” namja bermarga Kim itu terenyum tipis.

“Syukurlah kalau begitu” D.O tersenyum mendengar ucapan Kai itu.

Namun sayang sekali mata tajam Miran tak bisa dibohongi, sejak tadi Miran menangkap ekspresi Kai yang sedang menahan sakit dengan tangan yang masih memegang punggungnya, gadis itu berfikir pasti ada yang tak beres dengan tubuh namja itu.

“Kalian berangkat saja dulu” ucap Miran membuat semua orang menatapnya.

“Apa maksudmu?” tanya Kris tak mengerti.

“Kai tidak baik-baik saja” ucap Miran tegas dengan menatap Kai tajam.

“Aku baik-baik...” belum sempat Kai menyelesaikan kalimatnya Miran sudah memotong perkataan namja itu.

“Kurasa punggung Kai terluka, ia harus diperiksa. Aku akan membawanya keruang kesehatan” Miran menatap Menager Gil.

“Miran sudah kukatakan aku tak apa-apa” namja bekulit coklat itu berusaha meyakinkan managernya.

“Jika kau mengabaikan luka kecil maka itu akan menjadi infeksi sehingga membuat lukamu semakin melebar, aku tak ingin karna sedikit terkilir kau tak dapat menari untuk selamannya, bukan?”. Miran menatap Kai serius, ia sama sekali tak ingin artisnya merusak tubuh mereka sendiri. Mendengar itu Kai hanya bisa terdiam, ia sama sekali tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika ia tak bisa menari lagi.

“Tapi bagaimana dengan jadwal kita” tanya Luhan.

“Itu biar menjadi urusanku, sekarang bisakah kalian membantuku untuk membawa Kai keruang kesehatan sebelum pergi?” tanya Miran pada member yang masih berdiam diri.

“Ayo Kai” Xiumin dan Chanyeol yang ada di samping Kai membantunya untuk berdiri dan membawanya menuju ruang kesehatan yang ada di bandara.

“Sunbae, maafkan aku tapi kau bisakan mengurus mereka sendiri untuk sementara?” Miran menatap Menager Gil dengan cemas.

“Jangan khawatir, aku akan mengurus mereka” ucap menager Gil seraya menepuk-nepuk pundak Miran guna menenangkan gadis itu.

**

Miran pergi menemui gadis yang sudah membuat artisnya terkapar diranjang ruang kesehatan. Dengan tajam Miran menatap remaja putri itu.

“Apa kau tak berfikir apa dampak dari perbuatanmu itu?” tanya Miran tajam pada gadis yag duduk di hadapannya.

“Apa oppa baik-baik saja?” tanya gadis muda itu, seolah tak mendengar kata-kata Miran.

“Yak! Choi Hyeri, apa kau fikir Kai baik-baik saja?” tanya Miran berusaha menahan amarahnya pada gadis yang menggunakan papan nama bertuliskan Choi Hyeri.

“Tidak, kurasa ia sedikit terluka” jawab Hyeri tertunduk lemas.

“Jika kau tahu, kenapa masih melakukan hal bodoh seperti itu?” Miran kembali bertanya.

Hyeri terdiam, ia tak menjawab perkataan Miran pikirannya berkecamuk, apakah oppa yang ia elu-elukan itu terluka karnanya.

“Eonni, siapa kau sebenarnya?” Hyeri bertanya pada Miran dengan penuh selidik.

“Aku manager mereka, Shin mi ran. Dan jujur saja jika sampai Kai terluka parah maka semua jadwal  EXO akan berantakan” Miran menjelaskan kedudukanya sebagai manager EXO dan menjelaskan resiko akibat perbuatan gegabah Hyeri.

“Kau gadis muda. Kau tak boleh pergi sebelum orang tua mu datang menjemputmu.” Setelah berkata itu Miran berbalik hendak berjalan keluar meninggalkan Hyeri agar gadis itu merenungi perbuatan bodohnya.

“Mereka tak akan datang” ucap Hyeri lirih namun masih dapat ditagkap oleh telinga Miran.

“Kenapa mereka tak datang?” Miran menaikan sebelah alisnya.

“Mereka terlalu sibuk bekerja” ucap Hyeri menahan rasa pahit di hatinya saat berkata seperti itu.

“Yang datang paling hanyalah supir keluarga kami” Miran melihat seutas senyum penuh kekecewaan diwajah gadis itu.

Miran menghela nafasnya panjang, membuang amarahnya jauh-jauh.

“Nona Choi?” panggil Miran. Mendengar namanya di sebut gadis itu kembali menatap Miran.

“Ikutlah denganku” ajak gadis bermarga shin itu.

“Kau akan membawaku kemana?” tanya Hyeri saat tak mampu mengartikan ekspresi wajah Miran.

“Bukankah ada seseorang yang harus kau temui, kau tak ingin menjenguknya?” tanya Miran dengan senyum tipis. Ya, Miran mengerti perasaan gadis remaja yang ada di hadapannya, gadis ini menjadikan EXO sebagai pelampiasan atas kesediahannya akibat rasa sayang yang tak ia dapatkan dari lingkungan keluarganya.

“Maksudmu kita akan menemui Kai oppa?” gadis berambut panjang itu membelalakan matanya.

“Kau tak mau ikut?” tanya Miran datar.

“Tentu saja aku mau... tapi apakah oppa mau menemuiku?” Hyeri menggigit bibir bawahnya.

“Entahlah, tapi apa salahnya mencoba?” Miran berjalan keluar dan membiarkan Hyeri mengekor di belakangnya, sayup-sayup ia dapat mendengar langkah kaki Hyeri yang mengikutinya dari belakang menuju ruang kesehatan.

Ngeeekkk

Miran membuka pintu yang menjadi jalan untuk memasuki ruangan beraroma obat-obatan itu, seorang perawat muda menyambutnya dengan senyum dan  mengatakan bahwa Kai sedang tertidur pulas akibat obat penahan sakit yang diberikan dokter. Dan begitu mendengarkan perkataan perawat itu hati Hyeri terasa semakin bersalah.

“Terimakasih Perawat Ma, tapi bisakah kau minta dokter untuk memeriksa pergelangan kaki gadis di belakangku ini? Sepertinya ia terkilir” Miran menatap Hyeri yang juga menatapnya dengan bingung.

“Bagaimana eonni tahu jika kakiku terkilir?” tanya Hyeri pada gadis yang ia panggil eonni itu.

“Karna suara langkahmu yang sedikit terseok dan karna tak mungkin kau tak terluka sama sekali mengingat betapa kerasnya kalian terjatuh tadi” Miran tersenyum pada Hyeri tulus, ia memang  marah pada tindakan gadis itu tapi bukan berarti ia tak memiliki perasaan hingga tega membiarkan seseorang terluka.

“Eonni..” Hyeri menatap Miran sarat makna.

“Sudahlah rawat dulu lukamu” miran menyuruh Hyeri untuk mengikuti perawat ma yang sudah memberikan aba-aba untuk mengikutinya.

Setelah Hyeri menghilang dari pandangan, Miran menghampiri Kai yang tertidur pulas di ranjang berbalut warna putih itu.

“Setidaknya ia bisa beristirahat sedikit lebih lama di sela jadwal padatnya” ucap Miran lalu membelai puncak kepala namja itu.

“Mi..ran” perlahan Kai membuka matanya dan menemukan sosok yang ia cari.

“Kau merasa lebih baik?” tanya Miran dengan senyum kecil di bibirnya. Kai mengguk pelan

“Kau yakin?’ Miran kembali memastikan hal tersebut.

“Iya aku sudah merasa lebih baik” ucap Kai serak.

Miran menggegam tangan Kai yang ada ada di dekatnya.

“Kai, kau tahu tubuh yang kau miliki tak selamanya dalam keadaan yang baik, perlahan-lahan tubuh manusia akan mengalami kemunduran seiring dengan usia yang mereka jalani, tapi jika kau terus seperti ini maka kau hanya menyakiti tubuhmu sendiri.” Miran memberikan nasihat pada Kai yang masih terbaring lemah.

“Aku hanya tak ingin mengecewakan siapapun” ucap namja itu sedih.

“Beristirahat sejenak tak akan mengecewakan siapapun Kai, jika kau sakit katakan sakit, jika kau lelah berhentilah sejenak, jika kau sudah merasa tak sanggup..” Miran kembali mengelus puncak kepala Kai sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Ingatlah orang-orang yang ada di belakangmu, orang-orang yang kau sayangi yang selalu akan mendukung mu dengan semangat” Miran tersenyum lembut.

“Apa kau juga akan ada di sana?” tanya Kai pada Miran.

“Tentu saja aku akan ada di sana untuk mendukungmu mister kim” Miran sungguh-sunguh dengan ucapanya.

Perlahan Kai melepaskan gengaman tangan Miran untuk menyetuk wajah gadis itu.

“Jangan ingkari perkataanmu” Kai tersenyum lembut.

“Tentu saja, tapi sekarang kau sebaiknya kembali beristirahat karna penerbangan berikutnya masih 2 jam lagi” Miran meletakan tangan Kai yang semula ada di wajanya ke ranjang.

“Miran eonni” sebuah suara sayup-sayup terdengar memanggil nama manager utama EXO higga membuat Miran dan Kai mencari arah sura itu berasal.

“Ohhh Nona Choi, kau sudah selesai di obati?” Miran tersenyum pada Hyeri yang berdiri di balik gorden yang merupakan pembatas ruang antar pasien. Sedang Kai terlihat terkejut begitu mendapati sosok yang tadi menimpa tubuhnya sekarang berdiri disana.

“Kemarilah” Miran melambaikan tangannya mengajak Hyeri untuk mendekat. Dengan ragu gadis yang masih mengunakan seragam sekolah itu mendekati ranjang Kai.

“Kenapa ia ada disini?!” tanya Kai dengan tatapan waspada ia takut jika tiba-tiba gadis berambut panjang itu ‘menyerangnya’ lagi.

“Oppa mianeyo” Hyeri membungkuk sempurna pada Kai untuk menunjukan penyesalannya.

“Maafkan aku yang sudah membuatmu terluka seperti ini, aku memang bodoh dan tak berfikir panjang” mata gadis itu mulai berkaca-kaca.

“Aku tak tahu bahwa keinginanku untuk memelukmu justru membuat kau dalam masalah” lanjutnya.

“Aku benar-benar minta maaf” sekali lagi gadis itu membungkuk pada Kai yang terbaring di ranjangnya.

Melihat itu semua Kai tak dapat berkata apapun, ia tak tega jika harus melihat seorang wanita menangis, tapi ia juga merasa kesal karna perbuatan gadis sma itu sudah hampir membuat jadwal kerjanya berantakan. Sedang Miran memang sengaja tak berbuat apa-apa karna ia ingin tahu bagaimana Kai akan menyelesaikan permasalahannya.

“Kau.. masih sma?” tiba-tiba saja Kai menanyakan hal itu pada gadis yang sudah dengan sangat jelas menggunakan seragam sma di hadapanya.

“Miran, bisa kau bantu aku duduk?” pinta Kai dan dengan sigap Miran membantunya, sepertinya rasa sakit yang ada di punggung Kai sudah sedikit menghilang karna tanpa kesulitan yang berarti namja itu dapat duduk di ranjangnya.

“Terimakasih” ucapnya begitu Miran selesai membantunya.

“Kau tak menjawab pertanyaanku?” Kai kembali menatap Hyeri.

“Ohh iya, aku masih duduk di bangku sma, tepatnya kelas 11” jawab Hyeri dengan perasaan bersalah bercampur senang karna akhirnya ia dapat berbicara dengan idolanya.

“Kau Nona Choi, berapa rankingmu dikelas?” tanya Kai dengan wajah serius.

“Apa?” Hyeri membulatkan matanya.

‘Kenapa oppa menanyakan rangkingku? Bagaimana ini? Aku harus menjawab apa? Mana mungkin kukatakan bahwa aku rangking terendah di sekolah’ Hyeri mengigit bibirnya menimbang-nimbang apa yang harus ia jawab.

“Aku masuk dalam 5 besar di kelasku” Hyeri berbohong, karna ia tak ingin terlihat buruk di depan biasnya.

“Bohong” ucap Kai datar.

“Bukan sekali ini aku melihatmu ada disekeliling EXO, dan aku yakin ini bukan pertama kalinya kau membolos sekolah bukan?” tanya Kai tajam.

Hyeri terpaku mendengar perkataan Kai, ia sangat malu karena semua itu benar.

“Dan setahuku anak yang sering membolos mana mungkin mendapatkan peringkat 5 besar, jadi sebenarnya kau ranking berapa nona choi?” tanya Kai penuh selidik.

Hyeri terdiam tak bisa menjawab apapun, sungguh citranya mungkin sudah sangat rusak di mata Kai.

“Begini saja, kita buat sebuah perjanjian. 4 bulan lagi setelah kau selesai melakukan ujian semester temui aku, namun kau harus pastikan bahwa dirimu masuk dalam 5 besar di kelas karna dengan begitu baru aku akan memafkan perbuatanmu dan kuanggap kau bukanlah seorang pembohong, setuju?”

Hyeri menimbang-nimbang tawaran dari Kai, jika ia menerimanya setidaknya itu bisa memperbaiki imagenya dimata Kai, tapi dengan begitu secara otomatis ia tak dapat mengikuti EXO kemanapun lagi dan bagaimana jika ia tidak berhasil masuk dalam 5 besar?.

“Kenapa? Kau tak mau berkorban untuku?” tanya Kai mengelurakan kartu as yang ia miliki, namja itu yakin Hyeri tak akan melakukan semua itu demi dirinya sendiri tapi ia yakin gadis itu akan melakukan yang ia minta jika diiming-imingi kata-kata ‘berkorban untuknya’.

“Baiklah” kata-kata itu keluar dari bibir Hyeri pada akhirnya.

Kai terseyum menang dan Miran yang menyaksikan itu semua hanya bisa mengeleng dengan senyum tipis dibibirnya, manager wanita itu merasa lega karna artisnya dapat menyelesaikan permasalahanya dengan baik.

“Oke, kalau begitu kau boleh pergi, karna aku ingin beristirahat” ucap Kai santai.

“Semoga lekas sembuh oppa” ucap gadis berseragam itu dan kembali membungkuk pada Kai.

“Tapi Oppa...” Hyeri menatap Kai ragu.

“Apa lagi?” tanya jong in.

“Maukah kau berfoto denganku?” tanya Hyeri penuh harap.

Kai terdiam sejenak dan meimbang-nimbang.

“Sudahlah kabulkan saja permintaanya” Miran yang sejak tadi terdiam akhirnya buka suara.

“Baiklah” ucap Kai mengiyakan permintaan dua gadis yang ada di hadapanya.

Dengan gesit Hyeri mengeluarkan sebuah spidol dan menyobek bagian tengah bukunya lalu menyodorkannya pada namja tampan yang ia gilai.

“Apa ini?” Kai menerima semua itu walaupun ia tak mengerti apa maksud hyeri menyodorkan semua itu padanya.

“Bisa tuliskan sesuatu sebagai penyemangat belajarku?” tanya Hyeri dengan memiringkan kepalanya.

Kai mendengus malas tapi tetap melakukan apa yang Hyeri pinta, sedang Miran hanya bisa terkekeh melihat kelakuan Hyeri yang sama sekali tak menyianyiakan pertemuannya dengan Kai.

‘Nona Choi, temui aku 4 bulan lagi dengan penuh rasa bangga’ tulis Kai dalam kertas itu serta tak lupa sebuah tandatangan yang menunjukkan keaslian dari sang penulis.

“Eonni bisa tolong ambilkan gambar untuk kami?” Hyeri memberikan ponselnya pada Miran.

“Oke” Miran mengarahkan kamera ponsel itu pada Hyeri yang sudah memasang gaya andalannya  dan Kai yang memegang kertas dengan wajah datar.

“Tunggu dulu” ucap Miran begitu melihat wajah Kai yang tak bersemangat.

“Kim Kai, bukankah sering kukatakan padamu kau terlihat sangat tampan saat tersenyum? Jadi tersenyumlah dan buat aku terpesona dengan ketampananmu” goda Miran pada Kai, dan benar saja Kai langsung tersenyum dengan pipi yang sedikit merona karna perkataan Miran itu.

“Itu baru bagus” ucap Miran saat senyum Kai mengembang.

“1..2..3..klik.” Miran berhasil mengabadikan Kai dan Hyeri dalam sebuah foto.

“Pulanglah dan belajar dengan tekun” Kai menyodorkan kertas berisi pesan penyemangat pada Hyeri dan meyuruh gadis itu untuk segera pulang.

“Gomawoyo Oppa, Eonni” Hyeri memberikan penghormatan pada Miran dan Kai lalu pergi meninggalkan pegawai SM itu.

“Wow Tuan Kim ternyata sudah dewasa” puji Miran dengan mengacak-acak rambut Kai gemas.

“Yak! Aku ini Oppamu, tidak sopan memegang kepala orang yang lebih tua” ucap Kai kesal.

“Hahaha siapa yang seharusnya berkata seberti itu, huh?” Miran menjitak kepala Kai pelan.

“Kenapa kau memukul kepalaku? Akukan sedang sakit?” keluh Kai seperti anak kecil.

“Bukankah kau bilang baik-baik saja?” Miran menatap Kai tajam.

“Haahh, sia-sia saja pujianku tadi, kau dan EXO ternyata masih tetap seperti bayi” Miran melipat kedua tangannya di dada.

“Ya itu memang benar dengan Shin Miran yang berperan sebagai omma dari EXO” ucap Kai dengan mengangguk-angguk sebagai tanda setuju pada perkataan Miran.

Miran hanya tersenyum malas lalu berjalan pergi meniggalkan Kai.

“Miran-ah kau mau kemana?” tanya Kai saat melihat lawan bicaranya yang justru berjalan menjauh.

“Kemanapun asal jauh darimu” ucap Miran tanpa membalikan badan.

“Kau tak mungkin bisa jauh dariku Miran-ah, aku jamin itu” gumam Kai dengan senyuman diwajah tampannya, mata namja itu terus menatap punggung Miran yang menjauh dari cela gorden yang sedikit terbuka.
***
TBC *lagi hehehe
ya ampun lama banget gak buka ni blog dan ternyata masih ada yang setia baca, sumpah makasih banget *bow sedalam-dalamnya..
sebagai permintaan maaf DinThor bakal ngepost yang belum di post *semoga masih ada yang mau baca*
oke mari lanjut ke part berikutnya :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: