hahahaha akhirnya bisa buat oneshot juga,, karya pertama yang perlu diabadikan *jepret kanan jepret kiri*
semoga kalian suka ya,,
btw inget jangan suka copas sembarangan,, kecuali buat ngerjain tugas dari dosen wkwkwk
Memory About You
cast: Luhan exo, You, Sehun exo.
genre: Romance, drama.
Aku melangkahkan kakiku keluar
rumah dengan langkah ringan, dan sekali lagi mengecek penampilaku dari pantulan
kaca jendela sebelum meninggalkan rumahku yang nyaman ini, terlihat diriku yang
menggunakan dress biru sederhana serta rambut panjang yang ku ikat kucir kuda.
Aku menatap diriku lekat-lekat
dari ujung kaki hingga kepala memperhatikan setiap detailnya “tunggu...”
tatapanku berhenti pada rambut panjangku.
“ia pasti akan mengomel jika
melihatku mengikat rambut seperti ini” aku menggumam pada diri sendiri, namja
itu sangat tak suka jika melihatku mengikat rambut dengan alasan aku kelihatan
gendut dan akhirnya aku memilih untuk melepaskan ikatan itu lalu mengurai
rambut hitamku dibandingkan harus berdebat dengannya nanti.
“perfect” ucapku begitu melihat
pantulanku dan berputar sekali lagi untuk melihat seluruh penampilanku.
Ya aku sengaja berdandan seperti
ini untuk menyenangkan namja chinguku yang bawel itu dan aku ingin tampil
sempurna dihadapan Luhan karna rasanya sudah sangat lama kami tidak bertemu
hingga aku amat sangat merindukan sosoknya, hatiku terasa sudah tak mampu lagi
menanggung rinduku padanya, Namja tampan yang aku cintai. Entah mengapa setiap
mengingat Luhan bibirku akan menyunggingkan sebuah senyuman tanpa aku sadari.
Kulirik jam tangan yang berwarna
senada dengan sepatuku, 10.30 AM. Ini masih begitu pagi untuk bertemu
dengannya, tapi siapa yang peduli dengan waktu jika rasanya aku sudah sangat
ingin tenggelam dalam tatapan mata indah yang ia miliki. Aku berjalan
meninggalkan rumahku yang perlahan-lahan terlihat semakin kecil dari kejauhan,
namun baru bekitar 20 meter aku berjalan langkahku terhenti di sebuah taman
kecil dekat rumah, taman itu masih berada satu blog dengan rumahku taman yang
begitu teduh karna pohon-pohon yang melindunginya dari sinar matahari. Aku
merasa taman itu seperti melambai-lambaikan tangan untuk memaksaku memasukinya.
“ia pasti tak akan marah jika aku
sedikit terlambat bukan?” ucapku sedikit berfikir sejenak sebelum berjanan
menuju dua buah ayunan yang ada di salah satu sudut taman, ayunan untuk
anak-anak itu merupakan tempat bersejarah untuku. Di sanalah tempat dimana Luhan
untuk pertama kalinya mengajaku berkencan.
Aku menduduki ayunan yang sama
dengan 3 tahun yang lalu tersebut, tak ada yang berubah selain warna ayunan
yang di cat menjadi hijau, dan perlahan rasa nyaman menyeruak di hatiku. Dapat
kubayangkan Luhan dengan seragam SMA-nya duduk di ayunan sebelah. Senyumku
mengembang ketika mengingat wajahnya yang sudah memerah seperti tomat,
benar-benar lucu.
“mau.. maukah kau berkencan
denganku?” ucap namja itu lirih, begitu lirih hampir seperti gumaman.
“apa? Kau bilang apa? Aku tak
dapat mendengarnya” ucapku kala itu, sungguh gadis remaja bodoh yang tak mendengar
apa yang di ucapkan namja yang bersusah payah mengumpulkan keberanian untuk
mengajaknya berkencan.
“maukah kau berkencan denganku?”
ucap Luhan sekali lagi dengan suara lantang tak ada keraguan dalam kata-katanya
hingga aku dapat mendengar dengan jelas, bukan Cuma aku tapi semua orang yang
ada di taman itu juga mendengarnya aku dapat merasakan beberapa pasang mata
yang menatapku, namun aku tak memeperdulikan itu semua karna perhatianku
tercurah pada rasa hangat yang menjalar di dadaku tepatnya di hatiku, dan
merasa malu dengan wajahku yang sudah mulai memanas akhirnya aku memilih pergi
meninggalkannya begitu saja setelah menganggukkan kepalaku sebagai tanda aku
menerima ajakannya, aku sungguh berharap ia melihat anggukanku yang hanya
beberapa detik itu.
Aku pergi untuk membeli es krim dengan
harapan es itu dapat mendinginkan pikiranku yang sedang melayang-layang senang
karna akhirnya namja yang kulirik sejak dulu mengajakku untuk pergi berkencan.
Aku membeli dua buah es krim rasa coklat yang sangat kusuka, satu untukku dan
tentu saja yang satu lagi untuk Luhan, dan selama mengulur waktu tersebut aku
terus berusaha mengendalikan detak jantungku agar kembali normal dengan
berulang kali menarik dan menghembuskan nafas, saat itu aku sungguh merasa
seperti ibu-ibu yang akan melahirkan.
Saat dirasa cukup tenang, aku kembali ketempat Luhan berada. Namja itu
masih duduk di sana. Memejamkan kedua matanya, rambut coklat yang ia miliki
sedikit bergerak terbelai oleh angin musim panas yang membuat dirinya terlihat
sungguh menawan, tak ada lagi wajah yang memerah, namun yang kulihat adalah
ekspresi damai dengan senyum tipis dari bibir mungil yang ia miliki.
Aku memaksakan diri berjalan
mendekatinya, Aku berdiri di hadapan namja yang menyandarkan kepalanya pada
rantai yang menahan ayunan yang ia duduki. Kuamati setiap lekuk wajahnya lalu
menempelkan eskrim dingin yang ada di kedua tanganku ke pipi Luhan yang sempat
bersemu merah tadi. Dan mata bocah itu langsung terbuka menatap wajahku yang
ada di depan wajahnya. Kami hanya saling memandang dalam diam. Bola mataku
terpaku pada mata indahnya hingga akhirnya namja itu buka suara.
“dingin” keluhnya polos. Jinja pabo,
wajah Luhan begitu polos saat mengatakan itu, tawaku pecah mendengar ucapannya
dan kami berdua tertawa bahagia. Mulai saat itulah ia menjadi namja chingu yang
sangat kucintai dengan segala hal yang ada dalam dirinya.
Aku kembali mentap sekelilingku saat
kenangan itu berakhir, tak terasa sudah 3 tahun lamanya hal itu terjadi tapi
tetap masih terasa seperti kemarin. Ohh aku sungguh merindukan namja lucuku
itu, aku menarik nafasku dalam-dalam berusaha menguatkan diriku, ayolah
sebenatar lagi rasa rinduku akan terobati, sebetar lagi!.
Akhirnya aku memilih melanjutkan
langkahku untuk bertemu dengan Luhan, namun saat keluar taman seseorang
menghentikanku.
“Nona, apakah kau ingin sebungkus
permen kapas?” tanya ajushii penjual gula-gula dan begitu mengenalinya senyumku
langsung merekah, ia adalah penjual gula-gula yang menjadi langganan kami
berdua saat berkunjung ke taman, wajah lelaki setengah baya itu sama sekali tak
berubah walau pun sudah lama aku tak berkunjung kesini.
“tentu saja” jawabku ringan dengan
mata berbinar.
“ini” ajusshi itu menyodorkan
sebungkus permen kapas bewarna jingga padaku.
“hahaha ajushii, ternyata kau masih
mengingatnya” Aku meraih permen kapas itu dari tanganya dan menatap makanan
manis itu.
“tentu saja aku ingat, hanya
namja chingumu yang mengeluh saat kusodorkan permen kapas berwarna pink atau
warna lainnya, dan bersikeras untuk dibuatkan yang berwarna jingga” kami berdua tertawa mengingat kelakuan
kekasihku itu.
Luhan bodohku tak akan pernah mau
membeli permen kapas berwarna pink atau warna lain, ia akan minta di tukar
dengan warna jingga karna warna itu adalah warna favoriku, walaupun aku berkata
tidak apa-apa jika warna lain namun namja itu tetap saja akan meminta dibuatkan
permen berwarna jingga, terkadang kelakuanya itu membuatku sedikit malu dan
kesal, tapi aku yakin dengan cara itulah dia menunjukan perhatian padaku. Dan sebelum
lupa untuk membayar aku merogoh tasku mencari uang yang sudah kumasukan sebelum
keluar rumah.
“kau tak perlu membayarnya, itu
gratis” ucapnya ringan dan tersenyum lembut padaku.
“ajushiii....” aku ingin
memprotesnya namun ia memotong kata-kataku.
“itu permen favorit namja
chingumu kan? Tolong sampaikan salamku jika kau bertemu dengannya” aku tertegun
mendengar ucapan ajushii dihadapanku, dan menatap permen kapas yang ada dalam
genggamanku lekat-lekat, namja itu pasti sangat senang jika ia tahu dari mana
aku mendapakan permen kapas ini.
“terimakasih” ucapku dan membungkukan
tubuh sedikit sebagai rasa penghormatan atas kebaikan hatinya.
Ku lanjutkan langkahku kembali,
matahari sudah sedikit meninggi namun aku tak begitu perduli jika harus
berpanas-panasan. Sepanjang perjalanan aku menatap beberapa pasangan yang
berjalan bersama, mereka saling tersenyum satu sama lain dan bergandengan tangan.
Mereka sungguh membuatku iri, aku memputkan bibirku sebal, aku sungguh berharap
Luhan sedang berjalan di sampingku dan menggenggam tanganku juga.
Namun rasa iriku hilang saat tiba-tiba
aku merasakan perutku mulai terasa perih, lapar. Ini pasti karna aku yang belum
sarapan dan lebih mementingkan memilih baju dibandingkan makan malam, yaaa
intinya aku belum makan apapun dari kemarin malam.
Tak jauh dari tempatku ada sebuah
mini market yang tak begitu ramai, akhirnya aku membeli sepotong roti dan dua
kotak susu rasa pisang untuk mengganjal perutku. Aku duduk di meja yang disediakan
untuk pelanggan toko dan memakan roti dengan isi selai coklat favoritku lalu
memandang dua kotak susu yang aku letakan di atas meja. Dua kotak susu rasa
pisang, alasan aku tak membeli rasa coklat karna hanya rasa itu yang disukai Luhan
dan aku ingin berbagi minuman itu dengannya.
Jika boleh jujur sebenarnya namja
itu tak suka minum susu, ia pasti akan cemberut jika aku memaksanya untuk
minum, namun aku selalu beralasan bahwa susu bisa membuatnya lebih tinggi dan
aku suka namja yang tinggi maka dengan begitu Luhan akan meminumnya walaupun cemberut
di wajah namja itu tak memudar.
Disela makanku terdengar sebuah
lagu yang kusuka mengalun samar, dapat di pastikan alunan lagu itu berasal dari
ponselku, dengan cepat aku mencarinya dalam tas, aku melihat nama orang yang
menelponku tertera di layar ponsel ‘OH SEHUN’, lalu tanpa pikir panjang aku
menjawab panggilan itu.
“apa yang sedang kau lakukan?”
tanya Sehun di seberang sana tanpa basa basi.
“bukankah sudah ku katakan padamu
aku akan bertemu Luhan hari ini” ucapku lalu menggigit sisa roti yang ada di
tangan kananku dengan tangan kiriku yang masih sibuk menahan ponsel yang
tertempel di telinga.
“kau pasti belum makan bukan?”
tanya Sehun yang aku yakin mendengar suara kunyahanku dari ponselnya.
“aku baru saja memakan rotiku,
jadi kau tak perlu khawatir” aku berusaha menengkan namja bertubuh tinggi itu.
“baiklah, lain kali jangan lupa untuk
sarapan sebelum meninggalkan rumah” ocehnya dari sebrang sana.
“de, aku tak akan melakukannya
lagi jadi kau tak perlu cerewet seperti ini” kataku sekenanya.
“hemmm baiklah hari ini kau lolos
dari amukanku, ohh jangan lupa sampaikan salamku pada Luhan” ucap Sehun lalu
memutuskan panggilan begitu saja.
“Apa-apaan ini? Biasanya ia akan
marah jika aku memutuskan pangilan seenaknya tapi lihat sekarang apa yang dia
lakukan padaku” aku mendengus kesal pada ponsel putihku dan memasukannya kembali
kedalam tas dengan sebal.
***
Akhirnya aku sampai setelah 10
menit berjalan, dan satu kali naik bis umum, tempat ini memang sedikit jauh
dari rumahku, tapi tak apalah karna semua ini untuk Luhanku.
Begitu sampai di sana aku mencari
sosok namja itu berharap segera bisa menemukannya. Dan sedetik kemudian aku
melihat seorang namja berdiri disana menantiku, tak ada yang berubah darinya
walaupun sudah lama kami tak bersua. Senyum tampan yang begitu kusuka langsung
menyambutku dengan hangat, matanya yang indah mentapku tanpa berkedip sunguh dia
terlihat begitu menawan. Aku membalas senyuman Luhan dan berjalan
menghampirinya, dapat kurasakan jantungku yang selalu berdegup lebih cepat jika
melihat namja chinguku. ohhh aku sungguh menyukai perasaan ini.
“apa kau sudah menungguku lama?” aku
bertanya pada namja yang sekarang berdiri di hadapanku.
Luhan menggeleng pelan namun
wajahnya menujukan ekspresi cemberut seperti anak kecil, yang berarti dia sudah
lama menunggu.
“maaf karna aku terlambat,
sebagai gantinya aku akan memberikanmu ini” aku menyodorkan permen kapas
berwarna jingga yang sejak tadi aku bawa. Namun ia masih saja menujukan wajah
cemberut.
“ayolah maafkan aku” bujuku
padanya, aku begitu ingin memeluk namja yang ada di hadapanku ini, namja
bodohku. Aku ingin mencubit pipinya yang sedikit menggembung karna cemberut
itu.
“jangan datang terlambat lagi”
ucap bibir kecil Luhan. Aku tersenyum karna mendengar suara yang sangat ingin
kudengar itu.
“maaf, aku benar-benar minta
maaf” aku memiringkan sedikit kepala dan menunjukan tatapan aegyoku berharap
itu dapat menghilangkan rasa kesalnya.
Luhan tersenyum dan menatapku
lekat-lekat, mata indanya membuatku tak mampu mengalihkan pandanganku
kemanapun, hanya dia yang ada dalam pengelihatanku dan memang hanya dia yang
ingin kulihat.
“baiklah aku memaafkanmu karna
kau adalah yeoja ku” ucap Luhan lembut lalu mengulurkan tanganya untuk mengelus
puncak kepalaku, aku tesenyum medengar kata-kata yang ia sampaikan. Kata-kata
itu entah sudah berapa ratus kali ia sebutkan ketika aku melakukan sesuatu yang
membuatnya marah.
“Luhan... ” ucapku lirih,
senyumanku meghilang seiring mataku yang berkaca-kaca, padahal sebelumnya aku
sudah berjanji pada diriku sendiri tak akan ada airmata yang terjatuh saat
bertemu dengan namja itu.
“jangan menangis, kumohon...”
ucapnya lirih penuh perhatian.
“bogoshipo, jinja bogoshipo” aku
merasakan air mataku turun menyusuri wajahku, rasa rindu terasa begitu menusuk
di dada, begitu menyakitkan. Saat ini aku begitu ingin memeluk dan mecium aroma
parfumnya, menyentuh wajahnya seperti dulu. Namun begitu aku berusaha mendekatinya
bayangan Luhan telah lenyap, yang kudapati adalah sebuah makam dengan nisan
yang bertuliskan nama Luhan, nama namja chinguku terpatri di sana sungguh
membuat hatiku hancur seperti tersayat ribuan pisau dan tersadar bahwa rinduku
tak akan pernah bisa terobati. Tak akan pernah.
Hari ini adalah peringatan setahun kematiannya.
Hari peringatan yang senang tiasa mengingatkanku bahwa ia sudah tak ada. Rasa
dingin mulai menyelimutiku, aku sungguh berharap sekarang aku ada dalam
pelukannya, pelukan yang selalu menghangatkanku dan hatiku. Namja itu telah
meninggalkanku setahun silam, ia pergi begitu saja tanpa menanyakan apakah aku
mampu hidup tanpa dirinya? Apakah aku mampu hidup tanpa melihat sosoknya?
Apakah aku mampu bertahan tanpa mendengar suaranya? Kenapa ia tak menanyakan
semua itu sebelum ia pergi! Tangisku pecah! Ini terasa sangat memilukan, bahkan
sekarang kedua kakiku tak mampu menopang tubuhku yang terasa tak berdaya ini,
aku berlutut di hadapanya, dihadapan nisan Luhan, menangis sejadi-jadinya,
menumpahkan seluruh kesedihanku yang tak akan pernah habis, walaupun kutahu
jika ia melihat semua ini ia pasti akan sangat-sangat sedih dan merasa bersalah
karna hal yang sangat melukainya adalah ketika aku terluka.
“hal yang lebih melukaiku adalah
ketika aku melihat orang yang kucintai terluka, dan aku akan melakukan apapun untuk
menyembuhkan luka itu” kata-kata bodoh Luhan terngiang-ngiang dalam otakku,
permainan memori yang selalu mebawaku jatuh padanya walaupun dia sudah tiada. Bahkan
setelah waktu yang kulalui tanpanya, aku masih hidup dalam khayalanku hidup
dalam memoriku, mengingat dia dalam setiap hembusan nafasku. Aku sungguh
berharap dia benar-benar di sini! Berharap ia benar-benar mengelus kepalaku
dengan sayang, tersenyum bersamaku, makan permen kapas kesukaanya, aku bahkan
rindu sikap cerobohnya yang selalu membutku marah. Aku menghela nafasku panjang,
mengumpulakan tenaga untuk mengerakan bibirku.
“kau berbohong Luhan, kau tak
akan bisa menyembuhkan lukaku. Karna kaulah luka itu” ucapku tipis menatap
nanar nisan batu itu. Kuletakan permen kapas dan susu kesukaanya di depan
nisan, kupaksakan jari-jemariku untuk menyentuh puncak nisan itu walaupun
hatiku menolaknya, saat aku menyetuh batu dingin itu hatik terasa seakin
membeku, aku berulang kali membaca namanya yang sungguh terasa tak rela jika
tertulis di sana, sekali lagi aku menarik nafasku dalam, berusaha menekan
seluruh emosiku dengan sisa kekuatanku.
Aku menatap nisan itu dalam diam hingga
air mataku kering. Hanya diam. pandanganku kosong, pikiranku kosong karna
tekanan batin yang kurasa.
“hai namja chinguku” kataku
akhirnya setelah sedikit tenang, hanya sedikit.
“kau baik-baik saja bukan?” aku
kembali membelai nisan itu seolah-olah batu itu adalah Luhanku.
“maaf karna aku menangis
dihadapanmu tadi” ucapku penuh sesal berharap ia bisa mendengarnya walaupun
entah dari mana.
“dan maaf sudah membuatmu
menunggu lama” aku mengambil permen kapas yang kuletakan di depan nisannya dan
membayangkan wajah bahagianya saat memakan permen itu dulu.
“kau tahu, permen ini diberikan
oleh ajushii penjual gula-gula di taman, ia masih ingat bahwa kau hanya akan
membeli permen kapas berwarna jingga, warna kesukaanku” sekali lagi senyum Luhan
terbayang di mataku, senyum manis yang dulu terasa begitu membahagiakan.
“dia menitipkan salam untukmu,
apa kau masih ingat wajah ajushii itu? dia sama sekali tidak berubah walau
sudah setahun berlalu” aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat menahan rasa
sedihku.
“Luhan......” bibirku bergetar
saat menyebutkan namanya, kuletakan kembali permen itu dihadapan nisannya
dengan tangan gemetar.
“aku merindukanmu.. sangat
merindukanmu..” ucapku dengan mata yang kembali digenangi kesedihan, berharap
rasa rindu itu akan berkurang jika aku mengatakan hal tersebut, walaupun
nyatanya tidak.
“ini sangat sulit bagiku, terlalu
sulit. Butuh waktu setahun agar aku dapat menerima kenyataan pahit ini” ya
memang butuh waktu setahun agar setidaknya aku dapat menyadari bahwa Luhan tak
akan kembali.
Setahun silam aku mendapat kabar
bahwa Luhan mengalami kecelakaan hebat saat akan menjemputku dari kampus,
padahal sudah kukatakan bahwa aku akan pulang sendiri dan menyuruhnya untuk
beristirahat saja karna flu berat yang sedang ia alami. Namun seperti biasa
namja bodoh itu tak akan mendengar perkataanku, ia bersikeras untuk menemputku hingga akhirnya aku menyetujui permintaan
Luhan itu walaupun dengan berat hati. Aku masih ingat perasaan cemas yang
menyelubungiku ketika menunggunya begitu lama di depan gerbang universitas,
begitu lama aku menunggu namun ia tak kunjung datang, dan ternyata ia tak akan
pernah datang, ia mengalami kecelakaan tak jauh dari kampusku, dan begitu
mengetahuinya aku langsung berlari untuk melihat keadaan kekasihku itu.
Luhan tewas di tempat kejadian
dengan cerdra otak yang parah dan melihat ia yang tebujur kaku dengan genangan
darah yang berasal dari tubuhnya sungguh membuatku gila hingga rasanya ingin
mati.
“Namjaku... “ hanya kata-kata itu
yang keluar dari bibirku saat tubuh Luhan ada dalam pelukanku, tubuhnya begitu
dingin, dan darah segar masih megalir dari luka-lukanya, pasti ia merasa sangat
kesakitan, pasti ia merasa sangat kedinginan. Aku memeluk Luhan semakin erat
untuk menghangatkanya, aku sudah tak perduli dengan bajuku yang sudah berubah
warna menjadi merah karna darah namja chinguku itu, air mataku terus mengalir
seperti tak dapat dihentikan, bahkan beberapa butir air mataku jatuh membasahin
wajah tampanya. Aku sungguh ingin ia membuka matanya agar bisa manatapku. Aku
sungguh memohon keajaiban terjadi, Tuhan aku mohon selamatkan Luhan, aku mohon
jangan biarkan ia pergi, aku menatap sekelilingku frustasi dapat kulihat dokter
yang datang begitu kecelakaan terjadi hanya bisa menunduk tak berdaya, kenapa
mereka tak melakukan apapun? Kenapa mereka hanya terdiam? Tanyaku dengan
pikiran yang sungguh kalut. Aku
berteriak-teriak pada orang-orang yang mengelilingi kami untuk membantu Luhan,
berharap mereka bisa melakukan apapun untuk membantunya bertahan, namun yang
kudapatkan adalah tatapan pilu mereka saat mendengar tangisanku yang semakin
menjadi, dan semua itu membuatku semakin erat memeluk namja chinguku itu seolah
ia akan menghilang jika pelukanku terlepas.
Tapi semua keajaiban yang ku
harapkan itu tak pernah terjadi, Luhan tetap pergi meniggalkanku, tetap hilang
dari pelukan eratku dan yang terjadi setelah itu adalah hidupku kosong tanpa
jiwa, hampa. Aku mengabaikan semua yang ada di sekelilingku, hidupku
berantakan, kuliahku berantakan, tak ada hasrat untuk melanjutkan hidup.
Dapat kuingat dengan jelas saat
itu semua orang menatapku dengan iba, kedua orang tuaku begitu sedih dan aku
dapat merasakan itu, hampir setiap hari ibuku menangis walaupun ia tak pernah
menyujukannya di depanku ia selalu memohon pada Tuhan agar aku dapat kembali
seperti dulu, mejadi anaknya yang ceria dengan senyum yang selalu merekah,
namun semagat hidupku sudah pergi seiring kepergian Luhan.
Berulang kali aku masuk rumah
sakit akibat usahaku untuk bunuh diri, entah dengan menyayat pergelangan
tanganku ataupun menegak segala macam pil yang tak jelas. Hingga akhirnya aku
harus menjalani terapi mental karna ulahku, dan selama beberapa bulan tersebut ada
seorang dokter muda yang selalu mendampingiku, dia adalah Sehun. Namja cerewet
yang selalu mengingatkanku tentang ini dan itu, dan juga mengingatkanku jika
saja Luhan masih hidup ia pasti akan kecewa dengan sikap bodohku, Luhan akan
sedih melihat yeojanya yang begitu lemah untuk melanjutkan hidup dan memilih
untuk mengakhirinya. Perkataan yang sungguh menyebalkan, karna apa? Karna itu
semua benar.
Dan setelah berulang kali
menguatkan diriku, akhirnya aku bisa menemui Luhan lagi walaupun rasa sakit dan
kesedihan masih teras kuat menggengam tubuhku.
“Luhan... kau senang bukan? Aku
bukan yeoja lemah lagi, aku akan menjadi kuat untuk orang-orang yang ada di
sekitarku” aku terdiam sejenak.
“tapi kau tahu aku berpura-pura
tegar, Karna di hadapanmu aku akan selalu menjadi yeoja lemah” aku berusaha
tertawa namun gagal, lalu mengambil sekotak susu rasa pisang dan meminumnya
walaupun terasa sangat sulit untuk ditelan, tentu saja aku melakukannya untuk
menyembunyikan rasa sakit di jiwaku.
“hai Luhan!” tiba-tiba seorang
namja berdiri di sampingku entah sejak kapan ia berdiri disana, karna aku terlalu
larut dalam pikiranku sendiri sehingga tak tahu kapan Sehun datang.
“ke.. kenapa kau ada disini?”
tanyaku penuh selidik dengan terbata tak percaya dapat melihat Sehun di sini.
“hanya ingin mendengarkan keluh
kesahmu pada Luhan” ucap sehun santai, namja tinggi itu terlihat menggunakan
kemeja biru pupus dan celana jeans hitam, dia memang selalu terlihat seperti
ini setiap menemuiku, dan terkadang mengunakan jubah dokternya yang begitu ia
banggakan.
“tidak baik menguping pembicaraan
orang” ucapku sinis dan kebali mememinum susu yang ada di genggamanku hingga
isinya habis. Sehun hanya bisa mengeleng pelan melihat kelakuanku itu.
“bukankah gadis ini sangat galak?
Bagaimana kau bisa betah menjadi namja chingunya?” tanya Sehun seolah-olah Luhan
ada di hadapanya.
“ohhh dia mulai lagi” keluhku
memegang kepala berlaga seperti orang pusing aku tahu Sehun sengaja melakukan
itu untuk menghiburku, aku yakin ia sudah melihat semua yang kulakukan dari
jauh, tapi kelakuanya itu sama sekali tak menghibur.
“Ya! Luhanku pasti tidak ingin
mendengar ocehamu itu” kataku tajam pada Sehun. Dan namja disampingku itu hanya
bisa menghela nafas keras.
“sudahlah, lebih baik kita pulang
saja karna operkataanmu itu hanya akan membuat Luhan sakit kepala” aku bangkit dan mengelus makam Luhan untuk
terkahir kalinya sebelum aku pergi walau masih merasa enggan namun aku sudah
mulai terbiasa.
“aku pasti akan datang lagi!
tunggulah dengan sabar, oke?” kataku penuh keyakinan, aku memandang tulisan
nama namja chinguku dan beranjak pergi.
“sampai jumpa lagi” ucap Sehun
yang memberikan penghormatan pada Luhan sebelum pergi dan kemudian berlari
menyusuku. Langkah kaki besarnya berusaha menyesuaikan irama langkahku.
“kau mau es krim?” tanyanya
kemudian.
“aku yang traktir” lanjutnya
dengan menunjukan sebuah senyuman yang mampu membuat kaum hawa terlena jika
melihatnya, tapi tidak denganku.
“ummmmm” aku berfikri sejenak
sebelum akhirnya mengiyakan permintaan namja berwajah tirus itu.
Ku tolehkan sekali lagi kepalaku
untuk melihat Luhan sebelum pergi, membayangkan ia terseyum tulus padaku sambil
memakan permen kapasnya. “jangan lupa untuk minum susumu” ucapku lirih pada
bayangan namja yang begitu kucinta.
“kau bilang apa?” tanya Sehun
dengan wajah bingung.
“bukan apa-apa” aku menggelang
pelan dan tersenyum menatap jalan dihadapanku.
***the end***
DinThor: Pukpuk deh buat “aku”,,
yang kuat ya, kamu harus semangat untuk hidup! Jangan menyerah. Btw jadian aja
sama Thehun, kan katanya suka cowok tinggi si Thehun kurang tinggi apa coba??
Tp kalo mau cari yang lain juga gak papa, terus Thehun buat DinThor hehe
*dilempar sandal swalloooww ijo sama fansnya Thehun... Yaudah deh daripada kena
lempar mending DinThor pamit ajah, Bye.. Bye.. ^^.








0 komentar:
Posting Komentar