Special Kai's Diary.
part sebelunya Part11
dalam ff part ini akan berbeda dari diarynya Sehun karna selain akan bercerita dari sudut pandang Kai disini cerita dari MYM ttep dilanjutin makanya di tulis part 12.
(banyak banget Typonya dan sedikit panjang dengan jumlah halaman word 44 halaman, kriting-riting dah tangan gue, hehe maap ya gak pernah bisa gak ngeluh di setiap part wkwkwkwkwk kebiasaan buruk dindong)
uke lets gooo!! gogogo!!
___________________________________________________________________________________
KAI POV
“Akhirnya latihan ini selesai!” seorang
pemuda dengan perawakan lebih kecil dariku berteriak girang ketika kami
menyelesaikan latihan vocal untuk hari ini, siapa lagi kalo bukan Baekhyun
Hyung yang sudah ribut dan terus berkata bahwa ia ingin segera beristirahat
sejak tadi.
“Haaahhh!” aku menghela nafas
panjang dan membenarkan snapback hitamku lalu berjalan gontai menuju pintu
tanpa mempedulikan apa yang sedang di ributkan oleh member lain.
“Kau mau kemana?” Tanya D.O hyung
ketika pengelihatannya menangkap sosok diriku yang hendak keluar dari ruangan.
“Aku ingin mencari udara segar di
atas” ucapku sambil berlalu meninggalkan member lain yang masih menikmati waktu
istirahat mereka.
“Jangan terlalu lama, kita harus
pergi setengah jam lagi” teriak Xiumin Hyung dari sudut ruangan namun masih
terdengar sangat jelas di telingaku.
Aku tak begitu menghiraukan
teriakannya itu dan terus berjalan keluar ruangan. Sungguh aku merasa aku butuh
sedikit ketenangan untuk saat ini, pikiranku terlalu kalut dan lelah karna
sejak tadi terus berusaha untuk focus pada apa yang aku kerjakan walaupun
sejujurnya dalam otakku hanya bisa memikirkan seorang gadis yang entah berada
di mana, sungguh itu membuatku merasa tertekan.
‘Tingggg’ pintu lift yang aku
tunggu terbuka, aku mengangkat kepalaku dan menatap kedalamnya sejenak, tak ada
seorangpun dalam lift itu. Aku pun masuk kedalamnya dan menekan tombol yang
menunjukan tingkat paling atas dari gedung ini. Aku menyandarkan tubuhku pada
salah satu sisi ruangan berukuran sempit itu dan memejamkan mata.
“Hah!! Kurasa aku akan kehilangan
kewarasanku” aku bergumam pada diriku sendiri saat bayangan wajah pucat Miran
kembali muncul dalam otak ini entah sudah keberapa kalinya. Aku kembali membuka
mataku untuk membiarkan pupilku menangkap cahaya.
‘Apa yang kira-kira sedang gadis
itu lakukan saat ini? Apakah ia sudah sembuh atau justru.... agh! Ani! Aku
tidak boleh menikirkan hal yang buruk! Ani!’ aku menggelengkan kepalaku
berusaha menghilangkan pikiran buruk yang ada, jangan sampai semua pikiran
buruk itu terjadi padanya. Aku mohon Tuhan lindungi gadis itu, sungguh jangan
sampai ia terluka.
‘Tiingg’ pintu lift kembali
terbuka tepat di lantai yang kuinginkan. Aku segera keluar dan menaiki beberapa
anak tangga untuk menuju ke atap gedung ini, perlahan aku membuka pintu dan
menemukan taman hijau yang selalu menjadi tempatku menenangkan diri atau
sekedar menghapus rasa jenuh karna pekerjaan atau latihan yang terlalu padat.
Taman itu terlihat sepi tak
sepeti biasanya, mungkin orang-orang terlalu sibuk dengan urusan mereka
sehingga tak ada waktu untuk memandang hijaunya dedaunan. Entahlah aku terlalu
engan memikirkan alasan mengapa taman ini begitu sepi. Mungkin ini justru lebih
baik karna membuatku bisa leluasa melakukan dan meluapkan apa yang kuinginkan. Semua
orang pasti akan lelah jika harus menutupi apa yang mereka rasa dengan sebuah
senyuman seolah mengatakan semua baik-baik saja dan itulah yang aku lakuakan
sejak kemarin, tersenyum untuk orang lain dan menekan perasaanku sendiri. Haha
lucu sekali bukan?
Aku melangkahkan kakiku untuk
menyusuri jalan setapak yang terbuat dari rangkaian batu alam, menarik nafas
panjang berusaha membuang penat dalam pikiranku. Setapak demi setapak,
perlahan-lahan namun tiba-tiba langkahku terhenti begitu saja ketika melihat
salah satu bangku yang ada di taman itu, tepatnya pandanganku terpaku pada
seseorang yang terduduk disana.
“Miran?” gumamku ketika kedua
irisku menangkap sosok seorang gadis bergaun putih yang tengah terduduk dibangku
taman berwarna coklat tua kemerahan yang ada di atap gedung SM Entertainment ini.
Apakah itu benar dia? Apa itu
benar Shin Miran? Apa aku mulai berhalusinasi? Apapun jawabannya yang jelas aku
harus segera memastikannya. Tak ingin membuang waktu lagi aku melangkahkan
kakiku dengan tergesa untuk menghampiri sosok gadis yang tengah menikmati
hembusan angin yang menerpa wajahnya.
“Shin Miran?!” panggilku tepat
disamping gadis yang menggunakan dress putih itu dengan sedikit perasaan tak
yakin diantara berharap ini bukanlah halusinasi dan mempersiapkan diri untuk
kecewa jika itu ternyata bukan dia.
“Kai?” ucap bibir kecilnya saat
mata kami bertemu.
“OH! ini benar kau!” tanpa ragu
kubungkukan tubuhku untuk memeluk gadis yang tengah terduduk di kursi kayu itu,
rasanya sungguh melegakan bisa melihatnya lagi. Aku melapaskan dekapanku dan
menatapnya lekat-lekat, tak ada yang terluka dan tak ada lagi bibir pucat,
syukurlah ia baik-baik saja. Ohh Tuhan syukurlah aku berhasil menemukannya!.
“Kau tahu seberapa khawatirnya aku padamu?” ungkapku seraya kembali
membawanya dalam dekapanku, aku tak ingin kehilangan dia lagi. Sungguh.
Aroma khas caramel dan vanilla
dari parfume yang ia gunakan menusuk dalam penciumanku, ini adalah aroma yang menjadi favoritku bahkan sejak pertama
kali aku bertemu dengannya, karena tiap kali aroma ini tertangkap oleh indra
penciumannku itu tandanya sosok cantik Miran sedang berada di dekatku dan jujur
saja itu membuatku merasa nyaman dan tenang.
“Aku tahu kau selalu khawatir padaku Kai” ucap gadis itu dalam
dekapanku. Hanya dalam sedetik hatiku menghangat karna ucapannya. Tapi tunggu..
Dari mana gadis ini tahu jika aku selalu
mengkhawatirkannya? Setahuku tak ada yang pernah tahu akan apa yang aku
rasakan, atau itu hanya pendapatku saja?
“Maaf sudah membuatmu khawatir akan diriku” ucapnya lagi, aku
mengerutkan dahi dan melepaskan dekapanku lalu dengan cepat mengambil posisi
duduk disebelahnya. Tidak, hatiku berkata ada yang salah.. entah mengapa
kata-kata yang aku dengar terasa seolah bukanlah ucapan dari seorang Shin
Miran, ucapan gadis ini seperti membawaku pada hari lalu saat Miran hanya bisa
tertidur di ranjangnya dan tak mampu berbuat apa-apa.
“Kau sudah tidak demam.. tapi...” gumamku ketika membandingkan suhu
tubuh Miran dengan suhu tubuhku, suhunya sama-sama normal tapi mengapa hari ini ia masih terlihat aneh? Apa ada luka dikepalanya yang tek
terlihat olehku?
Aku berusaha merenggangkan
tulang-tulang leherku untuk mencari apakah benar-benar ada luka yang tertutupi
di balik rambut dengan panjang sebahu milik gadis itu.
“Tapi apa?” aku menghentikan aktifitasku dan menatap gadis yang
tengah menatapku dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
“Tidak apa-apa” aku menggelengkan kepalaku tanpa sadar. Saat aku
melihat gadis ini tersenyum sepertinya semua pikiran dalam otakku tak
bisa bekerja dengan benar, senyumannya seolah menggiringku untuk berhenti
bersikap khawatir dan hanya focus padanya. Ohh saat ini aku bahkan merasa bahwa
wajah gadis ini semakin indah pada setiap detik yang aku habiskan dengannya
ditambah lagi dengan aroma tubuhnya yang terus menerus menyelimuti penciumanku
karna terpaan angin musim panas, semua itu berhasil membuatku terhipnotis
dengan segala pesonanya.
“Kai.. kau sakit? Wajahmu memerah!”
wajah Miran berubah khawatir, ya ampun apa aku sangat merindukannya hingga
apapun ekspresi yang ditunjukan gadis ini terlihat tetap menawan di mataku?
Haahh yepputa...
“Kai, kau dengar aku?” panggilan Miran
membawaku kembali dari khayalan menuju dunia nyata.
“Eoh? Kau bilang apa tadi?” tanyaku dengan wajah polos.
“Aku tanya apa kau
sakit? Wajahmu terlihat sangat merah” gadis itu ngulangi perkataanya tadi, dan
membuatku berfikir sejenak untuk memahami perkataan yang ia ucapkan.
‘HA? MERAH? WAJAHKU? OH TIDAK! PIPIKU
PASTI MERONA LAGI! AGGHHHH! INI SUNGGUH MEMALUKAN! Jika Miran sampai bisa melihatnya maka aku yakin
wajahku sangat-sangat merah karna biasanya jika hanya sedikit merona maka masih bisa tertutup dengan warna
kulitku yang coklat, TAPI INI... AGHH!’ rasa malu berkecamuk dalam
hatiku dan dengan cepat kugunakan kedua telapak tanganku untuk menututupi
pipiku yang nyatanya memang terasa sedikit panas.
“ANI! Umm maksudku an-ani! A-Aku
baik-baik saja! Ehm!” aku berdeham untuk menyembunyikan keggugupanku.
‘Ayolah Kai! Kau hanya tak
melihat gadis ini sehari! Kenapa kau jadi aneh begini?!’ Aku mengalihkan tatapanku pada hijaunya
dedaunan yang ada di taman itu, kuharap rona ini segera menghilang! Sungguh
memalukan jika Miran tahu pipiku merona karnanya.
“Kau yakin?” tanyanya lagi.
“YAK! Aku bilang aku baik-baik
saja!” ucapku penuh penekanan. Kenapa aku malah membentak gadis itu? Kuyakin
sebentar lagi ia akan mengamuk karna aku membentaknya, sikap abadi yang tak
akan pernah hilang dar gadis itu. Lagi pula ini salahnya juga kenapa ia harus
terus bertanya? Itu membuatku semakin merasa canggung. Ayolah Kai tenangkan
dirimu. Kim Jongin kau harus
tenang!.
“Syukurlah jika kau baik-baik saja” ucap gadis itu lagi dan kembali
senyum manisnya mengembang, tangannya
mengusap-usap kepalaku yang tertutup oleh topi hitam yang sedari pagi kukenakan.
Apa benar gadis dihadapanku adalah Shin Miran? Ia terlihat berbeda... apa benar
ia terkena cidera otak? Kenapa aku tak
bisa berhenti berfikir negatif
seperti ini hanya karna melihatnya bersikap begitu lembut?.
“Rasanya sungguh tenang disini,
benarkan?” gadis muda itu meminta persetujuanku, saat ini wajahnya sudah mengadah
keatas menatap birunya langit dengan mata yang sedikit menyipit akibat silaunya
matahari.
Apa yang terjadi selama ia pergi? Mengapa
sikapnya jadi manis begini? Jika ini terus terjadi maka aku akan semakin
terperosok dalam pesonamu Miran, bahkan saat ini yang aku rasakan hanya degub
jantungku yang semakin kencang dan tak beraturan. Ohhh! Aku rasa pertahananku
mulai hancur. Apa yang harus aku lakukan?
“Eoh, sangat menyenangkan berada
di sini.. bersamamu” aku tersenyum menatapnya.
Apa yang baru saja aku ucapkan?
Apa aku mengakuinya? Apa saat ini
tubuhku sudah tak mau mengikuti perintah dari otakku sendiri? Dan lihatlah
ekspresi gadis itu sekarang, ia tengah tertawa ringan seolah menyukai apa yang
baru saja didengarnya.
Agh! Ini benar-benar memusingkan!
Sudahlah aku menyerah, aku kalah! Senyumannya, tatapannya, terlalu sulit
disembunyikan jika aku hanya berdua dengan Miran dan rasanya seolah tak ada
tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi atau sekedar menutupi perasaan ini,
toh aku tak mungkin terus bersembunyi selamanya, bukan?.
“Kau tahu betapa takutnya aku
saat kau tiba-tiba pergi?” aku menatap gadis yang terlihat bersinar diterpa
matahari itu berusaha mengungkapkan kegundahanku saat menyadari ia pergi. Shin Miran
beralih menatapku tapi gadis itu tetap diam seolah tak berniat mengatakan
apapun.
“Rasanya seperti menggila” ucapan
itu lolos begitu saja dari bibirku, dan untuk kali ini aku tak ingin menahannya
aku akan mengatakan bagaimana frustasinya aku saat ia tak ada.
“Menggila?” Tanya Miran dengan
tatapan bingung yang terpancar dari iris coklatnya.
“Yaaa.. terus befikir dimana kau
berada.. Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana jika kau pingsan di jalan atau..
bagaimana jika kau terluka? Pikiranku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan itu
dan berbagai prasangka. Aku sungguh takut jika hal buruk terjadi padamu”
jelasku dengan pandangan serius, aku tak pernah main-main akan hal seperti ini
aku tak pernah main-main dengan hatiku. Bisakah kau merasakannya, Miran?
“Mian..” hanya sebuah kata yang
bisa kudengar dari bibir tipisnya, gadis itu menundukan kepalanya sedih. Sungguh
bukan kata itu yang kuharapkan keluar darinya, apakah gadis ini pernah menyadari
hatiku sakit jika melihatnya begini.
Aku menatapnya sendu, entah
mengapa hari ini ia tak banyak bicara... aku seolah melihat Shin Miran dari
sudut yang berbeda, bahkan gaya berpakaiannyapun berbeda. Sejak kapan sorang Miran
menggunakan dress untuk datang ke kantor?
“Sudahlah, yang penting sekarang
kau sudah kembali” aku mengusak rambut coklatnya pelan, rasanya aku tak bisa
marah pada gadis cantik disebelahku ini walaupun ia sudah membuatku frustasi
setengah mati.
“Terima kasih Kai” lagi aku melihat senyumnya kembali mengembang. Apapun
sikap yang Miran tunjukan sekarang hanya satu hal yang membuatku yakin bahwa
gadis ini tetaplah Miran yaitu senyumannya. Senyum yang sudah menjadi favoritku
entah sejak kapan, dan mungkin saja semua tentangnya sudah masuk dalam daftar
hal-hal yang aku suka bahkan tanpa aku
mengetahuinya.
“Haaaaaahhh... Ini sungguh hari
yang indah!” ucapnya seraya mengenggangkan kedua tangannya untuk melemaskan
ototnya yang mungkin saja terasa kaku.
“Aku senang kau ada di sini Jongin”
gadis itu menatapku sebentar dan tanpa aku sadari senyumku mengembang untuknya.
“Apapun untukmu Miran” jawabku tulus
dan kembali menghadapkan wajahku kedepan untuk menikmati suasana taman yang
berada di ketinggian ini. Ada perasaan hangat yang terus menghinggapi hatiku
sejak aku melihat gadis ini, perasaan hangat yang begitu nyaman, namun saat ini
persaan hangat itu terus berkembang setelah aku berhenti mengingkari
kehadirannya.
‘Cup’
Tiba-tiba aku merasakan bibir
lembut Miran mendarat dipipi kananku. Aku membulatkan mataku tak percaya dan
segera menatap gadis itu dengan mataku yang sudah sebulat mata D.O. Aku meraba
pipi kananku dimana Miran sempat mendaratkan bibir pinknya itu tadi.
‘SHIN MIRAN MENCIUMKU?! DAEBAK! SHIN
MIRAN MENCIUMKU!’ jerit batinku girang bukan kepalang.
Kulihat gadis itu sangat
menikmati keterkejutanku, ia bahkan terlihat seolah tak melakukan apa-apa, tapi
aku! aku rasanya sudah seperti terbang menembus awan, mengambil bintang dan
memeluk bulan. Baiklah.. itu memang terdegar berlebihan. Tapi itulah yang aku
rasakan.
Perlahan gadis yang sudah
membuatku menjadi benar-benar gila itu meraih tangan kananku yang masih setia
menepel di pipi lalu merangkulnya dan menyandarkan kepalanya di pundaku, oh! Ia
sungguh membuatku kehilangan kemampuan membedakan khayalan dan kenyataan.
‘Apakah ini nyata? Apa benar
sekarang Shin Miran bersandar padaku? Astaga ini luar biasa!’ Hatiku terus
menerus menggumamkan hal itu, ini sungguh hal yang sulit dipercaya.
“Kau tahu, rasanya sangat nyaman
ketika aku bisa bersandar padamu Kai” kata-kata Miran membuyarkanku dari uforia
yang tengah aku rasakan.
“Ji-jinjja? Be-berarkah?”
tanyaku. Oh tidak! kenapa aku jadi gagap begini? Ini sungguh tidak keren!.
Wajahku! Ahhh pasti sudah sangat merah padam lagi sekarang.
“Hahaha” gadis itu tertawa karna
merasakan kegugupanku, dia benar-benar pandai memainkan perasaan seorang namja.
Dari mana ia balajar hal seperti ini huh?
“Apa aku pernah berbohong
padamu?” gadis itu mengangkat kepalanya, hal itu membuatku reflek menoleh
padanya dan yang aku temukan adalah Miran tengah menatapku seolah memintaku mencari
kebohongan didalam dirinya. OMMOO! Wajahnya hanya berjarak setengah jengkal
dari wajahku! Dan hal itu berhasil membuatku berhenti bernafas sejenak.
‘Astaga tenang Kai! Kau harus
tenang! Kau bisa menghadapi ini! Tenanglah’ aku berusaha menenangkan diriku
sendiri sebelum menberikan jawaban yang Miran minta.
“Tidak, kau tidak pernah
berbohong padaku” jawabku malu-malu, sungguh tidak keren sama sekali, aku
seperti kucing kecil yang luluh karna belaian Miran.
“Memang tidak pernah” ia tersenyum
dan kembali bersandar padaku. Ohh! Jika begini terus jantungku bisa meledak!
‘jangan terlalu lama, kita harus pergi setengah jam lagi’
“Astaga! Jam berapa sekarang?”
tiba-tiba saja perkata Xiumin Hyung terngiang di kepalaku, walau jujur saja
kata-katanya itu seolah merusak momen indah yang sedang terjadi padaku, sial!. Miran
melepaskan rangkulan tangannya dan menatapku bingung.
“Member lain pasti sudah
menungguku.. Tunggu! Mereka pasti akan sangat senang melihat mu!” aku menatap Miran
girang, namun gadis itu justru sebaliknya. Apa ia juga merasa jika momen
bahagianya rusak begitu saja sama sepertiku? Tapi Miran bukanlah gadis seperti
itu.
“Tapi aku masih ingin di sini
denganmu” Miran mempoutkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang ngambek.
Imut sekaliiiii!
‘Blushhh’ rona merah itu kembali
menghampiri pipiku ketika melihat gadis itu ber-aegyo, entah ia sadar atau
tidak tapi poutan bibirnya itu membuatku harus segera mengalihan pandanganku, aku
harus melakukannya untuk mengontrol diriku agar tak melakukan hal yang
macam-macam. Hemmm... Apakah aku boleh merasakan bibir itu sekali saja? Akan seperti
apa rasanya? Yaampun! Ini sungguh menggoda jiwaku!
‘Tenang Kai! Lakukan dengan
benar, gunakan akal sehatmu’ batinku walau kurasa kesehatan akalku sudah mulai
amat sangat memprihatinkan.
“Miran, kau bilang bahwa kita
harus bersikap professional bukan? Dan aku adalah namja yang profesiaonal” aku
mengatakan kalimat itu dengan pandangan lurus kedepan, berusaha untuk tidak
menatap bibir merah mudanya yang masih terpout itu.
“Huft! Baiklah.. tapi dengan satu
syarat!” gadis itu ngeacungkan jari telunjuknya di depan wajahnya.
“Baiklah, apa syaratnya?” tanyaku
yang sudah bisa kembali menatapnya, ohh! Sungguh hari ini Miran begitu manis
seperti anjing kecil. Ia bahkan lebih imut dari janggu, jangah atau monggu
sekalipun.
“Syaratnya adalah... Kai kau
harus bangun” ucapnya datar.
“Ha?” aku mengerutkan dahiku,
syarat macam apa itu? Apa maksudnya.
“Jongin-ah irrona!” Miran
mengguncang-guncangkan bahuku dengan kedua tangannya.
“Jongin-ah irrona!” ia
mengguncang-guncangkannya semakin keras, bahkan kini perlahan suaranyapun
berubah semakin berat.
“Miran-ah kau kenapa?” tanyaku
bingung dengan perubahan padanya.
“Miran-ah apa yang kau lakukan?”
aku menepis tangan itu dan membuka mataku.
“Miran? Apa suaraku terdengar
seperti suara perempuan?”
Ha? Tunggu... Siapa ini?Ini bukan
Miran! Aku mengerjapkan mataku bebrapa kali dan ahhh! ini suara Suho Hyung. Aku
menggangkat sedikit kepalaku untuk memastikan dengan siapa aku bicara, dan
benar saja aku menemukan Suho Hyung sedang duduk diujung ranjangku dengan kaus
biru tua kesukaannya.
"Kenapa kau disini Hyung?
dimana Miran?" tanyaku dengan suara serak khas bangun tidur, yang aku
yakin terdengar sangat jelek. Aku baru bangun tidur?
“Dimana Miran, Hyung?” Tanyaku
lagi dengan menolehkan kepala kekanan dan kekiri mencari sosok keberadaan gadis
itu.
“Haah! Sadarlah Kai” Hyung yang
juga merupakan leader EXO itu menghela nafasnya kesal dan menatapku dengan
tatapan putus asa.
“Waeyo?” sungguh aku tak mengerti
mengapa ia menatapku dengan tatapan seperti itu dan mengapa ia tak menjawab
pertanyaanku.
Ruangan ini terlihat seperti
kamarku dan saat ini aku bahkan sudah berada di tempat tidurku. Apa aku
benar-benar baru bangun tidur? jadi itu semua mimpi? Ohhh sungguh sangat
disayangkan! Jadi aku hanya bermimpi jika Miran menciumku? Pantas saja ia
terlihat begitu manis dan baik.. ternyata hanya mimpiku saja.
“Kau dan Sehun sama saja” ucapnya
kemudian.
“Ha?” aku mengerutkan keningku,
tak paham dengan ucapan Hyung yang lebih tua 3 tahun dariku ini.
Cakaman... Sehun dan aku sama? Hahaha,
tidak mungkin! Tentu saja berbeda, aku lebih tampan darinya walau mungkin
dengan kulit yang sedikit hitam ini, tapi aku bisa menjamin bahwa banyak yeoja
yang berfikir bahwa aku jauh lebih sexy. Jadi tidak mungkin sama! Kecuali akan
satu hal yaitu kami lahir di tahun yang sama, selain itu aku tak pernah
bersikap kekanakan seperti dia. Jadi kesimpulannya kami tidak sama!
“Saat aku membangunkannya ia juga
berkata ‘Miran-ah aku akan bangun sebentar lagi~’” Hyung bermarga Kim itu mulai
menirukan gaya bicara Sehun dengan sedikit nada mengejek.
“Apa kalian fikir suaraku
terdengar seperti suara Shin Miran?” namja itu menatapku dengan tanda tanya
besar di wajahnya.
“Aniyo, suara Miran terdengar
sangat enak ditelinga” jawabku yang tengah sibuk membersihkan mataku dari
kotoran yang menumpuk.
“Aish! Anak ini sama sekali tidak
menganggapku!” keluhnya lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
“Hyung, Miran ada dimana? Kenapa
kau yang membangunkanku?” tanyaku lagi, aku bangkit dan duduk menghadap namja
yang bermarga sama denganku itu.
“Jongin-ah, apakah kau mencuci
otakmu saat kau tidur atau kau terkena penyakit hilang ingatan setelah bangun?”
tanyanya dengan wajah serius seraya memutar-mutarkan jari terunjuk kanannya di
dekat pelipis seolah mengisyaratkan ada yang salah dengan otakku.
Ha? Cuci otak? Apa maksudnya? Aku
baru bangun tidur bukan baru mencuci, aku menatap namja di hadapanku dengan
tatapan bingung, Hyung ini sungguh aneh.
“Haaahhh!” namja berkulit putih
itu kembali terlihat frustasi dan putus asa sekali lagi.
“Semalam kau mimpi apa?” tanyanya
lagi.
‘Mimpi... emmm harus kah aku
menceritakannya? Emmm mungkin sedikit saja tidak apa-apa’ batinku
menimban-nimbang.
“Hyung, kau tau semalam aku
bermimpi Miran pergi dari dorm dan..”
“Dan itu adalah kenyataannya Kai.
Itu bukan mimpi!” potong Suho Hyung cepat, padahal aku masih ingin melanjutkan
cerita dari mimpi itu.
“Kenyataan?” aku mengerutkan
alisku.
“Iya, itu kenyataan. Miran pergi
dan belum kembali hingga saat ini” jelas Suho Hyung dengan malas.
Ahh tidak mungkin! Itu sangat buruk! aku pasti
masih bermimpi! Ini pasti mimpi dalam mimpi! Miran tidak mungkin meninggalkan EXO,
ia tidak mungkin meninggalkanku! Ayo bangun Kai! Kim Jongin bangunlah! Kau
harus sadar!
"Kau sedang apa?" Tanya
Suho Hyung heran melihatku menggeleng-gelengkan kepala berulang kali.
"Aku sedang berusaha bangun
dari mimpiku Hyung, aku yakin ini hanya mimpi dalam tidurku" jelasku penuh
keyakinan dengan menatap lekat kedua iris coklatnya.
"Mau aku bantu?" Tanya Hyungku
itu menawarkan diri.
"Ne!" Angguku penuh
keluguan.
'TAAKK!!'
Dengan keras orang yang aku
yakini adalah bagian dari mimpiku itu menyentil dahiku tanpa ampun yang
membuatku meringis kesakitan. Aku yakin jika ini bukan mimpi pasti dahiku sudah
merah semerah tomat sekarang.
"Sadarlah Kai, kau sudah
bangun dari tadi!" Suho Hyung menjetikkan jarinya tepat di wajahku
berulang-ulang.
‘Tik!Tik!Tik!’
"Jadi... Aku tidak bermimpi?
Jadi Miran memang pergi?" Tanyaku seperti anak kecil yang tak percaya
bahwa burung pinguin tak akan bisa terbang.
“Iya, Miran pergi dan belum
kembali! Hah! Bocah ini jinjja! Apa kau tak bisa membedakan mana mimpi dan
kenyataan?” Suho Hyung menatapku dengan alis tertaut, sedang aku hanya bisa
menghela nafas menghadapi kenyataan yang lebih baik tak usah terjadi.
"Mungkin" jawabku pendek
dengan mengangkat bahuku dan lebih memilih untuk beranjak dari tempat tidur
dibandingkan harus mendengarkan keluhan yang mungkin saja akan membuat moodku
menjadi lebin buruk sepanjang hari ini.
“Hey kau mau kemana?” Tanya Suho Hyung
tak terima aku meninggalkannya begitu saja.
“Memberi makan ayam-ayamku!”
jawabku tanpa menoleh sedikitpun dan berjalan menuju kamar mandi untuk
membersihkan diri.
**
Aku menatap pantulanku dicermin
besar, wajah kusut khas bangun tidur.
“Jelek sekali” gumamku tak
bersemangat.
“Pagi yang buruk” lanjutku ketika
mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
“Lebih baik mimpiku saja yang
menjadi nyata, dan kenyataan yang menjadi mimpi” ucapku lemah. Padahal mimpi
tadi terasa sangat indah, Miran kembali dan hanya ada kami berdua.. ia
bersamaku.. bersandar padaku...mencium pipiku...
Tapi itu hanya mimpi. Nyatanya Miran
pergi dan belum kembali.
“Agh! Seharunya aku tahu dan
menahannya ketika ia pergi” aku mengacak acak rambutku yang sudah berantakan
karna kesal. Tapi mana mungkin aku mengetahuinya, mendengar suara ia keluar
dari apartemen pun tidak. Kebiasaan buruk! Kenapa aku harus tidur seperti orang
pingsan? Kim Jongin pabo! Hah! Menyalahkan dirimu pun tak akan mengubah keadaan
Kai.
Hah! Kenapa aku merasa sangat
khawatir pada gadis itu? Ia bahkan lebih tua dariku ia pasti bisa menjaga
diri... Tapi bahkan di mimpiku pun ia terlihat lebih rapuh... bagaimana mungkin
aku tak khawatir padanya?
‘tok-tok-tok’
“Jongin-ah palli!” suara Chanyeol
Hyung terdengar dari balik pintu kamar mandi yang seketika membuyarkan
lamunanku.
“Ne! Tunggu sebentar Hyung”
jawabku sekenanya dan mulai bergegas mandi karna kuyakin ia akan mengamuk jika
aku terlalu lama menghabiskan waktu dikamar mandi selagi ia menunggu,
seharusnya Yeol Hyung lebih cepat bagun jika terburu-buru ingin menggunakan
kamar mandi, kuyakin Suho Hyung baru saja membangunkannya.
Beberapa menit kemudian aku
keluar dari kamar mandi dan menemukan seorang namja dengan tinggi menjulang
yang tengah bersandar di sebelah pintu dengan handuk menggantung dilehernya dan
tentu wajah kusutnya yang tampak begitu jelas.
“Kenapa lama sekali?” Tanya namja
yang lebih tinggi beberapa senti dariku itu dengan sedikit mempoutkan bibirnya.
Ohh pasti yeoja-yeoja penggemarnya sudah berteriak histeris dengan wajah imut
yang ditunjukannya itu.
“Aku membangun hotel 700 lantai
di dalam agar kau merasa nyaman” jawabku sekenanya lalu berjalan keluar dari
kamar.
“Hahaha” aku mendengar Chanyeol Hyung
tertawa dari balik punggungku dan aku yakin ia pasti belum sepenuhnya sadar
dengan apa yang aku katakan hingga aku hanya bisa tersenyum dengan kelakuannya
itu.
“Jongin-ah kau sudah bangun
rupanya” sambut Kyungsoo Hyung begitu melihatku keluar dari balik pintu kamar
yang tak tertutup, benar-benar tidak ada privasi disini.
“Sudah mandi tepatnya” jawabku
bangga karna sudah terlihat segar sementara yang lain masih sibuk mengucek mata
mereka. Aku melihat sekelilingku, tak adalagi wajah khawatir seperti kemarin
suasana sudah jauh lebih tenang, atau mereka hanya berpura-pura tidak
menunjukanya seperti yang aku lakukan?
“Kau? Sudah mandi sepagi ini?”
Tanya Baekhyun Hyung tak percaya, dari yang aku lihat namja itu tengah
menikmati susu stroberi sebagai sarapannya.
“Memang mau kemana?” Tanya Jongdae
Hyung yang tengah sibuk dengan selai dan rotinya itu.
“Aku akan ke cafe kakakku dan
pergi mengunjungi orang tuaku” jawabku lalu bergabung dengan Kyungsoo di dapur.
“Apa menu sarapan kita?” Tanya Kris
Hyung yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Kau mau apa? Ada cereal dan
roti” Tanya Hyung bermata bulat itu dengan seopotong roti di tangannya.
“Hemm, aku akan buat cereal saja
nanti” Namja dengan nama lain Kevin Wu
itu berjalan menghampiri Suho Hyung dan Tao yang sedang menonton berita pagi.
“Apa yang akan kalian lakukan
hari ini?” tanyaku pada member lain mengingat kami mendapatkan waktu libur
sehari.
“Entahlah.. mungkin pergi
menonton atau berbelanja” jawab Baekhyun Hyung dengan santai.
“Aku akan pergi ke tempat
pelatihan untuk mengerjakan proyek baru” ucap Lay Hyung dengan wajah antusias.
“Tempat latihan trainee?” Umin Hyung
yang tengan bersantai di sofa mengalihkan pandangannya pada pria bermarga Zhang
itu.
“Nde, aku diminta untuk bertemu
dengan beberapa trainee dari China” Lay Hyung tersenyum lebar dengan proyek
barunya.
“Lalu apa proyek barunya?” Tanya
Umin Hyung yang terlihat masih berlum puas dengan jawaban dongsaengnya itu.
“Mengajarkan mereka cara untuk
membuat lagu dan... ah! Aku belum menyiapkan bahan untuk itu!” namja itu
bangkit dan segera berlari kekamarnya entah untuk apa, yang jelas ia pasti akan
sangat sibuk hari ini.
“Dasar pelupa” Luhan Hyung yang
tengah mengeringkan rambutnya hanya bisa menggelengkan kepala.
“Apa tidak ada yang mau ikut aku
ke cafe?” tanyaku menawarkan kesempatan pada member lain.
“Emm.. Kau saja yang pergi” jawab
Suho Hyung tanpa mengalihkan padangannya dari layar tv yang tengah memberitakan
kasus kekerasan dihadapannya.
“Aku titip salam saja untuk kakak
dan orang tuamu” sahut Kris Hyung dengan senyumnya dan sebelah alis terangkat,
Wow kuakui ia memang tampan dari sudut manapun.
“Dan tak lupa untuk ketiga
anjingmu” sahut Tao kemudian.
“Ahh kalian tidak asik” gerutuku
sebal dengan respon mereka atas tawaranku.
"Apa Manager Gil tak
mendapat kabar apapun lagi?" Tanya Tao mengganti topik pembicaraan dengan
topik lain, yaitu keberadaan Miran dan sekitika mimpiku semalam kembali
terbayang.
"Eoh, apa tak ada kabar
lain?" Kyungsoo hyung ikut bertanya pada yang lain, diam-diam aku
memperlebar pendengaranku untuk mendengarkan dengan seksama takut jika ada
informasi yang terlewatkan.
Aku meperthatikan setiap ekspresi
yang tergambar di wajah masing masing member EXO. Hah benar dugaanku mereka
hanya berusaha menutupi kekhawatiran mereka, siapa juga yang tak khawatir jika
yang pergi begitu saja adalah bagian yang penting dari hari-harimu? Kami hanya
berusaha menutupinya, berusaha untuk mengikuti saran dari Manager Gil untuk
meyakini bahwa Miran baik-baik saja dan tengah disibukan dengan urusan mendadak
yang tak bisa ditinggal.
"Tidak ada" jawab Suho Hyung
datar. Ohh penonton kecewa, itu sungguh jawaban yang mengecewakan.
"Benar tidak ada?"
Tanya Sehun yang keluar dari kamarnya masih dengan mata yang bengkak. Anak itu
cepat sekali merespon, aku yakin ia sudah mendengar pembicaraan kami sejak tadi
tapi masih enggan beranjak dari tempat tidurnya.
"Tidak ada" jawab
leader EXO itu sekali lagi.
Hah! Apa sulitnya sih memberi
kabar? Ada apa dengan gadis itu sebenarnya? Urusan apa yang ia kerjakan?!
Sungguh menyebalkan!
"Urusan apa yang sebenarnya
dilakukan Miran?" Luhan menyuarakan isi pikiranku, mungkin hampir semua
orang disini memikirkan hal yang sama.
"Entahlah, Manager Gil tak
mengatakan apapun tentang itu" Kris Hyung mengangkat kedua bahunya dengan
wajah sebal.
"Hah, dasar gadis
menyebalkan" umpat Sehun.
Oke baiklah aku rasa tak ada
informasi yang bisa di dapatkan disini, akan lebih baik jika aku bergegas bila
tak ingin memicu keramainan di cafe, datang di pagi hari selagi cafe masih
sepi.
"Baiklah aku rasa aku akan
pergi duluan” aku berjalan menjauhi kerumunan berjalan menuju kamarku.
“Yakin tak ada yang ingin ikut
denganku?" Tanyaku kembali menawarkan kesempatan, tak ingin berlarut-larut
memikirkan Miran. Yah.. Walaupun tak bisa dipungkiri selalu ada tempat
tersendiri dalam otak dan hatiku untuk gadis itu.
"Pergilah Kai, kau masih
ingat jalan menuju cafe mu bukan?" Tanya Baekhyun Hyung dengan wajah
mengejek.
"Ha?? Eottoke? Aku lupa
jalannya! Aku bahkan lupa siapa aku ini!" Aku memegang kepalaku berlagak
seolah hilang ingatan.
"Hahaha tidak lucu" ucap
Baekhyun Hyung sekilas dan kembali sibuk dengan dirinya sendiri.
Aku mengangkat bahuku acuh sambil
menatap bebrapa member yang tersenyum dengan kelakuan Hyung penyuka eyeliner
itu, lalu tanpa pikir panjang aku masuk kekamarku dan bergegas menutup pintunya.
“Baiklah apa saja yang perlu
dibawa?” gumamku menatap sekeliling dan mulai bersiap.
**
“Kau sudah mau pergi?” Tanya Umin
Hyung ketika melihatku yang sudah rapi keluar dari kamar dengan membawa
beberapa paper bag.
“Iya, aku tak ingin menimbulkan
keributan dicafe” ucapku seraya menyeret kakiku untuk melewati grombolan namja
yang masih malas bergerak di ruang tengah.
"Kumohon jangan rindukan
aku" ucapku saat membuka pintu apartemen, dan memasang wajah bak peri baik
hati pada segrombolan pemuda itu.
"Tidak akan" sahut
beberapa orang serempak.
"Omo.. Kenapa Hyung-Hyungku
sangat kejam" aku melepar wajah kecewa pada mereka.
"Pergilah" usir Yeol Hyung
yang sudah duduk di sebelah Luhan Hyung.
"Ne, aku pergi dulu"
ucapku sebelum benar-benar menutup pintu.
***
Taksi yang aku tumpangi berhenti
tepat di sebuah gedung dengan nuasa merah bata, Aku segera turun dan berjalan
memasuki cafe milik kakakku itu. Dari ambang pintu terlihat di sana Jungah
noona tengah sibuk membersihkan cafe yang bertuliskan buka.
Ya memang cafe ini buka cukup
pagi tapi masih sepi seperti tak berpenghuni, hanya ada kakakku dan dua
karyawan yang bersih-bersih di area belakang cafe. Aku yakin orang-orang masih
enggan untuk datang karna terlalu sibuk mempersiapkan diri untuk memulai hari,
seperti halnya cafe ini.
"Noonnaa!" Panggilku
pada wanita yang sedang membersihkan salah satu meja di tengah ruangan.
"Jongin-ah, kau
datang?!" Sambutnya dengan senyum merekah, aku yakin ia tak menyangka aku
datang sepagi ini dan aku sengaja tak mengabarinya terlebih dahulu.
"Ne, aku dapat libur hari
ini jadi aku putuskan untuk berkunjung" jelasku sambil meberikan salah
satu paper bag yang kubawa padanya.
"Ige moya? Apa
isinya?"Tanyanya antusias.
"Lihat saja" jawabku
sambil mengambil duduk di kursi yang mejanya sedang ia bersihkan.
"Wah, perfume!" Soraknya,
sudah kuduga ia akan menyukainya menggingat kakakku yang satu ini memang
mengoleksi parfum. Aku memang adik yang baik, bukan?
"Kau suka?" Tanyaku
memastikan bahwa gadis berambut panjang dihadapanku itu tak sedang berakting
bahagia.
"Tentu saja, aku belum memiliki
series Coral yang satu ini. Jongin-ah kau memang yang terbaik!" Pujinya
dan segera menyemprotkannya sedikit isi botol bernuasa biru laut itu di
pergelangan tangan, dan seketika aroma harum khas dari parfum itu meyerbak
mengelitik indra penciuman siapa saja yang berada di dekat kami.
"Anyeonghaseo!" Ucap
seseorang saat memasuki cafe kami. Seorang gadis dengan seragam sekolahnya
terlihat terkejut begitu memasuki cafe. Kutebak ia pasti terkejut melihatku ada
di sini, terduduk dengan kepala yang disangga oleh tangan kiriku. Aku yakin di
matanya aku pasti terlihat seolah sedang melakukan pemotretan dengan pose
sempurna.
“Ne, selamat datang di kamong
cafe” jawab noonaku dengan sediki membungkukan badan.
"Oh, kau datang?" Sapa
Jungah Noona yang terlihat tak asing dengan sosok yang baru saja memasuki
ruangan. Siapa dia?
"Kau sendiri? Bocah pengerutu
itu tak ikut?" Tanya noona yang terus bicara sambil berjalan mendekati
meja kasir sekaligus tempat untuk memesan.
"Ne, aku sendirian"
jawab gadis itu terlihat sedikit mencuri pandang padaku.
"Wajahnya tak asing" gumamku
terus mengamati setiap gerak-geriknya.
"Kau mau pesan apa? Seperti
biasa?" Tanya Jungah noona dengan ramah. Yap! salah satu cara
mempertahankan pelangganmu adalah dengan pelayanan terbaik dan kujamin kau akan
mendapatkannya di cafe kami.
"Ne" jawab gadis itu
singkat dengan pandangan yang lagi-lagi terarah padaku, lalu beralih kedompet
yang ada di tangannya untuk membayar apa yang ia pesan.
"Cakaman.." Aku ingat
siapa dia!
"Kau! anak SMA!"
Panggilku ketika memori lamaku kembali.
"Ne?" Gadis kecil itu
menatapku takut seolah aku adalah guru killer yang akan menyetrapnya di ujung
lorong, hemm rasanya aku tak terlihat sepertii itu, lagi pula apa yang perlu di
takutkan dari pria tampan sepertiku?
"Kau, sasaeng yang ada di
bandara itu kan?" Tanyaku dengan mata menyipit, aku yakin ingatanku tak
salah, seragam dan wajah itu! Ya! Benar dia orangnya!
"Oppa masih
mengingatku?" Tanyanya dengan wajah yang berubah antusias. Hey! kemana perginya
semua rasa takutnya tadi? Kenapa ia malah senang saat aku mengatakan jika ia
adalah sasaeng?
"Yak! Kau fikir aku ini
sudah sangat tua hingga mudah lupa?" Tanyaku tak terima pada pertanyaannya
itu.
"Kalian sudah saling
mengenal?" Noonaku yang sedari tadi menatap kami akhirnya buka suara.
"Ne, dia gadis kecil yang
sedikit menyusahkan" terangku singkat karna malas menjelaskan.
"Hahhh, benar kata eonni.. Kai
oppa tak kan mudah memaafkanku" gumam gadis muda itu putus asa namun masih
terdengar jelas oleh ku.
"Eonni? Apa kau mengatakan
sesuatu tentangku, noona?" Tanyaku Pada kakakku yang sedang menyiapkan
manggo smoothies pesanan gadis SMA itu.
"Ani, aku bahkan tak tahu
kau kenal dengan Choi Hyeri" jelasnya.
Ahh! aku ingat nama gadis itu
sekarang. Ya Choi Hyeri! Nona Choi.
"Bukan Jungah eonni, tapi Miran
eonni" jelasnya.
Miran? Seketika otak dan indraku
menjadi lebih tajam saat mendengar nama itu.
"Kemarin aku bertemu
dengannya dan..."
"Kau bertemu Miran? Dimana? Miran
dimana? Dimana gadis itu?" pertanyaan bertubi-tubi dengan init yang sama
aku tujukan pada gadis yang saat ini tengah berada tepat di hadapanku, tanpa
sadar aku berjalan untuk mendekat padanya sedang ia sedikit memundurkan tubuhnya, mungkin kaget
dengan responku.
"Aku bertemu eonni di...saat
itu.. Aku...” ucapan gadis itu semakin pelan dan tak terdengar.
"Cepat katakan,tak usah
berbelit-belit!" Tekanku mengintimidasi, Ahh anak ini benar-benar! tak bisakah
ia sedikit berkerja sama!.
"Jongin! Kau membuatnya
takut!" Bentak kakakku ketika melihatku yang sudah terlalu
mengintiminadasi Choi Hyeri.
"Noona.. Apa noona tahu
bahwa Miran....”
"Choi Hyeri!"Panggil
seseorang yang berhasil memotong kalimatku membuat kami bertiga segera
menatapnya.
"Hanbin?" Ucap bibir
mungil gadis di hadapanku.
"Yak! Aku sudah bilang
jangan membuatku khawatir! Kau tahu berapa kali aku menelponmu?" Bocah
laki-laki yang menggunakan seragam senada dengan Nona Choi itu mendekat
menghampiri kami.
"Apa yang kau lakukan disini,
huh?" Tanyanya lagi, ketika sudah ada di samping Hyeri.
"Membeli smoothies?"
Jawab Hyeri yang lebih terdengar seperti nada tanya diakhir kalimatnya,
wajahnya berubah datar.
Ohh ayolah aku belum mendapatkan
jawaban atas pertanyaanku, dan kenapa tiba-tiba muncul bocah tak tahu
sopan-santun ini? Ia beteriak seolah cafeku
adalah lapangan bola.
"Kenapa kau suka sekali
kemari? Kau juga tak akan bertemu Kai-Kaimu itu walau kau meminum smoothiesnya
setiap hari" ucap bocah laki-laki itu penuh penekanan, kuyakin ia tak
pernah tahu orang yang ia bicarakan sedang berdiri di sampingnya dan dapat
mendengar perkataannya dengan jelas.
"Hanbin-ah, jangan berkata
begitu" ucap Hyeri dengan menjukan perasaan tak enak padaku dan kakakku
yang tengah menyaksikan apa yang dilakukan dua remaja ini.
"Memang benar bukan? Apakah
dengan membeli minuman di cafenya maka pemiliknya akan jatuh cinta padamu? Itu
hanya tekhnik marketing saja" ucap bocah itu seolah mengerti apa itu
pemasaran. Dasar bocah!
"Kukatakan sekali lagi anak
muda, aku tak menjual mimpi dan harapan di sini!" Noona menyerahkan
pesanan Hyeri, namun sama sekali tak menatap si empunya, dan malah menatap
bocah laki-laki sok tahu itu dengan pandangan datar, dari perkataan Noona
menggambarkan bukan sekali ia mengatakan hal itu.
"Dan aku sudah mengatakan
padanya untuk berhenti mengikutiku" jelasku, enak saja bocah ini menuduhku
yang bukan-bukan! Benar-benar perusak mood yang baik.
"Kau siapa?" Tanyanya
santai menunjuku seolah kami seumuran. Dimana sopan santun anak ini, huh?
"Dia Kai oppa! Hanbin
pabo!" akhirnya ada yang dengan sukarela menjelaskan dengan siapa bocah
laki-laki ini berhadapan.
"Aku orang yang kau sebut 'Kai-Kaimu
itu'" aku mengulangi cara bicaranya tadi.
“Kai? EXO?” Tanya bocah tengil
ini pada gadis di sebelahnya.
“Eoh! Lain kali gunakan otak
jeniusmu itu sebelum kau bicara!” hujat Hyeri tajam.
"Ahh, Hyung bagaimana
kabarmu?" Bocah itu melepaskan topinya dan membungkuk menunjukan sikap
berbeda dengan menit sebelumnya.
"Hyung? Sejak kapan kita
seakrab itu?" Tanyaku dengan tangan terlipat di dada, cih! Bocah ini
bisa-bisanya bersikap seperti itu setelah tau dengan siapa ia bicara.
"Umm teman Hyeri adalah
temanku juga.. Hyeri-ah mana sopan santunmu? Cepat minta maaf pada mereka"
namja berseragam itu mendorong kepala Hyeri dan memaksa gadis itu membungkuk.
‘Teman Hyeri? Sejak kapan kami
berteman?’
"Yak, kau yang salah
kenapa.." Pekik gadis itu tak terima.
"Sudah diam saja dan minta
maaf" bisiknya lalu melempar senyum pada aku dan noonaku.
"Hey! Hyeri tak salah
apa-apa kau saja yang minta maaf" noonaku segera mengeluarkan perintahnya,
menunjukan jika dalam ruangan ini dialah penguasannya.
"Nde! Aku minta maaf karna
berkata yang tidak-tidak!" Namja muda itu sekali lagi membungkuk.
"Tapi Hyung, aku mohon
jangan adukan pada noona ya, ia bisa menghabisiku jika tau apa yang
terjadi" namja bernama Kim Hanbin itu memamerkan senyumanya seraya
memohon.
"Ha? Noonamu? Untuk apa aku
melaporkanmu padanya" ucapku bingung dengan permintaan Kim Hanbin itu.
"Hahhh.. Sudah kuduga Hyung
adalah namja yang baik" bocah laki-laki itu menghembuskan nafas lega.
Bocah aneh, bertemu dengannya saja belum pernah jadi mana mungkin aku mengenal
keluargannya.
"Lagi pula aku tak
mengenalmu, apalagi noonamu" aku mengeluarkan isi pikiranku.
"Hyung, kau jahat
sekali!" Ucapnya tanpa basa-basi.
Yak! Apa-apaan ini?! ia baru saja
mengatakan bahwa aku orang yang baik dan beberapa detik kemudian dia mengatakan
bahwa aku orang jahat, ada yang salah dengan otak bocah ini!.
"Bangaimana mungkin Hyung
bilang tidak mengenal Miran noona! Ckck sungguh kasihan noonaku harus bekerja
dengan orang seperti ini" siswa itu menatapku dari ujung rambut hingga
kaki dengan pandangan tak percaya.
"Miran? Kau adik Shin Miran?"
Aku membelalakan mataku tak percaya, aku yakin sekarang mataku sudah selebar
Kyungsoo hyung lagi, persis seperti dalam mimpi.
"Iya, aku adiknya"
bocah bernama Hanbin itu membenarkan perkataanku.
"Kim Hanbin? Shin Miran?
Marga kalian saja sudah beda, mana mungkin kau adik Shin Miran?" Tanyaku
dengan alis berkerut, setahuku Shin Miran tak seterkenal itu hingga bisa
membuat orang-orang mengaku keluarganya.
"Ia sepupu Shin Miran eonni,
aku juga baru mengetahuinya kemarin oppa" jelas Hyeri dengan suara pelan.
Sepupu? Rasanya memang aku pernah
mendengar Hanbin sebelumnya, tapi dimana ya?
“Aku harus pergi menemui seseorang, seseorang itu adalah adik
sepupuku yang berumur 17 tahun, dia seorang laki-laki yang sangat tampan
bernama Kim Hanbin dan aku akan menyusul kalian ke stasiun tv nanti jadi kalian tak perlu
menungguku. Ada pertanyaan lain?” perkataan Miran terngiang dalam
ingatanku.
"Oh, aku
mengerti sekarang! Kau B.I?" Tanyaku memastikan.
"Ne, noona selalu
memanggilku begitu. Kau ingat sekarang Hyung? Noonaku adalah managermu" bocah
itu berusaha menjelaskan hal yang sudah jelas sekarang dan perlu digaris bawahi
dengan tinta tebal yaitu mana mungkin aku tak mengetahui siapa itu Shin Miran.
"Dimana noonamu sekarang?"
Tanyaku tanpa basa-basi, mengulang pertanyaan yang kuberikan pada Hyeri tadi.
"Dirumahnya"jawab Hanbin
singkat.
Ohh, syukurlah ia berada di
tempat yang aman,dirumahnya. Tapi bukankah ia sedang melakuan urusan penting?
Jadi itu bukan urusan tentang pekerjaan?
"Dimana rumahnya?"
Tanyaku cepat.
"Kenapa aku harus memberi
tahumu?" Tanyanya dengan nada menimbang-nimbang.
Ya ampun anak ini sungguh
menyebalkan!
"Ada sesuatu yang harus aku
sampaikan, terlebih lagi ia tak menganggkat telpon dariku" jelasku mulai
kehabisan kesabaran, kelakuannya tak jauh beda dari kakaknya hanya saja ini
lebih menyebalkan!
"Kalian bertengkar?"
Tanya Hyeri menimpali sambil menyeruput smooties miliknya.
"Tidak" jawabku
berusaha menekan emosi dengan kelakuan anak remaja ini!
"Lalu mengapa ia tak
mengangkat panggilamu?" Tanya Hanbin bergantian dengan penuh selidik.
"Mana aku tahu" jawabku
seraya menarik nafas panjang.
"Harusnya kau mengirim pesan
untuk menelpon balik jika itu memang penting" Hyeri memberi usul yang sama
sekali tak berguna menurutku.
"Iya Hyung harusnya..."
"Kau mau memberi alamatnya
atau tidak?" ucapku tajam tak mampu lagi menahan kesabaran dengan tingkah
anak-anak ini.
"Ia di Beijing Hyung"
jawab B.I cepat ketika melihat raut wajahku yang berubah menyeramkan.
"Kenapa kau tak bilang dari
tadi!" Aku menatap Hanbin gemas bercampur kesal.
"Akukan sudah bilang ia ada
dirumahnya, kau seharusnya tahu rumahnya ada di Beijing" Hanbin meberikan
senyumnya yang terasa sangat menyebalkan di mataku, ohh sungguh demi apapun
yang ada di dunia ini! bagaimana mungkin anak ini akan menjadi saudara iparku?
Bisa botak kepalaku!
Aku mengalihkan pandanganku dan
menatap Jungah noona, kakakku itu tengah menatapku dengan wajah prihatin karna
adiknya sudah berhasil dipermainkan oleh bocah-bocah SMA dengan mudahnya.
"Noona, tolong berikan aku
segelas air.. Cuaca terlalu panas di sini" aku menatap noonaku putus asa
sedang dia hanya membalas dengan anggukan dengan sedikt rasa geli karna
kalimatku itu.
"Kita harus pergi
sekarang" Hanbin berbisik pada gadis di sampingnya, sementara aku menegak
air putih yang diberikan noonaku yang terasa sangat menyegarkan.
"Ya pergilah!" usirku
tak mampu lagi menahan emosi.
"Tapi aku masih ingin di sini.."
Hyeri memohon pada Hanbin. Ohhh ayolah! Apalagi yang ingin kau lakukan disini!
Pergilah sekolah!
"Aku mentormu dan aku bilang
kita harus pergi!" ucap Hanbin penuh penekanan.
"Mentor?" aku
mengerutkan alis melihat drama yang mereka mainkan.
"Iyap, Hyeri bilang ia ingin
fokus belajar, entah kenapa tiba-tiba ia datang padaku dan memintaku untuk
mengajarinya" Hanbin menunjukan wajah bangga, aku yakin ia tak tahu bahwa
aku yang meminta gadis itu untuk belajar, bagaimana jika aku memberi tahunya?
Wah pasti sangat menyenangkan melihat rasa bangganya itu hancur! Huahahahaha.
“Ohh anak yang rajin” pujiku
setengah hati, dan tak jadi melanjutkan niat jahatku karna mungkin saja ia akan
benar-benar menjadi adik iparku dimasa depan nanti. Di sisi lain dapat kulihat
dari sudut mataku Hyeri tengah tersenyum seolah bangga bahwa ia bisa menepati
janjinya untuk belajar padaku.
“Berhenti tersenyum seperti itu.
Kau bisa saja membuat Kai Hyung jatuh hati padamu” perintah Hanbin pada Hyeri
ketika mengetahui apa yang gadis itu lakukan.
Hahahahaha, rasanya aku sungguh
ingin mengabadikan situasi ini dalam sebuah drama percintaan anak remaja. Apa
Hanbin tengah cemburu? Yaampun aku bahkan tak bernah berfikir untuk jatuh cinta
pada gadis SMA ini.
"Kau suka pada nona Choi?"
tanyaku walau sebenarnya tak begitu tertarik tapi penasaran melihat sikap Hanbin
yang sangat protektif.
"Siapa? Aku?" Hanbin menunjuk
dirinya sendiri.
"Tentu saja, aku bahkan
sudah meminta keluargaku agar bisa dijodohkan dengannya" Hanbin menyunjuk Hyeri
dengan jempolnya.
"Yak kau gila, huh?" Hyeri
memberikan tatapan tajamnya pada Hanbin, sementara aku dan kakakku masih setia
menonton.
"Hey, aku sudah
memikirkannya jika kita menikah maka perusahaanku dan perusahaanmu akan semakin
besar" jelas Hanbin.
He? Bocah ini sadar atau tidak
sih dengan ocehannya? Aku semakin tak mengerti bagaimana cara sel-sel otaknya
bekerja.
"Itu peruntungan baik jika
Scorp dan perusahaanmu bergabung"
"Scorp?" Kakaku
mengulaginya.
Scorp? Rasanya tidak asing.
"Perusahaan electronic yang
terkenal itu?" tanyaku tak percaya. Apa sekarang sedang tren di kalangan
anak SMA untuk berhayal menjadi chaebol?
"Iya, semua itu adalah hasil
kerja karyawan kami, 'selalu bersamamu'" bocah laki-laki itu membuatku
kembali mengerutkan alis. Ia meletakan tangan kanannya di dada kirinya meniru
slogan dari perusahaan terkenal itu.
"Kau pemilik perusahan Scorp?"
Aku mengeluarkan pertanyaan dalam benaku masih tak percaya dengan ucapan bocah
tengil ini.
"Ya Shin Corporation, aku
sedang di siapkan untuk menjadi penerusnya.. Setidaknya aku..."
"Shin Corporation? Shin Miran?
Jangan bilang bahwa..." aku memotong ucapan Hanbin namun tak mampu
melanjutkan kalimatku.
"Noona tak ingin mengurus
perusahaan, jadi aku yang akan mengurusnya" ucap Hanbin dengan menunjukan
wajah sok berwibawa.
"Jongin ah.. Jadi managermu
adalah chaebol? Pewaris perusahaan?" Noona mengeluarkan kata-kata yang
bahkan tak berani aku pikirkan.
"Dan kau tak
mengetahuinya?" Noona melihat wajah terkejutku yang tak bisa ku
sembunyikan.
"Aku bahkan tak tahu
jika..."
"Kau tak tahu? Apa memang
ini harus dirahasiakan?” Hanbin menatap Hyeri mencari jawaban atas pertanyaannya.
“Ahhh bodonya aku!" Hanbin
merutuki dirinya sendiri. Sementara aku masih tak percaya jika Miran yang
selama ini aku kenal ada seorang penerus perusahaan besar di Korea.
"Choi Hyeri.. Kau juga
chaebol?" tanya noona pada gadis lain diruangan ini.
"Eumm itu..." Hyeri
merasa tak enak dan bingung harus menjelaskan dari mana.
"Perusahaan apa?" Tanya
kakakku tanpa basa-basi. Aku hanya menatap gadis itu, dari penampilan
bocah-bocah ini memang dapat kulihat beberapa merk terkenal yang melekat pada
tubuh mereka seperti sepatu, topi, tas yang tak semua orang bisa
menggunakannya.
"Perusahaan biasa.. Hanya
perusahaan kecil" ucap Hyeri kikuk.
"Yak! jika kau bilang Coral
adalah perusahaan kecil lalu perusahaan lain kau anggap apa?" Hanbin
menatap Hyeri tak percaya.
Coral? Parfum yang baru saja aku berikan pada
noonaku beberapa saat yang lalu? Merk yang menjadi incaran para wanita Korea
setiap kali mereka meluncurkan produk baru. Aku bahkan sengaja menyisihkan
gajiku untuk membelikan noonaku parfum itu.
"Co..coral? Coral adalah
perusahaan milikmu? Ohh bodonya aku.. Harusnya aku sadar status kalian dari
seragam yang kalian kenakan, kalian dari SMA Royal bukan?" Tanya Jungah
noona dengan wajah masih terkesima pada pelanggannya itu.
“Ne” jawab Hanbin dan Hyeri
bersamaan. Ohh mereka memang benar-benar kompak.
“Royal High School benar-benar
hebat!” puji noonaku sementara kedua murid SMA itu hanya bisa tersenyum
canggung.
“Hyeri-ya kita harus pergi” bisik
B.I pada gadis disebelahnya lagi.
“Baiklah” gadis itu akhirnya
menyetujui pemintaan namja di sampingnya itu, ia terlihat sudah tak nyaman
disini.
“Hyung, noona kami pergi dulu
kar...”
“Chakaman! Apa semua yang kalian
katakana itu benar? Kalian tidak menipu kami kan?” tanyaku memastikan bahwa
kami tak ditipu oleh cerita fiksi yang dikarang anak SMA ini.
“Ha? Apa maksudmu Hyung?” Tanya
B.I dengan alis berkerut.
“Apa benar Shin Miran adalah pemilik
Scorp?” sungguh aku tak ingin percaya semua perkataan bocah ini, yang aku tahu
dan yakini Miran hanyalah gadis biasa yang memang berbakat untuk menjadi
manager dan dia adalah manager kami, hanya manager EXO. Bukan chaebol atau
apapun itu.
“Dia bukan pemiliknya” jawab Hanbin
dengan mengelengkan kepala. Sudah kuduga mereka hanya mengarang cerita.
“Pemiliknya adalah nenekku, dan
saat ini ayahku yang sedang menjalankan perusahaan sejak pamanku meninggal
dunia” jelas Hanbin dan serta-merta kembali harapanku buyar mengenai Miran yang
hanya gadis biasa.
“Kau masih tidak percaya?” Tanya Hanbin
ketika melihat eksprsi wajahku.
“Hyung, tidak baik selalu curiga
pada orang lain” bocah tengil itu berlaga menasehatiku, ya aku juga tahu jika
kita tak boleh berburuk sangak pada orang lain.
Hanbin merogoh saku celananya dan
mengeluarkan ponsel putih miliknya, ia terlihat focus pada benda berbentuk
persegi itu selama beberapa detik.
“Ini, lihatlah” namja muda itu menyodorkan ponselnya padaku.
Aku menerimanya dengan sedikit ragu dan melihat layar posel putih itu.
“Apa yang ingin ia tunjukan?”
Tanya noona yang mendekat padaku untuk melihat layar ponsel yang tengah
menunjukan suatu gambar itu dari balik meja panjangnya.
Gambar itu adalah foto keluarga Miran,
terlihat seorang gadis dengan rambut panjang hitamnya tengah tersenyum pada
kamera, ohh Miran terlihat masih sangat belia di sini dia terlihat sagat imut,
lalu ada seorang bocah laki-laki kecil yang menunjukan sederet gigi susunya dengan
antusias, aku yakin itu adalah bocah tengil yang sekarang ada di hadapanku saat
ini dan hal yang terakhir terlihat dari foto itu adalah seorang wanita paruh
baya yang tengah terduduk dikursi bernuasa hitam yang terlihat mewah.
“Itu adalah noona, aku dan
nenekku. Bukankah aku sangat imut di situ?” tanyanya dengan wajah antusias.
“Eoh” jawabku sekenanya dengan
nada begitu datar dan melihat reaksiku itu wajah B.I langsung berubah muram.
“Kau bisa mencari di internet
tentang pemilik Scorp, dan aku jamin aku akan melihat wajah nenekku di sana”
B.I akhirnya menjelaskan mengapa ia menunjukan foto itu padaku.
“Wow! Jongin! Itu memang dia!”
kakakku membandingkan wajah yang ada diponselnya dengan wajah wanita yang ada
di ponsel Hanbin, noona cepat sekali melakukan apa yang Hanbin katakan.
“Jinjjayo?” tanyaku lalu
mengambil ponsel noona dan menjejerkannya dengan ponsel Hanbin. Ya benar, bocah
tengil ini sama sekali tak berbohong padaku, layar ponsel Jungah Noona
menujukkan wajah yang sama namun terlihat lebih tua dengan rambut yang berubah
menjadi putih akan tetapi aku bisa meyakini bahawa itu adalah orang yang sama.
“Sekarang kau sudah percaya bukan?”
Tanya Hanbin memastikan.
“Ya, aku percaya padamu” sekarang
aku mengakui apa yang Hanbin ucapkan.
“Aku ini murid teladan Hyung,
jadi kau bisa mempercayai perkataanku” Hanbin mengambil kembali ponselnya dari
tanganku, entah apa hubungannya murid teladan dengan perkataannya tapi yang
jelas saat ini tak bisa lagi dipungkiri bahwa Miran adalah salah satu cucu dari
pemilik Scorp.
“Kau bilang tadi jika Miran tak
ingin menerusakan perusahaan kalian, tapi kenapa?” tanyaku masih heran dengan
pikiran gadis itu, ia bisa mendapatkan apapun yang ia mau tanpa harus bersusah
payah bekerja diperusahaan lain hanya untuk mengrus namja-namja seperti kami,
berlarian kesana kemari, atau membersihkan dorm. Ia adalah tuan putri dan
mengapa ia melepaskan semua itu? Atau jangan-jangan..
“Apa mungkin Shin Miran sudah
dihapus dari daftar keluargamu?” tanyaku penuh selidik.
“Hyung?” B.I menatapku tak
percaya.
“Hahaha, oppa itu tidak mungkin” Hyeri
tertawa mendengar pertanyaan yang aku ajukan.
“Noona tak mungkin dihapus dari
daftar keluarga kami Hyung, dia adalah cucu kesayangan nenekku ya walupun aku
juga merupakan cucu kesayangan... tapi yang jelas itu tidak mungkin” B.I
mengibas-ngibaskan tangannya seperti sedang mengusir lalat dari hadapannya.
“Jong, kau terlalu banyak nonton
drama hum?” bahkan sekarang noonaku itu juga ikut menertawakan adiknya ini.
“Lalu apa alasannya?” tanyaku
kemudian.
Hanbin terdiam sejenak, bocah itu
tak langsung menjawab pertanyaanku sepertinya ia tengah menimbang-nimbang
sesuatu.
“Untuk hal itu.. tanyakan saja
langsung pada noona” jelasnya dengan wajah tersenyum yang entah mengapa terasa
sangat tulus.
“Wae?” tanyaku tak terima mengapa
ia tak mau menjelasakannya.
“Karna aku dan Hyeri harus pergi Hyung”
Hanbin bergegas menarik tangan Hyeri dan berjalan menuju pintu.
“yak! Kim Hanbin! Kau belum
menjawab pertanyaanku! Hey!” terikaku begitu melihat mereka menjauh.
“Anyeong” ucap namja itu begitu
tiba diambang pintu cafe dengan senyum merekah dan tangan kanan yang melambai-lambai.
“Anyeongyogiseo” Hyeri
mebungkukan badannya sebagai tanada penghormatan dan mereka pergi meninggalkan
aku dan noonaku.
“Ck! Bocah tengil itu sungguh
membuatku ingin mencincangnya!” umpatku kesal dengan kelakuan calon adik iparku
itu.
“Kenapa kau begitu penasaran?”
Tanya noona yang saat ini tengah menopangkan dagunya pada telapak tangan
kanannya, ia menatapku dengan alis yang terangkat tinggi, rasa ingin tahunya
pasti sudah membuncah.
“Ha? Itu.. yah.. aku hanya
berfikir mana mungkin seorang tuan putri yang tinggal di tempat yang begitu
nyaman mau menjadi upik abu dan menghabiskan harinya untuk mengurus namja-namja
seperti kami? Bisa kau bayangkan noona?” aku mengelengkan kepala pelan, sungguh
membayangkan Miran ternyata seorang chaebol dengan Shin Miran yang hanya
menggunakan kaus belelnya dan celana pendek, sungguh rasanya otaku tak dapat
menerima itu.
“Yah, jujur saja jika aku jadi Miran
mungkin aku akan tetap disana di istanaku dan menikmati semua kemewahan yang
ada, tapi.. memimpin perusahan besar bukanlah hal yang mudah Kai, akan lebih
mudah mengatur 12 namja dibandingkan mengurus ratusan ribu karyawan dan
keluarga mereka” Jungah noona mengelus kepalaku singkat dan kembali melanjutkan
pekerjaannya.
“Benarkah? Tapi menurutku Miran
memiliki kualifikasi yang cukup untuk menjadi seorang pemimpin” gumamku tak
sepenuhnya setuju dengan penjelasan noona.
Namun jika dipikir lagi.. Miran
sama sekali tak terlihat seperti pewaris perusahaan besar, ia benar-benar
terlihat seperti gadis biasa yang melalui hidup seperti kebanyakan orang, sama
sekali tak pernah menggunakan barang-barang yang mewah atau berlebihan, walau
tak bisa dipungkiri ada sebuah aura yang memancar darinya.. aura yang sangat
berbeda... AH! Benar! Aura itu terasa sama ketika aku melihat Miran di foto
keluarganya dan Miran yang berdandan saat acara award beberapa saat lalu. Ia
terlihat sangat elegan, tapi itu semua tertutup dengan caranya berpakaian
sehari hari. Jika setiap hari ia berpakaian seperti itu kuyakin semua orang
akan percaya bahwa ia adalah pewaris perusahaan terkenal Korea, tapi kenapa
gadis itu menyembunyikannya dari kami?
“Hey, Jongin-ah! Apa kau akan
terus melamun disitu, huh?” panggil noona dari pojok ruangan yang tengah ia
pel.
“Baiklaaahh, apa yang bisa aku
bantu?” tanyaku dengan memaksakan diri tersenyum setulus mungkin, setidaknya aku
tak ingin membuat Jungah noona khawatir.
**
‘Ceklek’ aku membuka pintu
aparteman EXO dengan tidak semangat.
“Aku pulang” ucapku diambang
pintu lalu melepaska sepatuku untuk mengantinya dengan sandal rumah yang lebih
nyaman.
“Kau sudah pulang?” Tanya
Kyungsoo Hyung yang sedang menyaksikan film yang entah apa.
“Eoh, orang tuaku sedang pergi ke
Busan jadi aku hanya mampir cafe dan kembali” jelasku lalu menjatuhkan diri
diempuknya sofa putih kami.
“Wae?” Tanya Kyungsoo Hyung yang
posisi duduknya tak berubah sekalipun.
“Ani” jawabku masih enggan
bercerita.
“Kau tidak pergi kemana-mana Hyung?”
tanyaku pada namja yang tengah sibuk mengunyah cemilannya itu.
“Tidak, aku hanya ingin bersantai
saja” jelasnya tanpa melepas pandangan dari tv.
“Kau sedang nonton apa? Serius
sekali”
“Iron man 3, aku belum
menontonnya” lagi-lagi ia tak menatapku saat bicara, dan aku hanya bisa
menghela nafas kesal dan mulai ikut menatap kelayar tv plasma kami. Tunggu, ada
sesuatu yang begitu menarik perhatianku yaitu merk tv kami yang bertuliskan
Scorp. Kenapa produk mereka ada
dimana-mana?
“Hyung?” panggilku lagi setelah
beberapa saat terdiam.
“Wae?” ucap bibir tebalnya
singkat.
“Kau tau Scorp?” tanyaku dengan
bodohnya, semua orang tentu tahu perusahaan itu.
“Tentu tau, TV, AC, kulkas,
vacuum cleaner bahkan mesin cuci kita adalah buatan Scorp. Mana mungkin aku
tidak tau” kini ia memandangku dengan tatapan bingung.
“Pasti perusahan itu sangat kaya
bukan?” tanyaku lagi tak memperdulikan tatapan tanya yang ia berikan.
“Eoh, kudengar mereka perusahaan
elektronik no 1 di Korea. Selalu bersamamu.” Ucapnya menirukan kata-kata yang
selalu muncul pada iklan Scorp lengakap dengan tangan kanan yang di tepelkan
pada dada kirinya, melihat hal itu seolah kembali melihat B.I.
“Kau ingin membeli sesuatu?”
tanyanya kemudian.
“Ani, aku hanya bertanya saja”
aku menggeleng pelan dan memejamkan kedua mataku.
“Sejak kapan kau perduli akan hal
seperti ini?” suara D.O Hyung menelusup dalam telingaku. Jika kau ingin tahu
jawabannya Hyung, alasannya adalah karna Shin Miran adalah pewarisnya.
“Tidak ada, hanya penasaran saja.
Tadi ada seorang pelangganyang datang ke cafe dan ternyata ia adalah pewaris
perusahaan itu” kembali wajah tengil Hanbin muncul dalam bayanganku.
“Jinjja? Dia pasti terlihat
sangat mewah” terdengar nada tertarik dalam suara member bermarga D.O itu. Ha?
Mewah? Jika bukan karna seragam atau barang-barang yang ia kenakan ia terlihat
seperti anak nakal yang ingin kubasmi.
“Ya begitulah, tapi ia hanyalah
anak SMA”
“Bagaimana kau tahu jika ia
adalah chaebol?” aku membuka mataku dan menemukan Kyungsoo Hyung tengah menatapku
lekat-lekat.
“Dia yang menceritakannya, aku
tak begitu percaya lalu ia menunjukan foto keluarganya dan ternyata neneknya
adalah CEO dari Scorp” jelasku singkat tanpa menyinggung Miran sama sekali,
biarlah hanya aku yang tahu tentang ini karna jika ku ceritakan pun kuyakin
member EXO yang lain belum tentu percaya.
“Wow, hidupnya pasti sangat
mudah.. apapun yang diinginkannya pasti terpenuhi” Hyung beralis tebal itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ya sebenarnya Hanbin tak sepenuhnya terlihat
seperti pewaris perusahaan, atau mungkin keluarga mereka sengaja membuat kesan
agar mereka tak terlihat seperti itu? Entahlah.
“Hyung... bagaimana jika ternyata
salah satu dari kita (exo) adalah chaebol?” tanyaku ingin mengetahui reaksi
yang akan diberikan D.O hyung.
“Itu tidak mungkin, kita saling
mengenal satu sama lain bahkan keluarga masing-masing” jelasnya dengan mengeleng-gelengkan kepala.
“Seandainya saja” aku memberikan
penekanan.
“Umm.. jika itu terjadi rasanya
pasti sangat canggung mengingat seberapa kaya dan pentingnya orang itu
sedangkan aku hanyalah orang biasa” tuturnya tenang.
Ya itulah yang sedang aku rasakan
dan fikirkan.
“Tapi kita bukanlah orang biasa,
kita adalah artis” aku berusaha mencari pembenaran.
“Ya kau benar, tapi kita masihlah
berada di bawahnya, sama seperti SM. Kita hanyalah karyawannya” jadi maksudnya
statusku hanyalah karyawan yang berharap bisa bersama CEO perusahannya?
“Tapi.. apakah mungkin orang
seperti mereka dibolehkan menikah dengan orang biasa seperti kita?” tanyaku
dengan sedikit berhati-hati.
“Apa-apaan pertanyaanmu itu? Kau
ingin menikah dengan chaebol? Hahahaha kita hanya artis biasa Kai, bahkan masih
baru dengan pendapatan yang tak sebanding dengan pendapatan mereka” Kyungsoo Hyung
tertawa karna petanyaan anehku.
“Jadi itu tidak mungkin?” kembali
aku bertanya pada Hyung yang lebih tua setahun dariku itu.
“Hemm mungkin saja, tapi
masalahnya kita tak pernah bergaul dengan chaebol dan lagi apa mungkin orang
tua gadis itu akan setuju? Kau tahukan biasanya orang-orang seperti mereka
sudah dijodohkan dengan orang yang dirasa akan meningkatkan penghasialn
perusahaan, karna apapun yang mereka lakukan pasti ada dampaknya pada
perusahaan yang mereka jalankan” terang namja bermarga Do itu. Ohh begitu, wow ternyata pengetahuan Hyungku
yang satu ini sangat luas.
“Darimana kau tahu semua itu?”
“Drama” jawabnya begitu singkat.
“Hahhh! Kukira kau serius!” aku
melepar salah satu bantal sofa padanya.
“YAK! Kau ini! Kau bertanya dan
aku hanya bertugas untuk menjawab, entah darimana akar jawaban yang aku berikan
itu bukanlah masalah!” gerutunya setelah bantal itu mendarat tepat di wajahnya.
“Ya.. tapi kau benar Hyung mereka
bahkan sangat memikirkan apakah perjodohan mereka itu menguntungkan atau tidak”
kembali kata-kata Hanbin yang mengatakan jika perjodohanya dengan Hyeri akan
menghasilkan keuntungan untuk kedua perusahaan.
“Aku lelah, aku akan kekamar dan
beristirahat” kupaksa badanku untuk bangkit dan berjalan ke kamar.
Kamarku terliat begitu tenang
tanpa member lain yang membuat keributan, kututup pintu kamarku dan langsung
merebahkan diri di tempat tidur.
Ku keluarkan poselku dari kantong
baju dan membuka galeri foto, ku pandangi foto seorang gadis yang tengah sibuk
dengan pekerjaanya memilih salah satu kostum yang akan kami kenakan, wajahnya
tak menunjukkan sedikitpun rasa lelah walau ia sudah seharian bekerja, dialah Shin
Miran yang aku kenal.. seorang gadis yang hanya mengunakan jeans dan kemeja
untuk bekerja.. seorang gadis yang tak pernah memikirkan penampilannya namun
selalu memikirkan apa yang harus artisnya kenakan... gadis berambut bob yang
hanya menggunakan make up yang begitu tipis pada wajah cantiknya.
Hah, aku lelah seharian ini terus
bersikap baik-baik saja di depan orang lain, menyembunyikan kekhawatiranku, keterkejutanku,
rasa sakitku, kecewaku. Aku bahkan sangat bingung dengan apa yang sesungguhnya
terjadi, kemarin Miran menghilang dan saat ini aku menemukan fakta bahwa ia
adalah cucu seorang pemilik perusahaan ternama. Jadi ia membohongi kami atau
ini kesalahan kami yang tak pernah mencari tahu karna begitu percaya padanya?
“Miran apa yang sebenarnya sedang
kau lakukan?” gumamku pada foto yang tertera pada ponselku.
“Manager Gil bilang kau ada
urusan penting, tapi kau justru ada dirumahmu sekarang”.
“Apa ada sesuatu yang terjadi di
rumahmu? Atau justru di... perusahaanmu?” tanyaku ragu. Mungkinkah Shin Miran
bisa bersama denganku? Entah mengapa setelah melalui hari ini aku merasa kau
sangat jauh dariku.
“D.O Hyung benar.. aku hanyalah
artis baru.. pendapatanku bahkan mungkin tak ada separuh dari gaji yang didapatkan
Miran jika ia menjadi CEO perusahaan”aku tertegun pada kenyataan yang baru saja
aku ucapkan.
“Tapi... bukankah harusnya aku
marah padanya? haha” aku tertawa pahit, akan sangat sulit untuk marah pada
gadis itu.
“Miran-ah.. Aku sungguh berharap ini bukan
kenyataan” aku mengadahkan tubuhku dan menutupi pandanganku dengan lengan kiriku.
Rasanya seperti memikul beban yang beitu berat, tubuh dan jiwaku terasa begitu
kelelahan. Mungkin beristirahat sejenak akan membuatku merasa lebih baik.
**
Aku memejamkan mataku berusaha
menikmati music dengan irama lembut yang mengalun dalam ruangan yang aku
sendiri tak tahu entah dimana.
‘krek’
Mataku terbuka saat menyadari seseorang
dari luar sana berusaha masuk dengan membuka pintu bercat hitam ruangan ini dan
detik berikutnya yang kulihat adalah seorang gadis, gadis yang sangat ingin aku
temui tapi entah mengapa ada perasaan takut dalam hatiku ketika menatapnya.
Ya dia Shin Miran gadis yang
mengisi hatiku.
“Kenapa kau tak memberi kabar,
hum?” tanyaku dengan nada putus asa pada seorang gadis yang kini telah berada di
hadapanku.
“Kau tak rindu pada kami? Kau tak
rindu padaku?” ia hanya terdiam seolah enggan untuk menjawab.
“Ayo kembalilah bersamaku” aku memaksakan
diri tersenyum dengan mengulurkan tangan kananku padanya, namun ia hanya
terdiam menatapku tenang.
“Shin Miran, ayo kita pulang”
ajaku kembali dan sama seperti sebelunya uluran tanganku tetap tak bersambut.
“Aku sudah di rumah Kai” jawabnya
membuatku memandang sekeliling, mataku disuguhkan dengan desain mewah sebuah
ruangan yang ia katakanya sebagai rumah.
“Ah, benar.. kau berada di
rumah..bagaimana bisa aku tak menyadarinya” ucapku sedih.
“Maksudku, ayo kita pulang ke
dorm EXO, dorm kita” sekali lagi kau berusaha membujuknya.
Dan kembali gadis itu terdiam
seperti beberapa saat lalu.
“Urusanmu sudah selesai bukan?”
tanyaku berusaha bersikap tak ambil pusing, namun gadis itu tak bergeming.
“Kenapa? Kenapa kau diam saja?”
tanyaku lagi akan sikap diamnya itu
“Bisakah kau kembali? Aku sungguh
ingin kau kembali bersamaku” gumamku pada gadis yang sudah mengisi relung
jiwaku itu. Entah mengapa ada persaan begitu sedih dalam hatiku, aku sungguh
takut ia tak akan pernah kembali. Rasanya sangat sakit meliatnya menatapku dan
terpaku diam seperti itu. Apakah itu bentuk penolakan darinya?
“Kembalilah padaku” pintaku
dengan nada begitu putus asa.
“Menjadi Miran yang tersenyum untukku
dan ada disaat aku sakit” aku menatapnya nanar, sungguh jika ia tahu aku sangat
memohon padanya saat ini.
“Dan menjadi seseorang yang
peracaya padaku, percaya pada setiap langkah yang aku ambil” mataku
berkaca-kaca menatapnya yang tak bergeming sedikitpun, apa aku benar-benar tak
berarti untuknya?
“Kau ingat... Seperti yang kau
ucapkan saat di bandara... bukankah kau sudah berjanji akan ada untukku?” aku
berusaha mengingatkanya akan apa yang telah ia janjikan padaku.
“Kau tak ingin menepatinya?”
hatiku sakit. Ini sungguh menyakitkan.
“Kumohon Miran katakanlah
sesuatu” aku menunduk, tak ingin ia melihat air mata yang lolos begitu saja dari
mataku.
“Kau tak akan pergi dari kami
bukan?” kembali aku mengulang pertanyaan yang sama.
“Bisakah kau kembali sekarang?
Kembaliah Miran..” gumamku dengan nada
putus asa
“Pulanglah Miran.. aku
merindukanmu..”
“Aku mengkhawatirkamu setiap
detik” gadis itu mengulurkan tanganya
menghapus air mataku yang sudah tak terbendung.
“Apa kau ingin menyakitiku
seperti ini?” tanyaku lagi benar-benar putus asa dihadapannya.
“Kumohon kembalilah... aku
sungguh berharap kau selalu ada di sisiku... “
“Kau tak kan meninggalkanku, kan?”
aku mengengam tangan kecilnya yang masih setia di pipiku.
“Miran-ah...” sedih menyelimuti
hatiku melihat wajahnya yang berubah sendu.
“Aku mohon katakana sesuatu!”
pintaku pada gadis berambut bob itu frustasi, ia menatapku sedih.
“Aku sungguh tak perduli siapapun
kau asal kau tetap bersama denganku” rengekku memohon seperti tak punya harga
diri.
“Kai... Mian..” ucap bibir mungilnya,
dan perlahan ia melepaskan tangannya dari gengamanku.
“Apa karna aku bukanlah
siapa-siapa?” tanyaku pasrah, namun gadis itu seoalah tak mendengarkan apa yang
aku ucapkan, ia justru berjalan menjauhiku.
“Andwe!” pintaku memohon padanya.
“Miran.. andwe, jaebal andweee!”
aku merengak seperti anak kecil yang tak ingin ditinggalkan sendiri.
“Hajima, jangan pergi... aku mohon...” bibirku bergetar saat memintanya
untuk tinggal, akan tetapi seolah tak perduli ia tetap berjalan melewati pintu
bercat hitam itu
“Miran-ah..” kaki ku bergetar tak
mampu lagi menahan berat tubuhku, aku berlutut dan menangis memintanya kembali.
Pintu hitam itu semakin menutup perlahan hingga sosok yang begitu kudamba tak
lagi terlihat.
“Kajima..” aku tertunduk dan
menangis sejadinya, ia pergi... pergi meninggalkanku.. begitu saja sendiri
disini.
Benarkah ini Miran? Benarkah kau
berfikir untuk pergi?
Aku memukul-mukul dadaku yang
terasa sesak berusaha menahan perasaan kecewa dan terluka.
“Kau akan kembali, aku percaya
itu! Tidak perduli bagaimana.. aku akan melihatmu lagi. Akan kupastikan itu akan terjadi!” aku menatap tajam pintu hitam. haruskah aku menghancurkannya? menghancurkan jarak diantara kita? jika itu satu-satunya jalan maka akan aku lakukan!
“Karna tak akan kubiarkan kau pergi
begitu saja”
****************************************************************************************
Kai's Diary END.
Huaaaaaaa!!! Bang Kai akhirnya Diary mu release jugaaa!!! chukaaeeeee!!!
ya ampun seneng deh akhirnya part ini selesai YUHUUUUU!
tapi kok rasanya sedihya... kamu kok nasibnya sedih banget dipart ini.
jadi berasa kejam karna membuatmu menderita. miane TT___TT
kalo udah gak mau sama miran eonni, sini-sini Dindong siap nampung kok..
oohh ya makasih banget buat B.I. yang udah nongol banyak di part ini, sumpah dek di part ini kamu ngeselin abis wkwkwkwk..
OK saranghare all, luv yaaa :)









0 komentar:
Posting Komentar