You Are My Story
cast: kai exo, chanyeol exo, luhan exo, song minji (oc), naeun apink
selamat membaca chingu ^^
Ku buka mataku secara perlahan,
aku begitu penasaran dengan reaksi mereka.
“sudahku katakan dia orang yang
tepat” suara chanyeol adalah suara pertama yang memecahkan keheningan. Aku
menatapnya dengan tatapan bingung dan beralih kepada naeun yang masih menujukan
tatapan terpukau padaku begitu juga yang lainnya.
“kau benar-benar memiliki suara
yang indah minji, bagaimana kau bisa berkata jika kau tidak bisa bernyanyi?” naeun
mulai berbicara dengan begitu antusias. Dan seperti yang kalian duga aku
bergabung dengan band naeun dan yeol, dan mendapatkan kepopuleran di sekolah
dengan perdikat “gadis bersuara emas”. Haaahhh sebenarnya aku bukan orang yang
terlalu senang dengan predikat seperti itu, karena mereka menganggapku sebagai
seorang yang luar biasa, dan juga mengharapkan aku melakukan hal yang luar
biasa.\
Namun dari semua orang yang
bersikap baik pada ku ada satu orang dalam kelas yang selalu acuh, namun justru
begitu menarik perhatianku, dan tebak,
hari ini aku mendapatkan tugas kelompok bersamanya. kim jong in, dia begitu
diam dan cuek dengan keadaan sekitarnya, hampir tidak pernah menyapa orang dan
tidak menghiraukan orang yang menyapanya, tapi mungkin bagi beberapa orang
harus beradaptasi dengan lingkungan baru adalah hal yang sangat menyebalkan, namun bukankah kita sudah sekelas hampir satu tahun, kurasa itu waktu yang sangat
cukup untuk beradaptasi.
Ini untuk pertama kalinya aku
sekelompok denganya, karena biasanya guru kami membebaskan untuk memilih
anggota kelompok sendiri, namun untuk kali ini sengaja di buat berpasangan sesuai
dengan undian yang di dapatkan. Aku sama sekali tidak mengeluh mendapat teman
kelompok seperti dia, sekelompok denganya justru membuatku tertantang untuk
mengenal orang itu lebih dalam, terlepas dari wajahnya yang tampan, dia seolah
memiliki sesuatu yang harus aku ketahui. Yah banyak sekali gadis yang berusaha
menarik perhatiannya namun gagal karena tak tahan dengan sikap acuhnya. Tapi aku
yakin karakter seseorang pasti tercipta dari berbagai kejadian hidup yang dia
alami, dan pasti ada alasan mengapa jong in bersikap seperti itu. Pemikiranku bagus, bukan??.
“jong in?” sapa ku, aku tau aku
yang harus memulai berbicara jika ingin tugas kelompok ini segera selesai. Dan
ia hanya menatapku dengan pandangan yang seolah berkata “apa yang kau inginkan
dariku?” tatapnya membuatku gentar sesaat
“umm kau sudah taukan jika kita
sekelompok dalam tugas bahasa inggris?” tanyaku memastikan, karna hampir setiap
aku melihatnya ia selalu menatap keluar jendela seolah tak perduli dengan keadan
di dalam kelas.
“oh” katanya pendek, ha? Pantas
saja semua gadis memilih mundur sebelum berusaha, dia sungguh sulit untuk di
hadapi.
“aku ingin bertanya apa kau
memiliki waktu luang saat ini? Karena tugas ini di tumpuk lusa sedang besok aku
ada latihan, jadi bagaimana jika sebaiknya kita selesaikan saat ini?” tanyaku
“apa kau akan memperduliakan
pendapatku? Bukankan pertanyaanmu hanya basa basi? Dari kata-katamu secara tidak
langsung kau berkata tugas ini harus diselesaikan sekarang, bukan?.”
Kata-katanya begitu tajam dan yang lebih membuat sakit hati adalah dia
menatapku dengan pandangan rendah, haaahhh, aku mendesah panjang berusaha
mengumpulakan ke sabaran. Aku bukan orang yang gapang tersulut emosi, tapi aku
tak suka jika ada orang yang menatapku seperti itu.
“kau marah gadis bersuara emas?”
tanyanya dengan nada mengejek, seperti bisa membaca usahaku untuk tetap
bersabar.
“tidak” jawabku “ jika aku marah
itu hanya akan membuatmu merasa menangkan? dan jika kau menang kau akan terus
menatapku seperti itu” kataku dengan berusaha membuat raut wajahku
sedatar mungkin, untung anak-anak kelas sudah pulang dan jong in memang selalu
pulang terakhir jadi tidak ada orang lain di kelas selain kami berdua, memang
kata-kataku terdengar kejam tapi tak apalah sikapnya juga kejam padaku, umm
tidak, bukan padaku tapi semua orang.
“aku tidak ingin berdebat panjang dengan
mu, jika kau merasa pendapatmu akan percumah bila kau ungkapkan, aku akan
mengalah, katakan kapan kau ingin mengerjakan tugas ini dan di mana?” kataku
dengan sisa senyum tipis di bibirku.
“besok rabu jam 3 sore di cafe
ujung jalan sana, bagaimana? Kau bisa? Bukankah itu jadwal latihanmu?”
tantangnya. Hah? Yang benar saja? Dia sengaja membuat jadwal latiahan ku
berantakan atau apa?
“kau tidak memiliki waktu luang selain
jam itu?” tanyaku, berusaha bernegosiasi, ku buang rasa amarahku jauh-jauh dan
bertanya seramah mungkin, karena berdebat dengan orang seperti jong in hanya
akan membuang-buang tenaga.
“bukankah kau berkata akan mendengarkan pendapatku?”
tantangnya lagi
“baiklah, jam 3 di cafe purple” aku
menghembuskan nafas panjang, kurasa yeol dan naeun akan mengerti jika aku
menjelaskan mengapa aku tak bisa latihan besok.
“jangan lupa penuhi janjimu”
seringainya sambil berlalu.
“jong in!” Panggilku. Ia berhenti
tanpa membalikan badan. Menunggu aku melanjutkan perkataanku.
“ kau.. tidak lapar?” tanyaku, ia
membalikan badan dengan sebelah alis terangkat.
“ perdebatan tadi cukup
menghabiskan energi, dan aku lapar sekarang, apa kau tidak lapar?” kata ku menjelaskan apa yang
terjadi pada perutku.
“tidak” jawabnya singkat dan
pergi meninggalkannku tanpa menoleh sedikitpun.
Baiklah ini memang terlihat aneh mengajak orang yang baru saja berdebat denganmu untuk makan bersamamu. Tapi aku benci makan sendiri, biasanya aku akan mengajak teman sekelasku untuk pergi makan bersama namun semua orang sudah pulang, yang tersisa hanya jong in dan ia barusaja menolak ajakan ku. sebenarnya, aku berfikir mungkin saja dengan mengajaknya untuk makan bersama dapat membuatku lebih mengenal dan mengerti jalan pikirannya yang "tidak normal" itu.
Aku memutuskan untuk makan di salah satu kedai mi yang berada tak jauh dari sekolah, kedai itu dipenuhi dengan anak-anak berseragam sekolah, namun tidak ada yang duduk sendirian seperti aku, mereka semua sibuk bercerita dengan teman masing-masing, aku dapat mendengar tawa mereka dengan sangat jelas. haaaaahhhh sungguh menyedihkan, membuat nafsu makanku hilang, aku hanya menatap mi ku tanpa menyentuhnya, dan wajah jong in mulai memasuki pikiranku.
"song min ji?" tiba-tiba seseorang menghampiriku, ia datang dengan membawa makanannya dan duduk di mejaku tanpa meminta persetujuan.
"de, aku song min ji, maaf kau siapa?" tanyaku bingung saat tiba-tiba ada seorang anak laki-laki berwajah ramah duduk di hadapanku, dan terus tersenyum tanpa mengalihkan tatapannya dariku.
"kau tidak tahu aku?" tanyanya bingung. bukankah yang seharusnya bingung adalah aku, mengapa ia juga ikut merasa bingung?.
"maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu siapa kau" kataku jujur
"kau tidak lihat seragamku? aku kakak kelasmu, luhan" jawabnya. Luhan? aku rasa pernah mendengar nama itu. aku mengaduk-aduk memoriku berusaha mengingat, oohhhhh iya, yeol pernah berkata bahwa ada kakak kelas yang menanyakan tetangku beberapa hari yang lalu, dan orang itu bernama luhan!.
"kau tahu aku, bukan?" tanyanya, sepertinya ia sangat penasaran
"aku tidak yakin, tapi apakah kau adalah luhan yang sama dengan orang yang bertanya pada temanku beberapa hari yang lalu?" tanya ku memastikan
"ahhh temanmu mengadu padamu ternyata, maaf sudah berusaha mencari tau tentang mu" kataya tertunduk malu, aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya
"ahhh, tidak apa-apa, tapi mengapa kau mencari tahu tentanga aku?" tanyaku penasaran
ia mengangkat wajahnya dan kembali menatapku lalu berkata "karna kau cantik"
jawaban yang singkat namun mampu membuat pipiku memerah.
"ahhhh wajahmu memerah, kau tersipu?" godanya sambil terus tersenyum
"tidak, wajahku tidak memerah" kataku membela diri.
melegakan bahwa akhirnya aku tak perlu makan sendirian, karena luhan menemaniku. dia orang yang menyenangkan, ia bercerita tentang teman-temannya, bagaimana keadaan sekolah saat ia masih berada di kelas satu dulu, dan banyak hal lainya. namun tanpa aku perlu menceritakan tentang diriku ia sudah tau semua, seperti di mana rumahku, jumlah saudaraku, hobiku dan hal hal kecil lainya. aku rasa dia sudah mendapatkan seluruh informasi tenatangku entah dari mana.
selesai makan ia menawarkan diri untuk mengantarku pulang, namun aku menolaknya dan berkata aku akan pulang sendiri terlebih lagi arah rumah luhan dan aku besebrangan.
"hati-hati di jalan" ucap luhan sebelum kami berpisah, ia menyunggingkan senyum dan melambaikan tangan padaku.
aku menunggu bis di halte terdekat, di dalam bis untuk mengusir bosan ku pasang earphone dan mendengarkan musik favoriku sambil menutup mata, aku sangat menyukai hal ini merasakan angin yang masuk melalui jendela menerpa wajahku dengan halus.
***








0 komentar:
Posting Komentar