gak terasa udah part 3 semoga kalian suka cerita lanjutannya yaaa,,, di tunggu kritik dan saranya.. ^^
cast: song min ji (oc), kai exo, chanyeol exo, luhan exo, naeun apink
selamat membaca chingu ^^
Aku berangkat ke sekolah dengan
hati yang tak karuan menghadapi kenyataan bahwa saat pulang nanti aku harus berhadapan
dengan kim jong in, apa yang harus aku katakan sebagai bahan obrolan dengannya?
aku tak tau apa yang ia suka. Manamungkin aku membahas soal cuaca, ummm atau
mungkin aku harus membicarakan tentang film terbaru? Tak masalah jika ia suka
nonton film, tapi bagaimana kalau tidak?? Ahh sungguh memusingkan. Aku mulai
mengacak-acak rambutku karna sebal.
“song min ji” teriakan seseorang
yang memanggil namaku menyadarkanku dari lamunan, aku mencari asal dari suara
itu.
“aku di belakangmu” teriak suara
itu lagi yang membuatku menoleh ke belakang.
“luhan?” ia berlari menghampiriku
dengan wajah sumringahnya dan berjalan di sampingku, beriringan denganku.
“kulihat dari jauh kau sedang
melamun, apa yang kau pikirkan?” tanya luhan mencari tahu.
“Hey ada apa dengan rambutmu?”
tawanya pecah saat melihat rambutku yang sudah seperti sarang burung ini.
“ummm aku sedang memikirkan tugas
kelompoku” jawabku tak antusias... dan aku juga sedang memikirkan jong in, tapi
kurasa luhan tak perlu tahu itu. Sambil berjalan kurapihkan rambutku dengan
menggunakan jari tangan, sementara luhan masih berjalan di sampingku dengan
pandangan yang mengarah lurus ke depan, entah apa yang ia pikirkan.
“ohhh tugas, aku pikir kau sedang
memikirkan namja lain” akhirnya ia bersuara setelah beberapa menit terdiam.
“ha? Laki-laki lain? maksudmu?”
“ya, laki-laki lain selain aku”
jawabnya dengan raut muka yang serius, aku menghentikan langkahku sejenak, dan
menatap luhan dengan tanda tanya besar dalam mataku.
“aku tidak mengerti” kataku
dengan menunjukan ekspresi tak paham, apa dia bisa membaca pikiranku jika aku
sedang memikirkan jong in?.
“sudahlah, lupakan saja aku hanya
bercanda, haha” tawanya muncul setelah melihat ekspresiku yang tak mengerti,
aku baru sadar ketika tertawa mata luhan akan berbinar dengan indah.
“sebenarnya tugas apa yang harus
kau kerjakan hingga berfikir sekeras ini?” tanyanya kemudian.
Aku menarik nafas panjang sebelum
menjawab pertanyaannya, dan kembali berjalan menuju gerbang sekolah, yang sudah
mulai terlihat dari kejauhan.
“tugas bahasa inggris, sebenarnya
bukan tugasnya yang menjadi masalah tapi teman sekelompokku .....” entah
mengapa kata-kataku terhenti begitu saja.
“ada apa dengan teman
sekelompokmu” tanyanya penasaran, apakah aku harus menceritakannya pada luhan? Aku
baru saja mengenalnya kemarin, namun sepertinya tak ada alasan untuk tak
percaya padanya, jika dilihat ia adalah orang yang baik.
“teman sekelompoku sedikit sulit
untuk diajak bekerja sama” jelasku.
“memang siapa dia?” tanya luhan,
pertanyaan luhan membuatku berfikir apa aku benar-benar harus bercerita padanya?
Mengapa hari ini aku merasa perjalananku menuju sekolah terasa begitu panjang?.
“ummm kau mungkin tak kenal dia”
jawabku masih ragu apakah harus bercerita atau tidak.
“aku hampir mengenal separuh
kelasmu, katakan saja siapa dia, mungkin aku bisa membantumu” jelas luhan
berusaha meyakinkanku untuk mengatakan siapa teman sekelompoku, benarkah luhan
dapat membantu? Tak ada salahnya mencoba.
“jong in, aku sekelompok dengan
kim jong in” akhirnya aku menyebutkan nama itu, jujur saja aku belum
menceritakan tentang kejadian kemarin pada siapapun, karena aku masih ragu, aku
takut setelah menceritakannya mereka akan menjelek-jelekan jong in, dan aku tak
suka itu, aku tak suka ketika orang lain menjelek-jelekan seseorang karena aku.
“ohh kim jong in” kata-kata luhan
menggambarkan bahwa ia mengenal jong in.
“kau kenal dia?” tanyaku, apakah
kau benar-benar mengenalnya? Haruskah aku mencari informasi dari luhan?.
“iya aku mengenalnya, ia bersikap
acuh padamu?” tanya luhan santai.
“ia melakukanya pada semua orang,
bukan hanya padaku” aku mengoreksi perkataannya.
“tapi apakah kau tau kenapa ia
bersikap seperti itu?” tanyaku, sungguh aku begitu penasaran.
“iya, aku tahu, nanti akan ku
beritahu padamu saat istirahat” jawabnya.
“kenapa tidak sekarang saja?” protesku,
kenapa harus menunggu istirahat? Aku tak dapat menunggu karena aku begitu
penasaran.
“karena kau harus masuk kelas,
kita sudah sampai di depan kelasmu” kata-kata luhan mebuatku melihat keadaan
sekelilingku, benar aku sudah ada di depan kelasku. hah! sabar min ji, tenang
saja kau pasti akan mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu itu.
“istirahat nanti temui aku di
bangku dekat lapangan basket, Aku pergi dulu” katanya sambil berlalu. sepertinya
ini adalah kebiasaan luhan, melakukan hal-hal yang ia mau tanpa meminta
persetujuan terlebih dahulu pada orang lain.
Aku masuk kedalam kelas dengan
langkah gontai dan duduk di bangku yang biasa ku tempati, aku menyapa geum nari
yang duduk di belakangku, keadaan kelas tidak begitu ramai mengingat ini masih
terlalu pagi.
“ada apa dengan wajahmu?” tanya
nari tanpa melepaskan pandangan matanya dariku.
“entahlah aku tidak ingin membahasnya”
aku membenamkan wajahku dia atas meja.
“hey min ji, bukankah kau satu
kelompok dengan kim jong in dalam tugas bahasa inggris?” nari masih saja
berusaha mengajakku bicara dan kenapa ia harus menyebut nama itu?!.
“heemmm” aku mengiyakan
pertanyaanya tanpa mengangkat kepalaku dari atas meja, entah mengapa aku merasa
dengan melakukan ini maka darahku dapat dengan mudah mengalir ke otaku yang
sudah buntu ini.
“annyeong, chingu” suara naeun
terdengar sangat jelas, dan sepertinya moodnya sedang baik hari ini, tidak
seperti aku yang diselimuti awan kelabu.
Aku mengangkat kepalaku dan
menatap naeun yang sedang duduk di sampingku dengan senyum cerahnya.
“kenapa kau begitu bahagia?”
tanyku dengan nada sebal.
“wae? Aku biasa saja, justru
malah kau yang terlihat menakutkan. Ada apa?”
Aku menjawab pertanyaan naeun
dengan gelengan singkat dan membenamkan kembali kepalaku ke meja, pikiranku
kosong. Aku dapat mendengar suara naeun yang sedang bertanya pada nari apakah
aku baik-baik saja.
“min ji, song minji lihatlah
teman satu kelompokmu datang” naeun dan nari terus menerus menguncang guncang
tubuhku untuk membuatku mengangkat kepala, jong in sudah datang? Tunggu, apa
peduliku? Namun aku tetap mengankat kepalaku agar kedua temanku ini berhenti.
“hey hentikan!, ohhh jeongmal!” aku
mengangkat kepalaku saat jong in melewati bangku yang kududuki, dengan sekilas
melihat wajahnya saja langsung membuat memori otaku kembali pada perdebatan
kemari, ohhh iya....
“naeun, aku lupa bilang padamu
bahwa hari ini aku harus mengerjakan tugas kelompok dan tak bisa ikut latihan”
sesalku atas kebodohan karena lupa memberitahu lebih awal.
Naeun menatapku dengan pandangan
menelisik “kau tak memaca pesan yang ku kirim padamu semalam?”
“pesan apa?” aku bingung tak mengerti.
“ohh aku tak membuka ponselku
sejak kemarin sore, kau mengirim pesan untuku?” lanjutku.
Ohh tidak jika Naeun menunjukan
muka kesalnya, maka yang terjadi adalah.... “Ya! Aku mengirimimu pesan bahwa
latihan kita di undur hingga hari jumat, song min ji kebiasaan burukmu mulai
menyusahkan orang, ceklah ponselmu setidaknya satu jam sekali!”
“ne, maafkan aku” seperti anak
kecil yang dimarahi oranguanya aku hanya bisa menunduk.
Naeun benar-benar bisa berubah
jika sudah kesal, senyum sumringahnya akan hilang dan berganti dengan mata
besarnya yang menyipit, tapi setelah itu ia akan tersenyum kembali, hahaha
gadis lucu.
Sepanjang pelajaran aku tak dapat
menahan diriku untuk tidak melirik jong in dan memikirkan apa yang akan di
katakan luhan padaku, ahhhh mengapa jam istirahat lama sekali??!!.
***
Begitu mendengar bel istirahat
berbunyi aku langsung pergi keluar kelas dan berlari menuju tempat yang di
sebutkan luhan tadi pagi, beberapa menit aku menuggu namja bermata indah itu,
sungguh menunggu seseorang adalah hal yang paling menyebalkan!.
“wah apa kau begitu penasaran
hingga langsung berlari kemari?” akhirnya namja itu datang juga, kenapa begitu
lama? Kenapa ia tau aku berlari menuju tempat ini?.
“tidak, aku tidak berlari, aku
berjalan” aku berusaha mengoreksi perkataanya dan berusaha menjaga harga diriku.
“jinja? Ummm lalu siapa gadis
yang menabraku sambil berlari tadi?” tatapan jahil luhan membuatku tersadar
bahwa namja yang kutabrak saat berlari kemari adalah luhan, karena terburu-buru
aku hanya meminta maaf tanpa melihat wajahnya.
Aku menundukan kepalaku, malu,
sungguh memalukan.
“kau pasti lelah, ini minumlah”
luhan menempelkan botol orange juice kepipiku, dan tentu saja dingin yang
kurasa membuatku mengangkat kepala.
“gomawoyo” aku mebuka dan meminum
juice itu, rasa segar langsung menghampiri tengorokanku.
“kakaknya meninggal” kata luhan
singkat.
“apa?” tanyaku tak mengerti.
“kakak jong in menglami kecelakan
dan meninggal dunia satu tahun silam” kini mata indah luhan menatap lurus
seperti sedang menerawang sesuatu.
“aku ingat kejadian itu, aku dan
jong in sedang bermain basket di taman dekat sekolah menengah pertama kami,
walupun aku sudah lulus aku masih meluangkan waktu untuk menemani tim basket
sekolah untuk berlatih, namun latihan kami berhenti saat seseorang yeonja datang
menghampiri kami. gadis itu adalah sepupu jong in yang juga
adik kelasku. Sangat terlihat ia sedang berusaha menahan tangisnya... namun
tangis kim yura pecah saat melihat jong in menghampirinya, jong in yang
kebingungan bertanya mengapa adiknya menangis, aku melihat yura enggan untuk
mengatakannya... dan dengan suara serak ia berkata “jo..joon myun oppa,
mengalami kecelakan”, raut wajah jong in langsung berubah setelah mendengar
kata-kata yura, dan tanpa menunggu lama ia dan yura langsung pergi kerumah
sakit”. Luhan mengambil nafas dalam dan menghembuskanya. “dan beberapa jam
kemudian aku mendapat kabar joon myun hyung sudah tidak ada”. Luhan mengakhiri
ceritanya, dan aku hanya bisa tertunduk mendengarnya.
“dan semenjak itulah sifat jong
in berubah” luhan memecah keheningan diantara kami berdua.
“umm, aku tidak tau harus berkata
apa,tapi terimakasih sudah menjawab rasa penasaranku” aku tersenyum memandang
luhan yang terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri, enth ia mendengarnya atau tidak.
“hyung!! Disini kau rupanya, aku
mencarimu kemana-mana!” seorang namja berperawakan sedang menghampiri kami
dengan nafas tersengal.
“ada apa chen?” luhan bertanya
pada namja itu dan sepertinya ia sudah kembali menjadi luhan yang periang.
“guru olah raga mencarimu, ia
berkata ingin mendiskusikan tentang pertandingan minggu depan” chen menjelaskan
panjang lebar maksud dan tujuannya mencari luhan.
“oke pergilah dulu, aku akan
menyusulmu nanti” jawab luhan.
“tidak ada nanti, palliyo! Guru sudah
menunggu kita” chen menarik lengan luhan dengan kasar.
“baiklah!, sampai nanti min ji,
bye” kata luhan sebelum akhirnya meninggalkan ku sendiri.
Masih tersisa 10 menit sebelum
waktu istirahat berakhir, dan aku masih di sini berusaha memahami cerita luhan
beberapa waktu lalu.
***
Aku terus berusaha untuk tidak menatap
kim jong in selama sisa jam pelajaran. Muncul rasa simpati dalam hatiku, aku
juga memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat aku sayang, dan aku sangat
bergantung padanya, tak pernah seharipun kulewati tanpa merengek manja padanya, mungkin
jika dimata teman-temanku aku dianggap sebagai gadis yang bersifat dewasa, tapi
jika didepan oppaku aku hanyalah gadis kecil manja yang selalu bergelantungan
di lengannya.
“min ji-ah cepat kemasi
barang-barangmu pelajaran sudah selesai” naeun berbisik lembut padaku.
Aku melihat keadaan kelas yang
sudah sibuk mengemasi barang masing-masing bersiap untuk pulang, momen paling
di tunggu selama kau bersekolah.
Aku mengemasi barang barangku
dengan malas, sebenarnya aku sedikit takut bertemu jong in setelah mendengan carita luhan tadi.
Kelas sudah hampir sepi saat aku
memutuskan untuk menghampiri jong in yang sedang mendengarkan musik tanpa
beranjak dari bangkunya.
“jadi mengerjakan tugas?” tanyaku
ragu, aku mengigit bibir bawahku menunggu respon darinya. Beberapa detik
kemudian dia menatapku dan melepas earphone dari telinganya.
“terserah” jawabnya pendek dan
beranjak pergi.
Jawaban macam apa itu? Terserah?!
Berarti aku boleh tidak mengerjakan tugas kelompok ini?, andwae min ji tugas
ini harus di serahkan besok.
Aku berlari mengejar jong in yang
sudah berjalan menjauh, aku sedikit beralari kecil untuk menyamakan langkahnya kaki
panjangnya.
Aku terus mengikutinya tanpa
berkata apa-apa, yap bergulat dengan pikiranku sendiri hingga aku hampir saja menabrak
namja berkulit coklat itu. Saat kulihat sekeliling ternyata aku sudah berada di
parkiran sekolah.
“tunggu di sini!” perintah jong
in, dan pergi berjalan mendekati sebuah motor besar berwarna merah tua senada
dengan tas punggung yang ia pakai, ia menaiki motor itu lalu kembali mendekat padaku. Sangat bisa
dikatakan bahwa dia sangat tampan ketika rambut coklatnya terbelai oleh angin.
“ini pakailah” ia menyodorkan
sebuah helem coklat pada ku, apa ia sudah menyiapkan ini semua?? Umm mungkin
ini hanya kebetualan saja ia membawa dua helm, kebetulan yang sedikit aneh.
Aku dan jong in memakai helm
berwarna senada dan tanpa menungu disuruh aku menaiki motor merah tua itu. dan wuuusssss, motor itu melesat menuju cafe purple.
___---___----____----____----
akhirnya part ini selesai butuh waktu untuk mempostinya karena banyak kerjaan yang menumpuk >.<
dan ternyata kim jong punya kakak laki-laki kim joon myun alias suho,, hehe maap ya suho oppa kalo disini ceritanya kamu udah gak ada.. tapi kamu selalu di hatiku kok wkwkwk *ditimpuk batu
oya chen juga jadi cameo looowww, walopun cuma dikit yang pentingkan nampang.
oya chen juga jadi cameo looowww, walopun cuma dikit yang pentingkan nampang.
dan disini kayaknya kim jong udah keliatan sisi kemanusiaannya, yah setidaknya itu menunjukan bahwa ia manusia,,
udah ahhh dindong-thor jadi ngelantur,, tunggu kelanjutanya yaaa
btw maap klo banyak typo hohoho
btw maap klo banyak typo hohoho
annyeong~ *cium jauuhh dari thor.. chuu~








1 komentar:
Aaaaaaaaa apaan nih thor dikit amat mana yang sweet2 belum keluar huhu nggak terima banget ini masa nanggung banget *langsung di tonjok author* hahahahaha suhoo holang kaya numpang nama hahahaha jadi ini kai holang kaya juga dong yaa ???? *mikir keras* *berdiri di depan tiang bendera* *angin berhembus* *butiran debu* /plaaaak/ wkwkwk paliwaaaaa lanjut lagi ya thornim~
Posting Komentar